Oleh : Yudi Latif
(Dipersembahkan untuk mensyukuri 60 tahun perkawinan Bapak Soehardjo Soebardi dan Ibu Noek Bressinah)
Perkawinan adalah dua hati yang bertaut membangun rumah.
Bukan dengan batu, bukan dengan kayu,
melainkan dengan kesabaran yang disusun hari demi hari,
dengan kepercayaan yang diletakkan perlahan,
dengan pengampunan setiap kali ada yang retak.
Mula-mula hanya dua hati dan sebuah janji.
Lalu datang hujan, datang kemarau, datang angin dan badai.
Mereka belajar, rumah bukan tempat, tanpa hujan, melainkan tempat
untuk berteduh bersama.
Ada saat yang satu basah diguyur hujan,
ada saat yang lain bersiaga menjaga api tetap menyala.
Ada saat yang satu menjadi bahu,
ada saat yang lain menjadi tangan yang menggenggam.
Sebab cinta bukan tentang siapa yang paling kuat,
melainkan tentang siapa yang tetap memeluk saat yang lain kehilangan pijakan.
Lalu waktu memutihkan rambut, memperlambat langkah,
dan melirihkan hati lebih hening. Yang dahulu berdebar kini menjadi teduh.
Yang dahulu banyak berkata kini cukup saling memandang.
Yang dahulu mencari kini telah menemukan. Bahwa rumah bukan tempat yang dibangun untuk melawan waktu,
melainkan tempat di mana waktu boleh lewat tanpa membawa pasangan saling kehilangan.
Di sana, dua hati tidak lagi bertanya siapa yang lebih banyak memberi,
siapa yang lebih lama menunggu.
Mereka hanya tahu bahwa selama ini ada satu pintu yang selalu terbuka,
satu cahaya yang tak pernah benar-benar padam, dan satu nama yang selalu terasa
meneduhkan. Sebab pada akhirnya, setelah hujan dan kemarau silih berganti,
setelah rambut memutih dan langkah melambat, barangkali cinta
hanya ingin menjadi satu hal: tempat di mana dua hati tak perlu lagi mencari ke mana harus pulang.
Lihat Link : https://www.instagram.com/p/Db0FRZBEgUr/?igsh=dTV1MDNpZmpxamd0






