Channel8.co.id | Human
Sabtu (17/10), di sebuah rumah duka di Probolinggo, Aqniz Ruri Ambarwati — perwakilan keluarga Sefriel Ardiansyah — mengajukan satu pertanyaan yang menusuk: “Yang pertama, kenapa adik kami Sefriel Ardiansyah ini, yang sedang bekerja di Artotel, bisa ada di kejadian kebakaran? Itu yang kami pertanyakan.”
Sefriel baru 19 tahun. Ia karyawan hotel Artotel, bagian engineering — bahasa gampangnya: teknisi, urusan perawatan gedung. Bukan pemadam kebakaran. Tapi Kamis (15/10), ia ikut upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), wilayah Sukapura, Probolinggo. Ia tidak pulang.
Ia tidak sendirian. Empat orang gugur dalam insiden pemadaman hari itu: Sukaris (55), petugas TNBTS; Hendra Rony, petugas TNBTS yang sempat menjalani perawatan sebelum meninggal; Wisnu Yuda Pratama, karyawan hotel; dan Sefriel. Tiga orang lainnya luka bakar — dua di antaranya kondisinya serius, dirujuk ke RSUD dr. Soetomo di Surabaya untuk perawatan intensif.
Kronologinya, menurut keterangan resmi: tim gabungan — petugas TNBTS, relawan Masyarakat Peduli Api, dan relawan karyawan hotel — bergerak memadamkan api sejak pagi. Sekitar pukul 13.30 WIB, angin kencang tiba-tiba berbelok arah. Api merambat cepat dan mengepung enam anggota tim yang berada di garis depan. Empat gugur, dua luka berat.

Keluarga Sefriel bertemu Kapolres Probolinggo, AKBP Asmida Rizky Siregar, pada 17/10. Aqniz meminta penyidik mendalami kronologi kejadian, alasan Sefriel berada di lokasi, dan apa sebenarnya tugasnya saat itu — sekaligus menyampaikan terima kasih atas kehadiran Kapolres yang memberi dukungan. Sementara itu, Polda Jawa Timur menyelidiki dugaan kelalaian dalam peristiwa ini.
Pertanyaan keluarga ini wajar — dan penting. Anak 19 tahun, karyawan hotel bagian teknisi: siapa yang menugaskannya ke medan api? Apakah memadamkan kebakaran termasuk pekerjaannya, atau ia datang atas inisiatif sendiri sebagai relawan? Sampai naskah ini ditulis, pertanyaan itu belum terjawab. Polisi masih menyelidiki.
Ini juga pola yang berulang. Setiap musim kebakaran hutan dan lahan, relawan dan petugas non-pemadam berdiri di garis depan dengan risiko paling tinggi. Kementerian Kehutanan sendiri sudah menegaskan: keselamatan personel harus jadi prioritas utama dalam setiap operasi. Di Bromo, api bahkan masih belum terkendali hingga hari ini (18/10) — sampai-sampai pengelola TNBTS membatasi akses wisata ke Puncak Penanjakan sejak Sabtu (17/10) pukul 21.30 WIB; wisatawan untuk sementara hanya boleh sampai kawasan Lemah Pasar.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris — dalam liputan Tribun — menyebut para korban sebagai pahlawan, karena mereka berupaya menghentikan api agar tidak meluas dan mengancam permukiman warga. Pahlawan. Tapi keluarga Sefriel hanya menginginkan satu hal: kejelasan. Dan itu hak mereka sepenuhnya. (Redaksi C8)
Views: 1






