BeritaOpini

Yakin pada Visi: Rahasia Keteguhan Ibu Tien Soeharto Mewujudkan TMII

×

Yakin pada Visi: Rahasia Keteguhan Ibu Tien Soeharto Mewujudkan TMII

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sofian Purnama 

Suatu hari di bulan Maret 1971, Siti Hartinah, Ibu Negara yang karib disapa Ibu Tien Soeharto, memimpin rapat Yayasan Harapan Kita.  Ada rencana besar yang sedang dibicarakan: membangun proyek Miniatur Indonesia Indah.

Peserta rapat terpaku oleh pemaparan Ibu Tien yang rinci. Mereka sadar, proyek itu ambisius sekaligus berat. Tapi mereka juga meyakini, jika proyek itu berhasil, masyarakat akan beroleh manfaat besar: kebanggaan, ekonomi, dan pengetahuan. Akhirnya semua sepakat membawa rencana proyek itu ke hadapan pemerintah. Salah satunya rapat kerja Gubernur-Gubernur se-Indonesia di Jakarta.

Rencana Ibu Tien itu mendapat sambutan positif. Bahkan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud yang turut hadir memberi dukungan penuh.

Protes Mahasiswa pada MII

Tapi rencana membangun proyek Miniatur Indonesia Indah (MII) itu bukan tanpa perintang. Begitu rencana itu tersebar luas, muncul reaksi keras dari sejumlah kalangan.

“Tanggapan pihak-pihak tertentu terutama para mahasiswa di Jakarta yang bernada tidak setuju terhadap gagasan ini… Berita pertemuan itu memperoleh publikasi luas di media massa,” ungkap Abdul Gafur, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, dalam Siti Hartinah Soeharto Ibu Utama Indonesia (1992).

Menurut Gafur, penolakan itu karena pemberitaannya yang tidak lengkap dan rinci mengenai maksud dan tujuannya.

“Lebih-lebih sumber dananya sehingga mengakibatkan reaksi dari sementara organisasi mahasiswa dan pemuda yang berujung kepada aksi unjuk rasa,” sambung Gafur.

Penentangan terhadap Proyek Miniatur Indonesia Indah kemudian menjalar ke berbagai kota.

Berbagai elemen masyarakat menyuarakan aspirasinya. Gerakan protes yang pertama adalah Gerakan Penghematan. Pada 16 Desember 1971, pegiatnya berdemonstrasi di kantor Bappenas.

Gerakan Penghematan menilai pembangunan miniatur Indonesia kurang tepat karena negeri ini baru bangkit dari keterpurukan.

“Tahap pembangunan yang sedang dialami Indonesia sekarang sangat membutuhkan modal untuk proyek-proyek produktif,” sebut Indonesia Raya, 17 Desember 1971.

Elemen ini menyatakan bahwa pemanfaatan uang negara untuk kepentingan yang tidak produktif sama saja dengan sabotase terhadap pembangunan negara.

Anggaran proyek sebesar Rp10.5 miliar dianggap sangat fantastis sehingga jadi sorotan.

“Pembangunan proyek ini akan dibiayai dengan menghimpun dana-dana yang sah baik dari dalam maupun luar negeri berupa sumbangan-sumbangan yang tidak mengikat.”

Ibu Tien

“Jika digunakan untuk pembangunan sebuah universitas seperti Universitas Gadjah Mada, dana tersebut cukup untuk membuat tujuh buah universitas,” sebut salah satu anggota Gerakan Penghematan, dikutip Indonesia Raya.

 

Anggaran sebesar itu bahkan cukup untuk menggaji seorang dosen selama 87.500 tahun dengan asumsi gaji Rp10.000 tiap bulannya.

 

Tak hanya di Ibukota, di Bandung juga muncul gerakan protes yang serupa, yaitu Gerakan Akal Sehat (GAS). Anggotanya bukan hanya mahasiswa, namun melibatkan juga sejumlah budayawan.
Kompas, 22 Desember 1971, menyebut mengapa GAS menuntut proyek tersebut ditunda.  “Tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah yang saat itu sedang menitikberatkan usaha penghematan anggaran negara.”

Dari Jakarta dan Bandung, barisan penolakan menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Semakin banyak kelompok yang terlibat, terutama sekali para mahasiswa.

Menanggapi gelombang protes itu, Ibu Tien menyatakan bahwa pembagunan proyek itu bukan menggunakan dana pemerintah.

“Pembangunan proyek ini akan dibiayai dengan menghimpun dana-dana yang sah baik dari dalam maupun luar negeri berupa sumbangan-sumbangan yang tidak mengikat,” kata Ibu Tien.

 

“Usaha-usaha yang sah kredit investasi usaha joint venture dan lain-lain sesuai dengan peraturan yang berlaku yang kesemuanya ini bersifat non-budgetair negara.”

