Abu vulkanik menyebar hingga 50.000 kaki, 1.558 penerbangan tertunda dan sekitar 170.000 penumpang terdampak.
Channel8.co.id,Jakarta — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan penerbangan. Sebaran abu vulkanik yang mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki membuat sejumlah bandara di wilayah Jawa, Sumatera dan Jakarta harus menutup sementara operasionalnya demi keselamatan penerbangan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam, sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.
Setelah erupsi menerus berakhir, aktivitas vulkanik masih berlangsung. PVMBG mencatat erupsi susulan pada Minggu sekitar pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
Status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Abu Vulkanik Capai 50.000 Kaki
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui pemantauan satelit mendeteksi sebaran abu vulkanik dalam dua klaster.
Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan berpotensi memengaruhi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.
Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, meliputi wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda dan Samudra Hindia.
BMKG juga telah menerbitkan 18 SIGMET terkait keberadaan abu vulkanik sebagai peringatan bagi penerbangan.
Sebaran abu menjadi perhatian serius karena abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang dan berisiko terhadap mesin pesawat.
8 Bandara Ditutup
Kementerian Perhubungan menyatakan penutupan sementara terhadap delapan bandara diperpanjang hingga Minggu (6/9/2026) pukul 24.00 WIB.
Bandara yang terdampak meliputi:
- Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang
- Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta
- Bandara Radin Inten II, Lampung
- Bandara Husein Sastranegara, Bandung
- Bandara Budiarto, Curug
- Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan
- Bandara Taufik Kiemas, Pesisir Barat, Lampung
- Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Hingga pukul 17.06 WIB, Kementerian Perhubungan mencatat 1.558 penerbangan tertunda dengan sekitar 170.000 penumpang terdampak.
Khusus Bandara Soekarno-Hatta, sebanyak 963 penerbangan masuk dalam pemantauan, terdiri dari 453 penerbangan kedatangan dan 510 keberangkatan.
Pemerintah menyiapkan sejumlah bandara alternatif, antara lain Kertajati, Juanda, Yogyakarta International Airport, Semarang dan Solo.
Abu Vulkanik Berdampak ke Permukiman
Dampak erupsi juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Serang, Banten.
BNPB melaporkan abu vulkanik teramati di wilayah Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros dan Padarincang.
Masyarakat di wilayah yang terkena hujan abu diimbau menggunakan masker, melindungi mata dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi abu meningkat.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, BNPB belum melaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat erupsi Anak Krakatau.
Tidak Ada Indikasi Tsunami
Di tengah meningkatnya aktivitas Anak Krakatau, BMKG memastikan hasil pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan anomali muka air laut hingga Minggu pagi.
Pemantauan multi-sensor InaTEWS juga belum menunjukkan indikasi tsunami yang berkaitan dengan rangkaian erupsi tersebut.
Masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan informasi resmi dari pemerintah.
Empat Gunung Api Sama-Sama Erupsi
Pada periode yang sama, aktivitas erupsi juga dilaporkan terjadi pada sejumlah gunung api lain di Indonesia, antara lain Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur.
Aktivitas beberapa gunung api dalam waktu berdekatan tidak berarti gunung-gunung tersebut terhubung oleh satu jalur magma. Setiap gunung memiliki sistem vulkanik dan kondisi geologi masing-masing.
Pemerintah melalui PVMBG, BMKG, BNPB, Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia dan pengelola bandara terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik serta pergerakan abu di ruang udara.
Kondisi penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan abu vulkanik dan evaluasi keselamatan penerbangan.
(dari berbagai Sumber/ red)






