Bisnis

IHSG Jebol di Bawah 5.000: BEI Keluarkan Saham “Gorengan” dari Indeks

×

IHSG Jebol di Bawah 5.000: BEI Keluarkan Saham “Gorengan” dari Indeks

Sebarkan artikel ini
Bursa Efek Indonesia (BEI) ( Indonesia Stock Exchange) adalah bursa efek yang beroperasi di Indonesia yang berkantor pusat di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan.

Channel8.co.id, Jakarta – Senin kemarin (19/10) adalah hari yang berat buat pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — angka rata-rata yang menggambarkan gerak seluruh saham di Bursa Efek Indonesia — ditutup di level 4.996,61, turun 188,50 poin atau 3,64 persen. Artinya satu hal yang simbolis tapi bikin deg-degan: IHSG jebol di bawah 5.000.

Sederhananya, begini. IHSG itu seperti termometer pasar. Kalau termometernya jatuh sedalam ini dalam sehari, artinya demamnya pasar sedang tinggi-tingginya.

Rupiah ikut tertekan: ditutup melemah 19 poin (−0,11%) ke Rp18.046 per dolar AS, dari posisi sebelumnya. Tekanan ganda: saham jatuh, rupiah ikut melemah.

Nah, di sinilah bagian yang sering bikin bingung — dan justru paling penting. Siapa itu MSCI, dan kenapa pasar segugup ini?

MSCI itu lembaga global yang bikin “rapor” buat pasar modal tiap negara. Indonesia selama ini berstatus emerging market (pasar berkembang) — status yang bikin dana-dana investasi global otomatis menaruh uangnya di sini lewat indeks. Tapi MSCI sedang membuka konsultasi untuk menurunkan Indonesia ke status standalone — semacam “kelas khusus” yang jauh kurang menarik buat dana global. Konsultasinya dibuka sampai 30 April 2027, keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Kalau beneran turun kelas, dana asing bisa keluar rame-rame. Itu yang ditakutkan pasar.

Maka Senin kemarin, BEI dan OJK mengadakan pertemuan virtual dengan MSCI pada pukul 15.30 WIB. Hasilnya: BEI menyiapkan dua inisiatif baru. Pertama, setiap publikasi pemegang saham di atas 1 persen wajib mencantumkan status afiliasi atau non-afiliasi — biar publik tahu siapa terhubung dengan siapa. Kedua, dan ini yang paling berani: sekitar 80 saham kategori HSC akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Bobotnya saat ini sekitar 18 persen terhadap indeks. Tanggal efektifnya belum diumumkan — BEI bilang “akan disampaikan segera”. Perlu digarisbawahi: ini bukan delisting (penghapusan dari bursa) — sahamnya tetap diperdagangkan, cuma gerakannya tidak lagi memengaruhi IHSG. Dan kalau suatu saham keluar dari daftar HSC, ia bisa masuk kembali ke perhitungan.

Analoginya begini, Guys: IHSG itu cermin pasar. Kalau cerminnya kotor oleh saham-saham yang harganya digerakkan segelintir pihak, cerminnya perlu dibersihkan. Itulah yang sedang dilakukan BEI: membersihkan cermin.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menolak membeberkan detail pembicaraannya dengan MSCI. Jadi isi lengkap pertemuan itu belum dibuka ke publik — yang kita tahu hanya inisiatif-inisiatif yang diumumkan BEI sesudahnya.

UPDATE — Usai Temui MSCI, BEI: Saham “Gorengan” Dicoret dari Hitungan IHSG. Pertemuan daring BEI dan MSCI sore ini (Senin 19/10) memang belum dibuka isinya — Dirut BEI sendiri yang bilang begitu. Tapi keluar dari situ ada dua kabar resmi: pertama, daftar pemegang saham (kepemilikan 1% ke atas) bakal dilengkapi keterangan afiliasi atau tidak; kedua, sekitar 80 saham berlabel HSC alias yang hobi disebut saham “gorengan” akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Tenang, ini bukan delisting — sahamnya tetap diperdagangkan, cuma pergerakannya nggak lagi ikut menggerakkan indeks. BEI sendiri yang memperkirakan kelompok ini berbobot sekitar 18% terhadap IHSG. Kapan berlakunya? Belum diumumkan — BEI bilang “akan disampaikan segera”. Jadi: rencana resmi, bukan kebijakan yang sudah jalan.

Ada dua respons lain yang berjalan paralel. Pertama, batas auto rejection bawah (ARB) — batas maksimal penurunan harga saham dalam sehari — diturunkan dari 15 persen menjadi 7 persen, berlaku mulai Senin kemarin hingga 31 Desember 2026 (SK Direksi BEI No. Kep-00157/BEI/10-2026). Tujuannya: meredam kepanikan jual. Kedua, Presiden Prabowo memanggil para pejabat ekonomi dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) ke Istana pada Senin kemarin — tampak hadir Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi, Gubernur BI, Menkeu Suahasil Nazara, dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Tapi hingga Senin malam, belum ada keterangan resmi soal hasil rapat itu. Kita tulis apa adanya: rapat terjadi, hasilnya belum diumumkan. Dukungan OJK untuk langkah ini sudah ada. Catat: batas kenaikannya (ARA) tidak berubah, dan ini batas per saham, bukan batas untuk indeks.

Untuk tau dulu baru ngomong: sehari sebelumnya, Minggu (18/10), OJK, BEI, dan KSEI bahkan sampai menggelar rapat koordinasi darurat. Artinya: otoritas pasar sudah siaga penuh sejak akhir pekan.

Pertanyaan besarnya sekarang: cukupkah “membersihkan cermin” untuk mengembalikan kepercayaan? Jawabannya baru akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan. Yang jelas, pasar sedang menonton — dan kali ini, otoritas tidak tinggal diam. (Redaksi C8)

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *