BeritaFeature

“Sudah Makan Belum?” Kenangan Tuti Sutiawati tentang Kehangatan Soeharto dan Ibu Tien

×

“Sudah Makan Belum?” Kenangan Tuti Sutiawati tentang Kehangatan Soeharto dan Ibu Tien

Sebarkan artikel ini

Channel8.co.id, Jakarta – Ada kenangan yang tidak pernah tercatat dalam dokumen negara. Bukan pula bagian dari pidato atau catatan resmi sejarah. Namun justru kenangan seperti itulah yang paling lama hidup di hati orang yang mengalaminya.

Bagi Tuti Sutiawati, istri mantan Wakil Presiden RI Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, sosok Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto selalu dikenang bukan semata sebagai kepala negara dan ibu negara, melainkan sebagai dua pribadi yang hangat dan sederhana.

Kenangan itu selalu bermula dari satu kalimat.

“Sudah makan belum?”

Bagi sebagian orang, itu hanya sapaan biasa. Namun bagi Tuti, pertanyaan itulah yang paling menggambarkan sosok Pak Harto di luar kehidupan kenegaraan.

“Ibu Tien itu dekat dengan siapa saja. Beliau tidak pernah memilih-milih orang untuk berbuat baik. Semua diperlakukan sama, semua dihargai,” kenang Tuti.

Kesaksian itu lahir dari pengalaman langsung. Jauh sebelum menjadi Ibu Wakil Presiden, Tuti telah mengenal keluarga Cendana ketika Try Sutrisno dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Sejak saat itu, keluarga mereka cukup sering berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari Presiden dan Ibu Negara.

Menurut Tuti, baik Pak Harto maupun Ibu Tien tidak pernah menciptakan jarak dengan orang-orang di sekitarnya.

“Kalau beliau menegur atau menyapa, rasanya seperti keluarga. Semuanya terasa ikhlas,” tuturnya.

Salah satu kebiasaan yang paling membekas adalah ajakan Pak Harto untuk makan bersama.

“Bapak sering memanggil, ‘Tri… ayo makan dulu.’ Kalau saya datang, beliau juga bertanya, ‘Sudah makan belum?'”

Bagi Tuti, pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Ketika waktu makan tiba, siapa pun yang sedang berada di rumah Presiden akan dipersilakan ikut makan.

Tidak peduli apakah ia seorang menteri, ajudan, pegawai, sopir, atau tamu biasa.

“Beliau tidak pernah membedakan orang. Siapa pun yang datang, kalau waktunya makan ya disuruh makan.”

Suasana rumah di Jalan Cendana pun selalu terasa hangat. Di ruang tamu hampir selalu tersedia makanan kecil. Bahkan, Ibu Tien kerap meminta agar makanan yang tersisa dibungkus untuk dibawa pulang.

“‘Ini dibungkus saja,’ begitu kata beliau.”

Ibu Tuti Tri Sutrino tersenyum saat bercerita tentang kenangan dan kesan mendalam terhadap Pak Harto dan Ibu Tien yang dirasakannya, Rabu 22/07/2026 (Foto : Koni Bardianto)

Bagi Tuti, perhatian-perhatian kecil itulah yang menunjukkan watak asli seseorang. Keramahan itu bukan dibuat untuk dilihat orang, melainkan telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga melihat bagaimana Pak Harto dan Ibu Tien memperlakukan semua orang dengan penghormatan yang sama, tanpa memandang jabatan ataupun kedudukan.

“Itulah yang saya kenang dari Bapak dan Ibu. Mereka tidak pernah memilih-milih orang untuk berbuat baik. Semua diperlakukan sama.”

Puluhan tahun telah berlalu. Rumah di Jalan Cendana mungkin telah berubah, begitu pula perjalanan sejarah Indonesia.

Namun bagi Tuti Sutiawati, yang paling membekas bukanlah rapat kabinet atau upacara kenegaraan. Melainkan seorang Presiden dan seorang Ibu Negara yang selalu memastikan tamunya tidak pulang dalam keadaan lapar.

Barangkali, di situlah makna kepemimpinan yang paling sederhana: menghormati manusia bukan karena jabatannya, melainkan karena kemanusiaannya.

Dan bagi Tuti Sutiawati, semua kenangan itu akan selalu bermula dari satu pertanyaan sederhana yang tak pernah ia lupakan.

“Sudah makan belum?”     

(Koni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh: Yudi Latif Channel8.co.id ,  Saudaraku, hingga dekade…