Explain Channel 8

Danantara Kumpulkan 131 CEO Teknologi Global di Jakarta, Apa yang Sebenarnya Dicari?

×

Danantara Kumpulkan 131 CEO Teknologi Global di Jakarta, Apa yang Sebenarnya Dicari?

Sebarkan artikel ini

Ringkasan tulisan: Danantara menggelar forum teknologi dan investasi pertamanya, DTIIF 2026, di Jakarta pada 26–28 Oktober 2026 dengan target 54 nota kesepahaman di enam sektor prioritas. Ini penting karena forum ini bukan sekadar ajang konferensi — ia adalah ujian apakah riset kampus, perusahaan negara, dan modal global benar-benar bisa bertemu menjadi industri nyata di Indonesia, bukan sekadar dokumen yang ditandatangani lalu dilupakan.

Channel8.co.id, Jakarta, — Kalau kamu membaca headline “131 CEO teknologi global datang ke Jakarta” dan membayangkan mereka sekadar datang untuk foto bersama, wajar — tapi itu bukan gambaran yang tepat. Ada sesuatu yang lebih konkret yang sedang dicari di forum ini, dan memahaminya membantu kita menilai apakah forum semacam ini pantas dirayakan atau justru patut ditagih hasilnya.

Forum itu bernama Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 — forum pertama yang digelar Danantara Indonesia, singkatan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, lembaga pengelola investasi negara. Forum ini berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di Fairmont Jakarta, dengan tema “Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth” — sederhananya, berinvestasi untuk hari esok lewat teknologi, inovasi, dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Siapa yang datang? Menurut Danantara, forum ini diperkirakan dihadiri lebih dari 1.500 peserta, termasuk 170 inovator global, 131 CEO perusahaan teknologi global, 67 pusat riset dan inovasi, serta lebih dari 50 Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hadir pula peraih Nobel, investor sovereign dan institusional, pemimpin pemerintahan, mitra akademik, dan perusahaan rintisan (startup). Salah satu nama yang disebut dalam laporan adalah Peter Howitt, peraih Nobel Ekonomi 2025 sekaligus profesor emeritus Brown University, Amerika Serikat, yang meneliti hubungan inovasi teknologi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Lalu, apa yang dibahas? Enam sektor prioritas menjadi fokusnya, antara lain ketahanan energi; pangan, pertanian, dan kesehatan; hilirisasi mineral serta material maju dan semikonduktor; transportasi dan infrastruktur; perbankan dan teknologi finansial; serta kecerdasan buatan (AI), infrastruktur digital, dan telekomunikasi. Sederhananya: dari makanan dan energi yang kita butuhkan setiap hari, sampai ke chip semikonduktor dan pusat data — komponen dan infrastruktur yang membuat teknologi modern bisa berjalan.

Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: apa ukuran sukses forum seperti ini? Jawabannya, menurut Danantara sendiri, bukan jumlah peserta atau meriahnya acara — melainkan berapa banyak kesepakatan yang benar-benar dijalankan. Chief Technology Officer Danantara sekaligus Ketua DTIIF 2026, Sigit Puji Santosa, sudah menegaskan tolok ukur itu sejak konferensi pers 19 Oktober 2026: “Jadi ukuran keberhasilan kita adalah berapa banyak kesepakatan yang kita jalankan pada saat forum ini. Bagaimana kita ada, apakah itu nota kesepahaman atau perjanjian awal atau bahkan perjanjian yang bisa segera kita aktifkan.”

Pada hari pertama, Senin, 26 Oktober 2026, angka targetnya mulai konkret. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa sebanyak 54 nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) ditargetkan ditandatangani selama forum, dengan lebih dari 30 rektor perguruan tinggi hadir. MoU itu, sederhananya, dokumen kesepakatan awal untuk bekerja sama — belum tentu kontrak investasi yang dananya langsung cair. Pemerintah menekankan kerja sama itu harus menghasilkan kegiatan dan manfaat yang terukur, bukan berhenti pada penandatanganan dokumen. Jadi, jangan menulis “54 investasi sudah masuk” — yang benar: 54 kesepakatan ditargetkan, dan realisasinya bergantung pada tindak lanjut, kelayakan komersial, dan kesiapan pendanaan.

