Ringkasan Tulisan : TPT anak muda usia 15–24 tahun mencapai 17,37 persen pada Mei 2026. Survei terbaru mengungkap hambatan mencari kerja, mulai dari persaingan, keterbatasan lowongan hingga akses rekrutmen.
Channel8.co.id — Explain Channel8
JAKARTA — Lulus kuliah, ijazah sudah di tangan, CV berkali-kali diperbarui, dan lamaran dikirim ke berbagai perusahaan. Namun, panggilan wawancara tak kunjung datang. Kalaupun mendapat kesempatan, persaingan ketat dan persyaratan pengalaman kerja sering menjadi tantangan tersendiri bagi pencari kerja pemula.
Bagi banyak anak muda Indonesia, mendapatkan pekerjaan pertama kini bukan sekadar persoalan memiliki ijazah. Ada persoalan lain yang ikut menentukan: ketersediaan lowongan, kesesuaian keterampilan, akses informasi, pengalaman, hingga besaran gaji yang ditawarkan.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan satu kondisi yang menarik. Tingkat pengangguran nasional memang berada pada angka 4,65 persen pada Mei 2026. Namun, tingkat pengangguran kelompok usia 15–24 tahun justru mencapai 17,37 persen.
Artinya, persoalan mendapatkan pekerjaan masih menjadi tantangan serius bagi kelompok usia muda, meskipun indikator pengangguran nasional menunjukkan angka yang lebih rendah.
Lalu, mengapa anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan? Apakah lapangan kerja yang tersedia belum cukup, atau ada kesenjangan antara kemampuan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan?

Pengangguran nasional turun, tetapi anak muda menghadapi tantangan lebih besar
BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026.
Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang, dengan penduduk bekerja sebanyak 148,19 juta orang. Rata-rata upah buruh tercatat Rp3,39 juta per bulan.
Namun, jika dilihat berdasarkan kelompok umur, gambarannya berbeda.
TPT kelompok usia 15–24 tahun meningkat dari 16,36 persen pada Februari 2026 menjadi 17,37 persen pada Mei 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penurunan pengangguran secara nasional belum otomatis dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok usia.
Perlu dipahami, TPT merupakan persentase penganggur terhadap angkatan kerja pada kelompok umur tertentu, bukan persentase seluruh penduduk muda Indonesia.
Dengan kata lain, tantangan mencari pekerjaan bagi anak muda perlu dilihat secara lebih spesifik, tidak cukup hanya dengan membaca angka pengangguran nasional.
Survei: 74,7 persen responden muda merasa sulit mencari kerja
Gambaran lain datang dari Survei Pemuda Indonesia 2026 yang dilakukan Lembaga Survei KedaiKOPI pada 23–29 September 2026.
Survei tersebut melibatkan 1.213 responden Gen Z dan Milenial berusia 17–45 tahun dari berbagai wilayah Indonesia.
Hasilnya, sebanyak 74,7 persen responden menilai mencari pekerjaan saat ini sulit. Hanya 25,3 persen yang merasa mudah mendapatkan pekerjaan.
Ketika ditanya mengenai hambatan yang dihadapi, kebutuhan akan koneksi atau yang kerap disebut “orang dalam” menempati urutan pertama dengan 56 persen.
Berikutnya, keterbatasan lapangan kerja disebut oleh 48 persen responden, persaingan yang tinggi 41,3 persen, dan batasan usia 39,2 persen.
Hambatan lain meliputi tawaran gaji yang dinilai terlalu rendah, ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, kurangnya pengalaman, serta keterbatasan informasi lowongan.
Temuan ini perlu dibaca secara proporsional. KedaiKOPI menggunakan sampel nonprobabilitas yang disebarkan secara daring. Karena itu, hasilnya merupakan gambaran pandangan responden, bukan estimasi pasti yang mewakili seluruh anak muda Indonesia.
Angka 56 persen yang menyebut koneksi sebagai hambatan, misalnya, tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh proses rekrutmen di Indonesia berlangsung melalui nepotisme.
Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan pentingnya keterbukaan informasi lowongan dan proses seleksi yang transparan.
