Berita

Arab Saudi dan UEA Tolak Wilayahnya Dipakai AS Serang Iran, Ini Dampaknya bagi Timur Tengah

×

Arab Saudi dan UEA Tolak Wilayahnya Dipakai AS Serang Iran, Ini Dampaknya bagi Timur Tengah

Sebarkan artikel ini

Channel8.co.id, Jakarta — Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menolak penggunaan wilayah darat, laut, dan udara mereka untuk operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Langkah ini dinilai sebagai sinyal perubahan arah geopolitik Timur Tengah yang semakin mandiri dari tekanan kekuatan besar dunia.

Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menyebut keputusan tersebut mencerminkan kemandirian strategis negara-negara Teluk.

“Keputusan negara-negara Teluk untuk menutup wilayah darat, laut, dan udara mereka dari operasi militer terhadap Iran bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menunjukkan kemandirian strategis kawasan,” ujar Bachtiar Nasir dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026).

Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), KH Bachtiar Nasir memberikan keterangan terkait penolakan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) atas penggunaan wilayah darat, laut, dan udara mereka untuk operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. (dok. Istimewa)

Berdasarkan laporan Saudi Press Agency (SPA), Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyampaikan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa wilayah Arab Saudi tidak akan digunakan untuk menyerang Iran oleh pihak mana pun.

Sikap serupa juga ditegaskan Uni Emirat Arab. Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri UEA, Abu Dhabi menegaskan komitmen netralitas dan menolak terlibat dalam eskalasi konflik.

Menurut Bachtiar, penolakan ini lebih didorong kepentingan menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional. Konflik terbuka dinilai berisiko mengganggu agenda pembangunan dan investasi, termasuk proyek-proyek besar dalam Vision 2030.

Ia menilai keputusan tersebut turut memengaruhi perencanaan militer AS di kawasan. “Tanpa dukungan negara-negara Teluk, manuver militer AS menjadi jauh lebih terbatas,” ujarnya.

Bachtiar menegaskan Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan tidak bersikap pasif. “Perubahan geopolitik ini menuntut peran dan solidaritas yang lebih nyata dari dunia Islam,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *