Channel8.co.id | Probolinggo
Kamis kemarin (15/10), di lereng Pusung Lingker kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dua belas orang berangkat pagi-pagi membawa peralatan pemadam. Mereka petugas Balai Besar TNBTS, relawan Masyarakat Peduli Api, dan karyawan hotel di sekitar kawasan. Misi mereka sederhana: memadamkan titik api yang terpantau sejak pukul 09.00 WIB, sebelum meluas.
Enam dari mereka tidak kembali dengan selamat. Empat gugur, dua luka bakar serius.
Namanya perlu kita sebut satu per satu. Sukaris (55) — operator layanan operasional Balai Besar TNBTS. Hendra Rony Wagiyanata — yang akrab disapa Cak Panda — petugas TNBTS dari tim Manggala Agni, garda depan pemadam kebakaran hutan. Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19) — dua anak muda, relawan yang sehari-hari bekerja di penginapan sekitar Bromo, dan dikenal sebagai atlet panjat tebing. Tiga orang ditemukan meninggal di lokasi; Hendra mengembuskan napas terakhir saat dievakuasi ke rumah sakit.

Kronologinya, menurut Kepala BPBD Probolinggo Oemar Sjarief, berjalan seperti ini. Pukul 10.20 WIB tim gabungan bergerak menuju titik api. Semuanya masih terkendali. Lalu pukul 13.30 — angin kencang tiba-tiba berbelok arah. Api yang tadinya bisa dihadapi, merambat cepat dan mengepung enam anggota tim di garis depan. Mereka terjebak di antara kobaran dan asap pekat. Pukul 14.29, sebagian petugas berhasil menerobos masuk — dan menemukan tiga rekannya sudah tidak bernyawa, tiga lainnya luka bakar.
Nah, di sini bagian yang perlu dipahami. Orang mungkin bertanya: kok petugas terlatih bisa terjebak? Sederhananya, maksudnya begini: api hutan bukan api kompor — perilakunya ditentukan angin, dan angin di lereng gunung bisa berubah dalam hitungan menit. Prosedur operasi sudah diikuti, kata Bupati Probolinggo Muhammad Haris, tapi “api yang meluas dan perubahan arah angin yang cepat membuat kelompok tersebut terpisah.” Di lapangan, tidak ada tombol undo.
Duka menyelimuti Jawa Timur. Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan belasungkawa dan menyiapkan santunan Rp10 juta untuk keluarga masing-masing korban. “Pengabdian mereka menjadi pengingat akan besarnya dedikasi orang-orang yang berada di garis depan dalam penanganan bencana,” katanya. Pemerintah Kabupaten Probolinggo menanggung biaya pengobatan dua korban luka — Munawi dari Masyarakat Peduli Api dan Suraji, sekuriti hotel setempat — yang kini dirawat intensif.
Mungkin kita tidak pernah mendengar nama mereka sebelum Kamis kemarin. Mereka bukan pejabat, bukan selebritas. Mereka orang-orang yang setiap musim kemarau berdiri di antara api dan hutan — supaya Bromo tetap hijau, supaya asap tidak makin menebal, supaya kita yang jauh di kota bisa bernapas sedikit lebih lega.
Sederhananya, maksudnya begini: di balik setiap angka statistik karhutla — hektare terbakar, titik panas, kasus ISPA — ada manusia yang mempertaruhkan nyawa memadamkannya. Empat di antaranya tidak pulang Kamis kemarin. Sebut nama mereka, ingat mereka: Sukaris, Cak Panda, Wisnu, Sefriel. (Redaksi C8)
Views: 1