Bukan hanya ingin menjadi karyawan, banyak anak muda ingin berwirausaha
Ada temuan menarik lainnya dari survei KedaiKOPI.
Ketika ditanya mengenai pekerjaan yang ingin dijalani, sebanyak 32,8 persen responden memilih menjadi pengusaha atau wirausaha.
Pilihan tempat kerja juga menunjukkan kecenderungan serupa. Sebanyak 43,9 persen responden menyatakan ingin bekerja untuk diri sendiri dengan membangun usaha.
Temuan ini memperlihatkan bahwa sebagian anak muda mulai melihat wirausaha sebagai pilihan karier, bukan semata-mata sebagai alternatif ketika tidak mendapatkan pekerjaan formal.
Namun, membangun usaha tentu memiliki tantangan tersendiri. Modal, akses pasar, kemampuan mengelola keuangan, jaringan bisnis, dan keberlanjutan usaha menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Survei yang sama juga menemukan bahwa 75,2 persen responden tertarik bekerja di luar negeri. Alasan yang paling banyak disebut adalah keinginan mendapatkan penghasilan lebih tinggi.
Data tersebut tidak berarti seluruh anak muda ingin meninggalkan Indonesia. Namun, temuan ini memperlihatkan bahwa peluang karier, tingkat penghasilan, dan kualitas kehidupan kerja menjadi pertimbangan penting ketika mereka menentukan masa depan.
Berapa banyak lowongan yang tersedia?
Kementerian Ketenagakerjaan melalui Pusat Pasar Kerja menyediakan informasi mengenai peluang pekerjaan melalui platform Karirhub dan JOSS.
Berdasarkan data Pasker ID, selama Januari hingga September 2026 terdapat 94.150 lowongan yang dipublikasikan melalui kedua platform tersebut.
Jumlah kebutuhan tenaga kerja dalam lowongan itu mencapai 350.293 orang. Sementara itu, jumlah lamaran yang masuk melalui Karirhub mencapai 3.031.614.
Pada 1 Oktober 2026, pencari kerja aktif yang tercatat di Karirhub berjumlah 866.336 orang.
Data ini memberikan gambaran mengenai aktivitas pasar kerja pada platform pemerintah. Namun, angka tersebut tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh lowongan dan pencari kerja di Indonesia.
Jumlah lowongan yang dipublikasikan juga tidak sama dengan jumlah orang yang sudah diterima bekerja.
Bagi pencari kerja, tantangannya bukan hanya menemukan informasi lowongan, tetapi memastikan posisi yang tersedia sesuai dengan pendidikan, keterampilan, lokasi, pengalaman, dan kebutuhan penghasilan.
Karena itu, akses terhadap informasi pasar kerja yang akurat dan mudah dijangkau menjadi bagian penting dari upaya mempertemukan perusahaan dengan calon pekerja.
Lapangan kerja menjadi perhatian utama generasi muda
Persoalan ketenagakerjaan juga muncul dalam Survei Nasional Muda Bicara ID yang dilakukan pada 15 September hingga 10 Oktober 2026 terhadap 800 responden muda.
Hasil survei yang dipublikasikan pada 29 Oktober 2026 menunjukkan, sebanyak 82,5 persen responden menilai persoalan lapangan kerja belum optimal dan perlu terus dikawal pemerintah.
Selain lapangan kerja, isu pemberantasan korupsi sistemik menjadi perhatian 71,8 persen responden. Kesehatan mental mendapat perhatian 66 persen, ekonomi nasional 52 persen, dan akses perumahan terjangkau 51,2 persen.
Angka tersebut menggambarkan perhatian dan penilaian responden terhadap berbagai persoalan nasional, bukan tingkat pengangguran atau pengukuran langsung jumlah lowongan yang tersedia.
Namun, temuan itu memperlihatkan bahwa kepastian pekerjaan dan masa depan ekonomi merupakan bagian penting dari aspirasi kelompok muda.
AI: Ancaman atau peluang bagi pekerja muda?
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menambah pertanyaan baru bagi generasi muda yang akan memasuki dunia kerja.
Survei KedaiKOPI menemukan bahwa 57,5 persen responden menggunakan AI setidaknya sekali dalam seminggu. Sementara itu, 64,4 persen mengaku khawatir pekerjaannya suatu saat tergantikan teknologi tersebut.
Menariknya, hanya 7,1 persen responden yang menyebut AI sebagai hambatan dalam mencari pekerjaan saat ini.
Temuan ini menunjukkan perbedaan antara kekhawatiran terhadap dampak AI pada masa depan dan pengalaman menghadapi AI sebagai hambatan mencari pekerjaan sekarang.
AI memang dapat membantu mengotomatisasi sejumlah tugas, terutama pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Namun, perkembangan teknologi juga membuka kebutuhan baru terhadap keterampilan digital, analisis, kreativitas, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah.
Karena itu, anak muda perlu memahami AI sebagai teknologi yang harus dipelajari dan digunakan secara bertanggung jawab, bukan hanya sebagai ancaman.
Lima langkah yang bisa dilakukan pencari kerja muda
Walaupun persoalan lapangan kerja tidak dapat diselesaikan hanya dengan usaha individu, ada sejumlah langkah yang bisa membantu pencari kerja mempersiapkan diri.
1. Sesuaikan CV dengan pekerjaan yang dilamar.
Tampilkan pendidikan, pengalaman organisasi, proyek, keterampilan, dan hasil kerja yang relevan. Hindari mengirim CV yang sama tanpa penyesuaian untuk semua posisi.
2. Bangun portofolio meski belum pernah bekerja.
Proyek kuliah, tulisan, desain, analisis data, kegiatan sukarela, maupun proyek mandiri dapat menjadi bukti kemampuan. Pastikan pengalaman yang dicantumkan benar-benar pernah dilakukan.
3. Pelajari keterampilan yang dibutuhkan industri.
Jangan hanya mengandalkan ijazah. Pelajari keterampilan digital, komunikasi, bahasa asing, analisis data, atau kemampuan teknis sesuai bidang yang diminati.
4. Gunakan kanal pencarian kerja resmi.
Manfaatkan informasi dari perusahaan, portal pemerintah, dan kanal rekrutmen yang identitas pemberi kerjanya jelas. Waspadai lowongan yang meminta transfer uang atau data pribadi sensitif tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
5. Perluas jaringan profesional.
Bergabung dengan komunitas profesi, berdiskusi dengan alumni, mengikuti kegiatan industri, dan meminta masukan atas portofolio dapat membantu memperluas informasi mengenai peluang kerja.
Pekerjaan layak bukan hanya tanggung jawab anak muda
Persoalan mendapatkan pekerjaan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pencari kerja.
Perusahaan perlu membuka kesempatan kerja yang lebih transparan, menetapkan persyaratan yang proporsional, dan menyediakan jalur bagi lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman profesional.
Lembaga pendidikan juga perlu memperkuat hubungan dengan dunia usaha agar pembelajaran dan keterampilan yang diberikan semakin relevan dengan kebutuhan industri.
Sementara itu, pemerintah memiliki tanggung jawab memperbaiki informasi pasar kerja, memperluas akses pelatihan, serta memastikan program penciptaan lapangan kerja memberikan manfaat nyata.
Data BPS menunjukkan bahwa pengangguran nasional dan pengangguran kelompok usia muda memiliki dinamika yang berbeda. Survei KedaiKOPI dan Muda Bicara ID juga memperlihatkan bahwa persoalan pekerjaan menjadi perhatian penting bagi responden muda.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang sulitnya mencari kerja bukan hanya soal apakah anak muda sudah siap bekerja.
Ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah tersedia cukup pekerjaan yang layak, apakah akses terhadap kesempatan kerja berlangsung secara terbuka, dan apakah keterampilan yang dimiliki dapat bertemu dengan kebutuhan dunia usaha?
Sebab, masa depan generasi muda tidak cukup hanya dibangun dengan meminta mereka terus meningkatkan kemampuan. Mereka juga membutuhkan kesempatan yang nyata untuk berkembang.
Channel8.co.id — Cerita di Balik Cerita.
(koni)
Views: 1




