BeritaHistoria

“Sebelum Wafat, Ibu Tien Soeharto Pernah Berkata: ‘Saya Mau Pergi Jauh’”.

×

“Sebelum Wafat, Ibu Tien Soeharto Pernah Berkata: ‘Saya Mau Pergi Jauh’”.

Sebarkan artikel ini

Firasat Ibu Tien Soeharto Sebelum Meninggal, “Saya Mau Pergi Jauh”

Channel8.co.id – JAKARTA — Beberapa hari sebelum meninggal dunia, Ibu Tien Soeharto disebut sempat mengucapkan sejumlah kalimat yang kemudian dikenang orang-orang terdekatnya sebagai semacam pertanda.

Tidak ada yang dapat memastikan apakah ucapan tersebut benar-benar sebuah firasat. Namun setelah Ny. Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto wafat pada Minggu, 28 April 1996, perkataan-perkataan itu kembali teringat dan terasa memiliki makna tersendiri.

Kisah mengenai hari-hari terakhir Ibu Tien tersebut pernah dihimpun Tim INTISARI dan dimuat dalam Majalah INTISARI edisi Juni 1996 melalui tulisan berjudul “Perginya Sang Pejuang, Kakak, & Ibu Negara”.

Salah satu kesaksian datang dari Kepala Rumah Tangga Dalem Kalitan KRMH Sriyanto Sumanto Kusumo, kerabat yang selama itu mengurus Ndalem Kalitan di Solo.

“Kalau saya pulang…”

Pada pertengahan April 1996, beberapa hari sebelum peringatan ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah, Sriyanto sempat bertemu Ibu Tien di kediaman keluarga di Jalan Cendana, Jakarta.

Dalam pertemuan itu, Ibu Tien sempat membicarakan persoalan pembayaran atau pinjaman.

Jan-jane (sesungguhnya)  pinjaman yang harus dibayar berapa? Yen kowe nagih ana kene, ya ora apa-apa. Nanging, yen kok tagih ana kana… ya repot.”

Kurang lebih, Ibu Tien mengatakan bahwa jika urusan tersebut ditagihkan di Cendana tidak menjadi persoalan. Namun jika ditagihkan di tempat lain, akan menjadi lebih sulit.

Ucapan tersebut sebenarnya percakapan biasa.

Namun beberapa waktu kemudian, Sriyanto kembali bertemu Ibu Tien.

Kali ini ia menyampaikan kabar mengenai rencana pernikahan seorang keponakan di Solo.

Respons Ibu Tien justru menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Ia meminta agar seluruh kamar di Ndalem Kalitan dibersihkan.

“Kalau saya pulang, mengko rak kebak kabeh.”

Artinya kurang lebih, jika dirinya pulang, rumah tersebut akan penuh oleh orang-orang.

Ketika ucapan itu disampaikan, tentu tidak ada yang menyangka bahwa beberapa hari kemudian Ibu Tien benar-benar telah tiada.

Bagi Sriyanto dan keluarga, perkataan tersebut kemudian terasa seperti sebuah sasmita—istilah Jawa untuk pertanda atau isyarat.

“Saya capek…”

Kesaksian lain datang dari Sri Woelan Soejitno, perempuan yang pernah menjadi bagian dari Laskar Putri dan dikenal dekat dengan Ibu Tien sejak masa perjuangan.

Menurut Sri Woelan, beberapa bulan sebelum wafat, Ibu Tien beberapa kali mengeluhkan kelelahan.

Kesibukan sebagai Ibu Negara membuat kehidupannya dipenuhi kegiatan dan kewajiban. Hampir setiap acara membutuhkan kehadirannya, mulai dari kegiatan sosial hingga mendampingi Presiden Soeharto dalam berbagai agenda kenegaraan.

Dalam sebuah percakapan, Ibu Tien disebut pernah berkata:

“Saya capek. Saya ingin berhenti saja dari semua kegiatan ini.”

Kalimat tersebut terdengar seperti ungkapan seorang perempuan yang kelelahan setelah menjalani puluhan tahun kehidupan publik.

Namun setelah kepergiannya, kalimat itu kembali diingat oleh Sri Woelan.

Terlebih, Ibu Tien kemudian pernah mengatakan bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi memberikan sambutan dalam berbagai acara.

Jika diminta memberikan sambutan, ia ingin menolak.

“Kalau harus memberi sambutan, sudah, nggak aja deh.”

Ketika ditanya alasannya, muncul kalimat yang jauh lebih menggetarkan.

“Saya mau pergi sajalah. Pokoknya, pergi jauh.”

Bukan hanya soal kesehatan

Ucapan-ucapan tersebut muncul ketika usia Ibu Tien telah memasuki 72 tahun.

Dalam kesaksian yang dihimpun INTISARI, Ibu Tien juga mengakui bahwa kondisi fisiknya tidak lagi seperti dulu.

Ketika mantan rekan seperjuangannya memintanya menjadi pelindung organisasi wanita pejuang, ia justru meminta agar dirinya ditempatkan sebagai sesepuh saja.

Ia merasa tenaga sudah berkurang. Pendengaran dan penglihatannya juga tidak lagi sempurna.

“Saya ‘kan sudah capek. Sibuk, susah membagi waktunya,” kata Ibu Tien seperti dituturkan Sri Woelan.

Kehidupan sebagai Ibu Negara memang membuat ruang geraknya tidak sebebas orang lain.

“Saya ini ‘kan hidupnya tidak bebas. Jadi kalau saya nggak bisa memenuhi sebuah permintaan, bukan berarti saya nggak mau. Tetapi ini karena saya terikat peraturan yang ada di istana,” ujar Ibu Tien.

Dua pekan kemudian, Ibu Tien pergi

Minggu pagi, 28 April 1996, Ibu Tien Soeharto meninggal dunia.

Wafatnya terjadi hanya beberapa hari setelah berbagai percakapan tersebut.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya, ucapan seperti “saya mau pergi jauh” tentu meninggalkan kesan mendalam.

Apakah Ibu Tien mengetahui bahwa hidupnya akan segera berakhir?

Tidak ada yang bisa memastikan.

Karena itu, kesaksian tentang “firasat” tersebut lebih tepat dipandang sebagai kenangan orang-orang terdekat terhadap ucapan seorang perempuan yang sedang merasa lelah menjalani kehidupannya, bukan sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan secara pasti.

Namun dalam budaya Jawa, ungkapan, sikap, atau peristiwa tertentu yang muncul sebelum seseorang meninggal sering kali dikenang sebagai sasmita.

Dan bagi orang-orang yang mengenal Ibu Tien, beberapa kalimat yang pernah diucapkannya menjelang akhir hayat menjadi bagian paling menggetarkan dari kenangan mereka.

Pada akhirnya, Minggu Pon, 28 April 1996, pukul 05.10 WIB, Siti Hartinah benar-benar “pergi jauh”.

Ia meninggalkan suami, enam anak, keluarga besar, sahabat-sahabat seperjuangan, dan bangsa Indonesia yang selama puluhan tahun mengenalnya sebagai Ibu Negara.

Sebuah ucapan sederhana yang pada saat diucapkan mungkin terdengar biasa, tetapi setelah kepergiannya berubah menjadi kenangan yang tidak pernah dilupakan.

Tulisan diolah dari kesaksian yang dihimpun Tim INTISARI dalam Majalah INTISARI edisi Juni 1996, “Perginya Sang Pejuang, Kakak, & Ibu Negara”. Narasumber yang dikutip antara lain Sriyanto dan Sri Woelan Soejitno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

oleh : Yudi Latif Kemerdekaan terlalu sering kita…