Bisnis

Kamis Berdarah di Pasar Keuangan: IHSG Ambles 2%+, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000

×

Kamis Berdarah di Pasar Keuangan: IHSG Ambles 2%+, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tekanan pasar keuangan Indonesia ketika IHSG melemah tajam dan rupiah mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Tekanan inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor yang dicermati investor.

Channel8.co,id | Bisnis

Kamis kemarin (15/10) adalah hari yang berat buat pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles dalam, rupiah nyaris menyentuh angka psikologis Rp18.000 per dolar AS — dan Bank Indonesia sampai turun tangan.

Mulai dari bursa saham. Pada penutupan sesi I, IHSG anjlok 128,30 poin atau 2,16% ke level 5.814,72. Sebanyak 621 saham melemah, hanya 80 yang menguat, dan 89 stagnan. Semua indeks sektoral ada di zona merah — sektor energi mencatat koreksi terdalam 3,71%, disusul barang baku 3,40%. Nilai transaksi sesi I mencapai Rp8,57 triliun.

Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: kok inflasi Amerika bisa bikin saham Indonesia jatuh? Sederhananya, maksudnya begini. Inflasi AS bulan September tercatat 3,7% secara tahunan — lebih tinggi dari perkiraan pasar 3,6%. Inflasi yang panas bikin bank sentral AS (The Fed) cenderung menahan suku bunga tetap tinggi. Akibatnya dolar AS menguat, dan investor asing menarik modalnya dari pasar negara berkembang seperti Indonesia untuk kembali ke dolar.

Dan rupiah memang tertekan. Kamis pagi, rupiah dibuka di kisaran Rp17.948–17.956 per dolar AS — tinggal selangkah lagi ke Rp18.000. Sehari sebelumnya (Rabu), rupiah ditutup di Rp17.903.

Melihat itu, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea menegaskan BI terus melakukan intervensi secara konsisten: lewat transaksi NDF di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, plus pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Kata analis, tekanannya belum tentu selesai. BRI Danareksa Sekuritas mencatat IHSG sudah menembus level penopang (support) 5.850 — dan kalau tekanan berlanjut, koreksi bisa menuju 5.745, bahkan 5.616. Tapi ingat, guys: ini perkiraan analis, bukan ramalan pasti.

Sederhananya, maksudnya begini: pasar sedang gelisah menunggu sinyal dari Amerika. Sampai ada kejelasan, rupiah dan IHSG kemungkinan tetap bergerak fluktuatif. Buat kita yang bukan trader, pelajarannya sederhana: inilah kenapa angka inflasi di negara seberang bisa terasa sampai ke dompet kita.

BACA JUGA: IHSG Sempat Nyungsep ke 5.828, Lalu Bangkit ke 5.925: Selasa yang Bikin Jantungan

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *