Oleh: Yudi Latif
Channel8.co.id , Saudaraku, hingga dekade 1980-an, Vietnam bukan negeri yang banyak dibicarakan dengan nada kagum. Perang memang telah lama usai, tetapi damainya belum menghadirkan kesejahteraan. Inflasi melambung, barang kebutuhan pokok langka, industri berjalan tertatih, dan banyak keluarga masih bergantung pada kupon pangan. Di desa-desa, petani bekerja keras tanpa pernah benar-benar yakin bahwa jerih payah mereka akan mengubah hidup. Negeri yang menang di medan perang justru sedang kalah menghadapi kenyataan ekonomi.
Pembaharuan Pertanian
Dalam keadaan seperti itulah Vietnam memilih mengubah arah. Melalui kebijakan Đổi Mới—pembaruan—para pemimpinnya berani mengakui bahwa cara lama tidak lagi mampu membawa rakyat keluar dari kesulitan. Mereka tidak memulai dengan mengejar simbol-simbol kemajuan, tetapi memperbaiki fondasi paling mendasar: pertanian.
Vietnam memahami bahwa tidak ada industri yang kuat tanpa pangan yang cukup. Karena itu, perubahan dimulai dari sawah. Pemerintah memberikan hak pengelolaan lahan kepada keluarga petani dalam jangka panjang sehingga mereka memiliki kepastian untuk bekerja dan menikmati hasilnya. Namun Vietnam sadar bahwa memberikan lahan saja tidak cukup. Petani harus dibangun menjadi pelaku ekonomi yang memiliki pengetahuan, teknologi, dan akses pasar.
Penyuluhan pertanian diperkuat hingga tingkat desa. Petani didampingi untuk menggunakan varietas unggul, memperbaiki teknik budidaya, mengelola air, mengendalikan hama, dan meningkatkan kualitas hasil panen. Pemerintah memperbaiki irigasi, membuka akses pembiayaan, membangun jalan produksi, serta memperkuat hubungan antara petani dan pasar. Negara tidak sekadar meminta petani meningkatkan produksi, tetapi menciptakan ekosistem agar mereka mampu berkembang.
Langkah Vietnam tidak muncul dari ruang kosong. Dalam reformasi pertanian melalui Đổi Mới, Vietnam mempelajari pengalaman Indonesia yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pembangunan pangan di Asia. Program intensifikasi pertanian, pembangunan irigasi, penyuluhan kepada petani, penggunaan benih unggul, serta dukungan pemerintah yang mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984 menjadi salah satu rujukan penting.
Vietnam mengambil prinsip dasarnya: petani membutuhkan kepastian, ilmu pengetahuan, infrastruktur, dan dukungan negara. Prinsip itu kemudian disesuaikan dengan kondisi mereka sendiri hingga berhasil mengubah Vietnam dari negara yang pernah kekurangan pangan menjadi salah satu pengekspor beras terbesar dunia.
Pemajuan Industri dan SDM
Namun Vietnam tidak berhenti di sawah. Setelah fondasi pertanian menguat, perhatian bergeser kepada industri.
Vietnam membuka diri terhadap investasi asing, tetapi dengan tujuan yang jelas. Kawasan industri dibangun di dekat pelabuhan dan pusat logistik, jaringan jalan diperluas, pasokan listrik diperkuat, sementara prosedur perizinan dibuat lebih sederhana. Mereka tidak sekadar menawarkan tenaga kerja murah, tetapi menciptakan kepastian bagi siapa pun yang ingin menanamkan modal.
Investasi juga diarahkan untuk membangun kemampuan nasional. Pendidikan vokasi diperluas agar tenaga kerja memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Investasi tidak hanya dipandang sebagai masuknya modal, tetapi sebagai kesempatan memperoleh teknologi, pengetahuan, dan pengalaman baru.
Kesinambungan Pembangunan
Di balik semua kebijakan itu terdapat satu faktor yang sering menentukan keberhasilan pembangunan: kesinambungan.
