Bisnis

IHSG Sempat Nyungsep ke 5.828, Lalu Bangkit ke 5.925: Selasa yang Bikin Jantungan

×

IHSG Sempat Nyungsep ke 5.828, Lalu Bangkit ke 5.925: Selasa yang Bikin Jantungan

Sebarkan artikel ini

Channel8.co.id, Kalau Senin kemarin bikin manyun, Selasa (13/10) ini bikin jantungan. IHSG — Indeks Harga Saham Gabungan, angka yang mencerminkan pergerakan seluruh saham di Bursa Efek Indonesia — sempat nyungsep jauh, lalu bangkit lagi di sore hari.

Ceritanya begini. Senin (12/10), IHSG sudah anjlok 2,59% ke 5.936,14. Selasa pagi, tekanan berlanjut. IHSG dibuka di 5.914,98, lalu terus merosot sampai menyentuh 5.828,68 — titik terendah sejak awal Juli 2026. Di titik itu, IHSG sudah terkoreksi sekitar 1,81% dibanding penutupan Senin.

Tapi kemudian sesuatu berubah. Tekanan jual mulai mereda menjelang penutupan, dan IHSG berhasil bangkit. Penutupannya: 5.925,98, turun tipis 0,17% (minus 10,17 poin) dari Senin. Nilai transaksinya Rp10,39 triliun, dengan volume 35,84 miliar saham.

Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung. Coba perhatikan: pada penutupan Selasa, saham yang menguat ada 336, yang melemah 290, sisanya stagnan. Lho, kok saham yang naik lebih banyak, tapi indeksnya tetap turun? Jawabannya: IHSG itu dibobot berdasarkan kapitalisasi pasar — sederhananya, saham perusahaan raksasa punya “bobot” lebih berat dalam indeks dibanding saham perusahaan kecil. Jadi kalau saham-saham besar yang tertekan, indeks bisa tetap merah meski jumlah saham yang naik lebih banyak.

Terus, kenapa pasar akhirnya bisa bangkit? Menurut Phintraco Sekuritas (dikutip Bloomberg Technoz), sentimen negatif masih sama — ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga minyak yang bertahan tinggi, ekspektasi data inflasi AS, dan isu MSCI. Tapi ada dua kabar yang meredakan tekanan: rupiah ditutup menguat tipis 0,04% ke Rp17.896 per dolar AS menurut Phintraco, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS 10 tahun turun 1,22% ke 5,195%. Yield itu, sederhananya, bunga yang didapat investor dari memegang obligasi AS — kalau turun, tekanan ke pasar saham negara berkembang ikut sedikit mereda.

Phintraco memperkirakan IHSG akan bergerak sideways — mondar-mandir di rentang 5.800–6.000 — selama masih di bawah 6.000. Mirae Asset Sekuritas melihat ada peluang technical rebound terbatas. Technical rebound itu, sederhananya, pantulan naik sesaat setelah kejatuhan tajam — bukan jaminan tren sudah berbalik. Keduanya adalah perkiraan analis, bukan kepastian.

Kenapa cerita ini penting buat kamu yang bukan pemain saham? Karena yang main saham sekarang bukan cuma orang kaya. Menurut Bloomberg Technoz yang mengutip Bloomberg Businessweek Indonesia, semakin banyak kelas menengah yang menaruh asetnya di saham — porsinya naik dari 11,7% menjadi 19,2%. Kripto mencapai 10,3%. Sementara porsi tabungan biasa anjlok dari 83,9% menjadi 67,8%. Data KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) per Agustus 2026 mencatat 31,13 juta investor pasar modal. Artinya: goyangan IHSG kini dirasakan langsung oleh jutaan orang biasa yang sedang berusaha agar tidak turun kelas — termasuk mungkin kamu, atau teman di sebelahmu.

Sederhananya, maksudnya begini: Selasa ini pasar menunjukkan dua wajah sekaligus — pagi yang panik, sore yang menahan napas. Bangkitnya IHSG dari 5.828 ke 5.925 adalah kabar lega, tapi belum berarti badai lewat. Dan seperti biasa: ini berita, bukan saran beli atau jual.

UPDATE Rabu pagi (hingga 08.00 WIB 14/10): Untuk perdagangan Rabu (14/10), Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak sideways di 5.800–6.000 selama di bawah 6.000. MNC Sekuritas memperkirakan penguatan terdekat menguji 5.943–5.978, dengan waspada koreksi lanjutan ke 5.744–5.794. Pasar hari ini juga mencermati rilis CPI AS September pada Rabu 14/10, dengan konsensus inflasi tahunan naik menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus, menurut BRI Danareksa. Semua ini adalah perkiraan analis, bukan kepastian.

(Redaksi C8)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *