BeritaBisnisOpini

Supaya Rabi Bukan Seloroh, Cicipilah Serabi di Dapur Yu Saroh

×

Supaya Rabi Bukan Seloroh, Cicipilah Serabi di Dapur Yu Saroh

Sebarkan artikel ini

Oleh : Aron

Ketika Mitos Jawa, Serat Centhini, dan Harumnya Serabi Menyatukan Harapan dalam Sepiring Kehangatan

Pukul dua dini hari.

Ketika sebagian besar warga Ciputat masih terlelap, sebuah dapur sederhana di Cluster The Bay Paradise Resort Residence sudah dipenuhi cahaya. Api kompor menyala. Cetakan-cetakan serabi mulai panas. Aroma santan perlahan memenuhi ruangan, bercampur wangi tepung beras yang dipanggang di atas tungku.

Di dapur itu, Lailatul Musyfiroh menuangkan adonan dengan gerakan yang nyaris tanpa ragu. Di sampingnya, sang suami, Ikhsan Pua Mbusa, memeriksa satu per satu serabi yang mulai matang. Sesekali ia membalik serabi agar pinggirnya garing, sementara bagian tengahnya tetap lembut.

Mereka hampir tak banyak berbicara.

Tak perlu.

Pekerjaan yang dilakukan setiap dini hari itu telah menjadi bahasa yang mereka pahami bersama.

Begitulah hari mereka dimulai.

Saat sebagian orang baru membuka mata, puluhan bahkan ratusan Serabi Kocor telah siap diantar kepada pelanggan.

Bagi pasangan muda ini, serabi bukan sekadar makanan yang dijual untuk mencari nafkah.

Di balik setiap adonan yang mereka buat, tersimpan kerinduan pada kampung halaman, cinta pada tradisi, sekaligus harapan agar warisan kuliner Jawa tetap hidup di tengah zaman yang bergerak begitu cepat.

Laila berasal dari Yogyakarta.

Sejak kecil ia akrab dengan aroma serabi yang dipanggang di dapur-dapur kampung. Di sana, serabi bukan sekadar jajanan pasar. Ia selalu hadir dalam cerita keluarga, dalam hajatan, kenduri, hingga obrolan santai para tetua desa.

Salah satu kalimat yang paling sering ia dengar adalah sebuah seloroh khas Jawa.

“Yen pengin cepet rabi, manganen srabi.”

Kalau ingin cepat menikah, makanlah serabi.

Semua orang tertawa ketika mendengarnya.

Tak ada yang benar-benar percaya sepotong serabi bisa mendatangkan jodoh.

Namun justru di situlah indahnya budaya Jawa.

Orang Jawa gemar menyampaikan harapan melalui simbol, permainan kata, dan guyonan yang mengandung doa.

Permainan bunyi antara srabi dan rabi telah lama hidup sebagai kirata basa—cocoklogi yang sederhana, tetapi membuat percakapan terasa hangat.

Dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, candaan itu terus bertahan.

Dan serabi pun tumbuh bukan hanya sebagai makanan, melainkan bagian dari kebudayaan.

Jejaknya dapat ditelusuri hingga masa Jawa Kuno.

Sejumlah kajian mengaitkan nama serabi dengan akar bahasa Sanskerta yang bermakna harum atau wangi. Ada pula pendapat yang menyebut kuliner ini lahir dari perjumpaan budaya India dengan tradisi dapur Jawa, lalu berkembang menjadi identitas kuliner Nusantara.

Almarhum Bondan Winarno bahkan pernah mengemukakan bahwa serabi merupakan hasil akulturasi budaya yang akhirnya menemukan bentuknya sendiri di Indonesia.

Nama serabi juga tercatat dalam Serat Centhini, mahakarya sastra Jawa yang disusun atas perintah Pakubuwana V pada awal abad ke-19.

Dalam karya tersebut, serabi bukan sekadar makanan pengganjal lapar.

Ia hadir dalam pesta pernikahan, kenduri, ruwatan, hingga pertunjukan wayang. Bahkan beberapa pupuh menyebut sembilan jenis serabi sebagai bagian dari sesaji dalam berbagai upacara adat.

Masyarakat Jawa kemudian memberi makna yang lebih dalam.

Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan keluarga.

Warnanya yang putih menjadi simbol kesucian niat.

Perpaduan santan dan tepung beras menggambarkan persatuan yang tidak mudah dipisahkan.

Tak mengherankan bila serabi kemudian dipercaya sebagai lambang doa agar seseorang dipertemukan dengan jodoh yang baik dan dikaruniai rumah tangga yang harmonis.

Tradisi itu masih hidup hingga sekarang.

Di Desa Bandung, Kecamatan Playen, Gunungkidul, masyarakat masih melestarikan Upacara Serabi Kocor, sebuah ritual memohon turunnya hujan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam tradisi tersebut, serabi yang disiram kuah gula jawa dan santan menjadi simbol air kehidupan.

Ia dimaknai sebagai lambang kesuburan tanah, harapan akan panen yang baik, sekaligus perlambang kasih sayang seorang ibu yang menghidupi anak-anaknya.

Begitulah cara orang Jawa memaknai makanan.

Bukan semata-mata soal rasa.

Melainkan juga tentang doa, harapan, dan hubungan manusia dengan alam serta Sang Pencipta.

Nilai-nilai itulah yang kini dihidupkan kembali oleh Dapur Yu Saroh.

Laila dan Ikhsan sadar, mereka mungkin hanya menjual serabi.

Namun sesungguhnya mereka sedang merawat ingatan.

Mereka sedang menjaga agar anak-anak yang lahir di tengah kota masih mengenal aroma santan yang dipanggang di atas cetakan tanah liat, masih mengerti bahwa makanan tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari jati diri bangsa.

Bagi sebagian orang, Ikhsan lebih dulu dikenal sebagai penyanyi.

Namanya pernah menghiasi panggung Indonesian Idol Season 10 pada tahun 2019. Ia berhasil menembus 30 besar dan memperoleh Titanium Ticket dari Bunga Citra Lestari.

Kini panggungnya memang berbeda.

Sorot lampu digantikan cahaya dapur.

Mikrofon berganti cetakan serabi.

Namun semangatnya tetap sama.

Memberikan yang terbaik bagi orang lain.

Tak heran bila Dapur Yu Saroh belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Video proses pembuatan Serabi Kocor yang mereka unggah telah ditonton lebih dari 700 ribu kali.

Klik Link : https://www.instagram.com/reel/Dauwqx4PzFJ/?igsh=ZTBjeXl5amI0cnhq

Banyak pelanggan datang bukan hanya karena penasaran dengan rasanya.

Mereka datang karena menemukan sesuatu yang mulai langka di kota-kota besar: kehangatan.

Kehangatan yang mengingatkan pada rumah.

Kehangatan yang membuat orang ingin duduk lebih lama.

Kehangatan yang menghadirkan kenangan masa kecil.

Dan seperti tradisi yang tak pernah lekang oleh waktu, candaan itu kembali terdengar dari para pembeli.

“Siapa tahu habis makan serabi, segera rabi.”

Tak seorang pun dapat membuktikan mitos itu secara ilmiah.

Namun bukankah setiap kisah cinta memang selalu membutuhkan sedikit harapan?

Sedikit doa.

Dan sedikit kehangatan.

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada 17 Agustus 2026, Dapur Yu Saroh menghadirkan promo spesial.

Serabi yang biasanya dijual sekitar Rp5.000 per buah kini bisa dinikmati dengan harga Rp10.000 untuk tiga buah.

Dapur Yu Saroh berada di Cluster The Bay Paradise Resort Residence Blok C3 Nomor 2A, Sarua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan.

Bagi yang ingin menikmatinya dari rumah, Serabi Kocor juga tersedia melalui GrabFood dan GoFood dengan nama Dapur Yu Saroh – Sarua Indah, Ciputat.

Siapa tahu, sepulang dari sana, yang Anda bawa bukan hanya rasa manis gula jawa dan gurih santan yang masih tertinggal di lidah.

Mungkin Anda juga membawa pulang sepotong cerita.

Tentang sebuah pasangan muda yang setiap dini hari menyalakan dapurnya demi menjaga warisan leluhur.

Tentang serabi yang bukan sekadar jajanan pasar.

Tentang harapan yang selalu menemukan jalannya melalui makanan.

Karena dalam kebudayaan Jawa, makanan terbaik bukanlah yang paling mahal.

Melainkan makanan yang mampu membuat seseorang merasa pulang.

Pulang ke rumah.

Pulang ke kenangan.

Dan pulang ke hati.

Catatan Penulis  :

Thowaf Zuharon S.IP

Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial

=================

Channel8.co.id adalah platform digital media on line.  Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh: Yudi Latif Channel8.co.id ,  Saudaraku, hingga dekade…