Vietnam memahami bahwa pembangunan tidak selesai dalam satu periode pemerintahan. Karena itu, arah pembangunan dijaga agar tidak berubah setiap kali kepemimpinan berganti. Program yang telah terbukti berjalan tidak dibongkar, melainkan diperbaiki, disempurnakan, dan dilanjutkan agar hasilnya dapat tumbuh dalam jangka panjang.
Dalam hal kesinambungan pembangunan, Vietnam juga mempelajari pengalaman Indonesia melalui GBHN dan Repelita yang menekankan perencanaan jangka panjang—dari penguatan pertanian, pembangunan infrastruktur, hingga pengembangan industri dan kualitas manusia. Pelajaran yang diambil adalah bahwa negara membutuhkan visi yang melampaui satu masa kekuasaan; pergantian pemerintahan tidak berarti memulai kembali dari awal, tetapi menjaga arah besar sambil memperbaiki kekurangan.
Kesinambungan itulah yang kemudian menghasilkan perubahan nyata.
Kemajuan dan Tantangan
Dalam beberapa dekade, Vietnam berubah dari negara miskin pascaperang menjadi salah satu ekonomi yang tumbuh paling dinamis di Asia Tenggara. Tingkat kemiskinan turun secara drastis, pendapatan masyarakat meningkat, dan struktur ekonomi bergeser dari pertanian tradisional menuju industri dan jasa.
Di sektor pangan, Vietnam yang dahulu kesulitan memenuhi kebutuhan beras sendiri kini menjadi salah satu pengekspor beras terbesar dunia. Di sektor industri, Vietnam berkembang menjadi basis produksi berbagai perusahaan global, terutama dalam manufaktur elektronik, tekstil, dan produk berorientasi ekspor. Investasi asing meningkat, infrastruktur logistik berkembang, dan kemampuan produksi nasional terus bertambah.
Namun Vietnam bukan kisah tanpa persoalan. Pertumbuhan yang cepat juga menghadirkan tantangan baru: ketergantungan pada investasi asing, kesenjangan antara kawasan industri dan pedesaan, tekanan terhadap lingkungan, serta kebutuhan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Vietnam masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar menghasilkan kesejahteraan yang lebih merata.
Perbedaannya, Vietnam memiliki arah pembangunan yang relatif konsisten dan terus melakukan penyesuaian terhadap masalah yang muncul. Mereka tidak menganggap keberhasilan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai fondasi untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Ironi dan Pelajaran Indonesia
Di sinilah sejarah menghadirkan sebuah ironi bagi Indonesia.
Vietnam pernah belajar dari Indonesia—tentang pembangunan pertanian, tentang pentingnya perencanaan jangka panjang, dan tentang bagaimana negara dapat mengarahkan transformasi ekonomi. Namun beberapa dekade kemudian, Vietnam mampu menjaga dan mengembangkan pelajaran tersebut secara konsisten hingga menjadi kekuatan pangan dan manufaktur, sementara Indonesia menghadapi tantangan untuk menghidupkan kembali sebagian keberhasilan yang pernah dicapainya.
Pelajaran dari Vietnam bukan bahwa Indonesia kekurangan potensi. Indonesia memiliki sumber daya, pasar, dan kemampuan manusia yang besar. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa Indonesia pernah berada pada posisi yang menginspirasi negara lain.
Yang menentukan pada akhirnya adalah kemampuan menjaga arah.
Sebab pembangunan bukan hanya tentang menemukan kebijakan yang tepat. Pembangunan adalah tentang keberanian menjalankannya secara konsisten, memperbaikinya ketika kurang, dan menjaganya tetap hidup melewati pergantian pemerintahan.
Kadang-kadang, seorang murid melampaui gurunya bukan karena menemukan pelajaran yang lebih hebat, tetapi karena ia lebih tekun menjalankan pelajaran yang pernah diberikan.

Dr. Yudi Latif M.A. Ph.D.
Pengamat Sosial dan Kepala Badan Pengkajian dan Implementasi Pancasila Tahun 2018
==========
Channel8.co.id adalah platform digital media on line. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi.






