BAB VII
Hari-Hari Terakhir, Duka Nasional, dan Warisan yang Tak Pernah Usai
Memperingati 103 Tahun Kelahiran Ibu Tien Soeharto (23 Agustus 1923–23 Agustus 2026)
Oleh: Koni Bardianto
Channel8. Pagi itu, Minggu, 28 April 1996. Hari Raya Idul Adha 1416 Hijriah.
Jakarta masih diselimuti suasana khidmat ketika kabar duka itu menyebar dari mulut ke mulut, dari ruang redaksi ke ruang keluarga, dari radio ke televisi.
Ibu Tien Soeharto wafat.
Bangsa Indonesia kehilangan perempuan yang selama hampir tiga dasawarsa mendampingi Presiden Soeharto dalam menjalankan roda pemerintahan. Beliau mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 05.10 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, setelah mengalami serangan jantung.
Tidak banyak rakyat Indonesia yang mengetahui bagaimana detik-detik terakhir itu.
Yang mereka lihat hanyalah layar televisi yang berubah menjadi hitam putih.
TVRI menayangkan foto Ibu Tien dengan iringan lagu “Gugur Bunga”. Stasiun televisi lain menyesuaikan siarannya. Surat kabar edPisi berikutnya menempatkan berita wafatnya Ibu Tien di halaman depan. Selama beberapa hari, pemberitaan nasional dipenuhi ungkapan belasungkawa dan kilas balik perjalanan hidupnya.
Bagi generasi yang mengalaminya, pagi itu adalah salah satu momen ketika seluruh bangsa seolah berhenti sejenak.
Di Istana Merdeka, suasana berubah menjadi hening.
Para menteri berdatangan.
Pejabat negara silih berganti menyampaikan belasungkawa.
Sahabat-sahabat keluarga hadir tanpa banyak kata.
Di tengah semua itu, Presiden Soeharto berdiri sebagai seorang suami yang kehilangan pendamping hidupnya.
Selama hampir lima puluh tahun, mereka berjalan bersama. Dari rumah-rumah sederhana ketika revolusi.
Dari penugasan militer yang penuh ketidakpastian. Hingga ruang-ruang kenegaraan tempat mereka menerima kepala negara dari berbagai penjuru dunia. Kini, perjalanan panjang itu harus terhenti.
Putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto), dalam berbagai kesempatan mengenang bahwa kepergian sang ibu merupakan salah satu pukulan terberat bagi keluarga. Ia menceritakan bagaimana kabar duka itu diterimanya ketika sedang berada di luar negeri untuk tugas organisasi, lalu segera kembali ke Indonesia guna mengantar ibunya ke tempat peristirahatan terakhir.
Kesedihan itu bukan hanya milik keluarga Cendana. Di berbagai daerah, masyarakat datang ke tempat-tempat yang menyiarkan prosesi pemakaman melalui televisi. Sebagian mengirimkan karangan bunga. Sebagian lagi hanya mampu memanjatkan doa.
Keesokan harinya, 29 April 1996, jenazah diberangkatkan dari Jakarta menuju Solo dengan pesawat TNI Angkatan Udara.
Sepanjang perjalanan menuju Astana Giribangun, Karanganyar, ribuan masyarakat berdiri di tepi jalan.
Mereka datang tanpa undangan. Ada yang membawa bunga. Ada yang melambaikan tangan.
Ada pula yang hanya menundukkan kepala ketika iring-iringan jenazah melintas.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan upacara kenegaraan dan penghormatan militer. Hadir pula sejumlah pemimpin negara sahabat yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada Ibu Negara Indonesia.
Astana Giribangun akhirnya menjadi tempat peristirahatan terakhir Ibu Tien Soeharto. Di sanalah ia dimakamkan, berdampingan dengan makam keluarga besarnya.
Dua belas tahun kemudian, pada Januari 2008, Presiden Soeharto dimakamkan di sisi makam istrinya, sesuai keinginan yang pernah disampaikan keluarga. Keduanya kini beristirahat berdampingan di kompleks yang hingga hari ini masih menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.
Kepergian Ibu Tien tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga.
Banyak kalangan menilai bahwa Indonesia kehilangan seorang tokoh perempuan yang selama puluhan tahun mengabdikan diri melalui kegiatan sosial, kesehatan, pendidikan, dan pelestarian budaya.
Di sisi lain, para sejarawan juga mengingatkan bahwa sosok Ibu Tien tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah Orde Baru, sebuah periode yang hingga kini terus menjadi bahan kajian dengan beragam penilaian. Karena itu, mengenang Ibu Tien berarti pula memahami perjalanan zamannya secara utuh—mengakui jasa-jasa yang terdokumentasi sekaligus menyadari bahwa masa tersebut tetap menjadi ruang diskusi dalam sejarah Indonesia.
Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk menguji sebuah warisan. Tiga puluh tahun telah berlalu. Anak-anak yang dahulu lahir di Rumah Sakit Harapan Kita kini telah menjadi dokter, guru, insinyur, atau pemimpin di bidangnya. Generasi yang dahulu belajar mengenal Indonesia di Taman Mini kini datang kembali bersama anak-anak mereka.
Museum-museum yang pernah ia dukung masih menyimpan kisah tentang Nusantara. Dan setiap tahun, peziarah terus berdatangan ke Astana Giribangun. Mereka datang dengan berbagai alasan. Ada yang ingin mengenang. Ada yang ingin mendoakan.
Ada pula yang ingin melihat dari dekat tempat beristirahatnya dua tokoh yang pernah mewarnai perjalanan bangsa.
Mungkin inilah makna sesungguhnya dari sebuah pengabdian. Ia tidak berhenti ketika seseorang berpulang. Ia hidup dalam karya.
Ia tumbuh dalam kenangan. Ia berlanjut melalui lembaga-lembaga yang masih melayani masyarakat. Melalui taman yang masih dipenuhi tawa anak-anak. Melalui rumah sakit yang setiap hari menyelamatkan nyawa.
Melalui nilai-nilai kesederhanaan yang diwariskan kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat seseorang karena jabatan yang pernah diembannya.
Sejarah juga mengingat bagaimana ia menjalani hidupnya.
Dan bagi banyak orang yang pernah mengenal atau merasakan buah pengabdiannya, Siti Hartinah Soeharto akan selalu dikenang sebagai seorang ibu yang memilih mengabdi dalam ketenangan, meninggalkan jejak bukan dengan gemuruh kata-kata, melainkan melalui karya yang terus memberi manfaat.
(Bersambung ke Bab VIII: “Epilog – Jejak Seorang Ibu, Cermin Sebuah Bangsa”)