Target investasi: CTO Danantara Sigit Puji Santosa menyebut target investasi proyek industri prioritas sebesar US$20–30 miliar atau sekitar Rp361–542 triliun dalam 2–3 tahun ke depan, dengan lebih dari 40 proyek strategis yang sebagian besar sudah memasuki tahap studi kelayakan penuh. Angka ini adalah target, bukan investasi yang sudah terealisasi. (Sumber: InvestorTrust dan CNBC Indonesia, 26/10)

Presiden Prabowo Subianto sendiri menyampaikan arahan lewat Brian dalam forum ini: penguatan kerja sama antara lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri menjadi prioritas untuk mempercepat pengembangan teknologi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menambahkan kalimat yang merangkum logika forum ini: “Inovasi saja tidak cukup; inovasi memerlukan investasi, teknologi memerlukan adopsi, dan pertumbuhan harus berkelanjutan guna menciptakan nilai jangka panjang.”

Kenapa logika itu penting? Sigit memberi contoh yang gamblang soal pusat data. Kalau Indonesia hanya menyewakan lahan untuk pusat data, investasi US$3 miliar hingga US$4 miliar hanya menghasilkan pendapatan sekitar US$100 juta hingga US$150 juta. Tapi bila perusahaan nasional terlibat dalam pengembangan ekosistem pusat data — termasuk semikonduktor dan sistem kendali AI — pendapatannya diproyeksikan bisa mencapai US$1,5 miliar hingga US$7 miliar per tahun. Sederhananya: menjadi tuan tanah itu murah nilainya; menjadi bagian dari rantai teknologinya — itulah yang mahal nilainya. Angka-angka itu adalah proyeksi yang disampaikan Sigit, bukan pendapatan yang sudah terjadi.

Agenda tiga harinya pun disusun berurutan: hari pertama soal pandangan strategis dan kemitraan global, hari kedua soal kolaborasi teknologi, inovasi, dan investasi, dan hari ketiga soal kaum muda, inklusi, dan masa depan berkelanjutan. Jadi, kalau kamu ingin menilai forum ini dengan adil, jangan menilai dari hari pertama saja. Tunggu sampai 28 Oktober: berapa MoU yang benar-benar ditandatangani, berapa yang berlanjut menjadi proyek, dan berapa yang menyentuh kehidupan sehari-hari — lapangan kerja, teknologi yang dipakai industri dalam negeri, dan harga yang lebih terjangkau bagi kita. Sampai di situ, DTIIF baru bisa disebut berhasil — atau sekadar ramai. (redaksi C8)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Explain Channel 8

Rabu, 28 Oktober 2026, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” — dan ya, besok bukan hari libur. Ini penting karena ikrar yang dibacakan para pemuda pada 1928 — satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa — adalah fondasi kenapa kita yang berbeda-beda suku dan bahasa bisa menyebut diri satu Indonesia, dan tema tahun ini mengajak pemuda menerjemahkan ikrar itu ke tindakan nyata.

Explain Channel 8

Indeks Harga Saham Gabungan naik 4,90 persen dalam sepekan perdagangan 19–23 Oktober 2026 ke level 5.439,258 — tertinggi dibanding bursa global sepekan itu — padahal investor asing justru mencatat jual bersih. Ini penting karena kenaikan indeks dan arah uang asing bisa berjalan berlawanan, dan memahami siapa yang membeli di balik kenaikan itu membantu kita tidak salah membaca sinyal pasar.

Explain Channel 8

Selisih Rp205.000 antara harga beli dan buyback emas Antam bukan potongan tersembunyi, melainkan selisih antara dua harga yang berbeda: harga Antam menjual emas ke kamu dan harga Antam membeli kembali emas dari kamu. Ini penting dipahami sebelum transaksi apa pun, karena selisih inilah yang membuat emas bukan instrumen untuk dibeli hari ini dan dijual besok pagi.

Explain Channel 8

Wacana memisahkan pileg dan pilpres kembali menguat di DPR — padahal sejak 2019 kita memilih dengan sistem serentak “5 kotak”. Explain kali ini mengurai sejarahnya: kenapa 2009 dan 2014 dipisah, kenapa 2019 dan 2024 digabung, apa kata Mahkamah Konstitusi, dan satu hal penting yang sering ketukar — wacana “pileg dulu baru pilpres” itu beda dengan putusan MK. Biar pas 2029 tiba, kita nggak cuma ikut-ikutan bingung.

Explain Channel 8

Setiap 22 Oktober Indonesia memperingati Hari Santri — tahun ini (22/10/2026) upacara digelar serentak pukul 07.00 dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tanggalnya merujuk pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945: fatwa KH Hasyim Asy’ari yang menyatakan membela kemerdekaan sebagai fardhu ‘ain, yang kemudian membakar Pertempuran Surabaya 10 November 1945.