Channel8.coid | Bisnis
Kalau Kamis kemarin disebut “Kamis berdarah”, maka Jumat (16/10) adalah harinya yang lebih berdarah lagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10 — kehilangan 678,67 poin dalam sehari. Ini adalah kejatuhan harian terdalam dalam 28 tahun terakhir, alias sejak krisis moneter 1998. Bahkan lebih dalam dari kejatuhan 10,38 persen saat krisis keuangan global 2008.
Seberapa panik pasar hari ini? Pagi-pagi IHSG sudah dibuka terjun 8,01 persen ke 5.393,92 — sampai-sampai Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan alias trading halt selama 30 menit untuk meredam kepanikan. Buat yang belum familiar: trading halt itu seperti tombol pause darurat — perdagangan dihentikan sejenak supaya investor tidak jual-beli dalam keadaan panik buta. Tapi jeda itu tidak menenangkan siapa pun: setelah dibuka lagi, IHSG terus melorot sampai penutupan. Tercatat 812 saham melemah, hanya 11 yang menguat. Nilai transaksi membengkak ke Rp31,75 triliun — tanda aksi jual besar-besaran.
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: apa yang bikin pasar sepanik itu? Jawabannya tiga huruf: MSCI.
MSCI — Morgan Stanley Capital International — adalah penyedia indeks global yang menjadi acuan dana-dana investasi raksasa dunia. Kamis (15/10) kemarin, MSCI mengumumkan membuka konsultasi atas usulan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri/terpisah). Alasannya, menurut MSCI: kekhawatiran soal transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi, dan penegakan aturan di pasar modal.
Sederhananya, maksudnya begini. Dana-dana raksasa dunia — dana pensiun, reksa dana global — banyak yang berinvestasi mengikuti indeks MSCI secara otomatis. Kalau Indonesia dikeluarkan dari indeks Emerging Market, dana-dana itu otomatis ikut menjual saham Indonesia — bukan karena perusahaannya jelek, tapi karena “aturannya” begitu. Analis Mirae Asset Sekuritas memperkirakan potensi dana pasif yang keluar mencapai US$3 miliar kalau skenario itu benar-benar terjadi.
Efeknya tidak berhenti di saham. Rupiah ikut tertekan dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Menurut Bloomberg Technoz, investor asing sudah mencatat jual bersih (net sell) lebih dari Rp110 triliun sepanjang tahun berjalan hingga Oktober — disebut sebagai keluarnya dana asing terbesar sejak 1998.
Lalu apa kata otoritas? Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan OJK menghormati independensi dan penilaian MSCI, sekaligus berkomitmen melanjutkan reformasi pasar modal dan memperkuat penegakan hukum. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menambahkan sejumlah masukan MSCI sejalan dengan agenda reformasi integritas yang memang sedang berjalan. Dari BEI, Direktur Utama Jeffrey Hendrik bilang bursa akan meminta klarifikasi kepada MSCI soal dasar pertimbangannya — sambil menegaskan berbagai langkah perbaikan sudah dilakukan dan diapresiasi investor global.
Dan ini penting, guys: status Indonesia BELUM turun. MSCI baru membuka konsultasi — prosesnya berlangsung sampai 30 April 2027, dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Sampai keputusan itu keluar, Indonesia masih berstatus Emerging Market.
Sederhananya, maksudnya begini: pasar hari ini tidak jatuh karena ekonominya runtuh dalam sehari — ia jatuh karena kepercayaan. MSCI memberi waktu sampai Juni 2027 untuk membuktikan itu. Pertanyaannya: cukupkah waktu itu untuk berbenah, sebelum dana-dana raksasa benar-benar angkat kaki? (Redaksi C8)
Views: 1