Namun, pernyataan itu tak memuaskan para penentang miniatur. Protes pun berlanjut hingga meletuslah peristiwa berdarah di Jakarta pada 23 Desember 1971. Kelompok yang menamakan diri Gerakan Penyelamat Uang Rakyat (GPUR), tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang tak dikenal di kantor sekretariat Yayasan Harapan Kita.

Kompas, 24 Desember 1971, mewartakan anggota GPUR bernama Efendi ditembak di paha. Sedangkan dua anggota lainnya, Chris dan Herman Zen, dibacok.  Apa motif penyerangan dan siapa yang mendalanginya tidak diketahui.

Protes MII Dilarang, Ibu Tien Bersikap

Pemerintah menganggap protes-protes ini berpotensi mengganggu stabilitas pembangunan. Karena obsesi Orde Baru terhadap stabilitas sangat tinggi, protes terhadap miniatur pun dilarang.

“Gerakan-gerakan anti ‘Mini’ dilarang. Berbagai penanggung jawab seperti Arif Budiman, H.J. Prinsen ditangkap,” tulis Francois Raillon dalam Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia (1985).

Menyusul kemudian beberapa koran ditutup selama beberapa hari.

“Banyak wartawan mengalami tekanan. Persoalan ini dibawa ke DPR yang ditugaskan untuk mengambil keputusan tentang proyek ini,” tambah Raillon.

Presiden Soeharto turut bicara soal ini dan menuding ada kelompok tertentu yang ingin mengganggu stabilitas.

“Saya tahu bahwa ada kelompok tertentu yang ingin menjadikan proyek yang kami cita-citakan itu sebagai satu isu politik. Mereka mencari kesempatan untuk mengganggu kestabilan nasional,” ungkap Soeharto dalam biografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989).

“Saya pernah mengingatkan mereka bahwa saya tidak akan membiarkan cara-cara yang tidak demokratis seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dan akan menindak orang-orang yang bersangkutan itu jika mereka terus melakukan tindakan yang dapat mengganggu stabilitas nasional.”

Presiden Soeharto mengatakan, sebenarnya pihak pengkritik belum tahu tujuan pembangunan proyek tersebut. Mereka hanya khawatir kalau proyek itu tidak ada artinya dan akan memboroskan keuangan negara saja.

“Padahal tujuan kami bukan seperti yang dikhawatirkannya itu,” kata Soeharto.

Menghadapi sekian banyak protes, Ibu Tien bergeming. Ia hadapi semuanya dengan kepala dingin.

Suatu kali, sekelompok mahasiswa bergerak menuju kediaman Ibu Tien untuk meminta bertemu langsung. Tjokropranolo, sekretaris militer presiden, memberitahukan Ibu Tien soal keinginan mahasiswa untuk berdialog.


“Jika digunakan untuk Pembangunan sebuah universitas seperti Universitas Gadjah Mada, dana tersebut cukup untuk membuat tujuh buah universitas.”

Gerakan Penghematan

 

 


Tjokropranolo sebermula meyakini tantangan itu tak bakal diladeni Ibu Tien. Tapi tanggapan Ibu Tien di luar dugaannya. Ia mengatakan siap bertemu langsung mahasiswa. Tjokropranolo langsung ketar-ketir.

“Cokropranolo yang mengerti watak suatu demonstrasi massa tidak menghendaki dan menyarankan untuk menghindari pertemuan semacam itu. Demi keamanan hal ini dicegahnya. Beliau kembali menemui pimpinan mahasiswa, berbicara dari hati ke hati,” ungkap Abdul Gafur.

Untungnya, mahasiswa menerima pendekatan simpatik Cokropranolo. Mereka kemudian membubarkan diri dengan tertib.

Pada 7 Januari 1972, didampingi Profesor Wijoyo Nitisastro, Ibu Tien menemui para mahasiswa di aula Hotel Kartika Chandra, Jakarta.

Di situ ia menjelaskan gagasannya dengan panjang lebar. Tak lupa ia membagikan risalah resmi rencana pembangunan Proyek Miniatur Indonesia Indah kepada semua peserta.

Risalah serupa sebelumnya dibagikan kepada media massa di Jakarta. Harian Nusantara, sejak 17 Desember 1971, menyebarluaskan secara bersambung isi risalah itu secara berkala.

Respons kontra miniatur dari sebagian kalangan masyarakat itu rupanya sempat membuat Ibu Tien galau.

“Saya sangat menyesal bahwa gagasan saya ini telah menimbulkan beberapa salah pengertian pada sebagian masyarakat dan sedikit merepotkan pemerintah. Saya menyesal karena itu bukanlah maksud saya,” kata Ibu Tien.

DPR Bilang Ada Kesenjangan Informasi

DPR akhirnya merespons polemik proyek Miniatur Indonesia Indah dengan mengadakan konsultasi (Public Hearing) secara langsung dan resmi.

Semua pihak yang terlibat dalam kontroversi pembangunan Miniatur Indonesia Indah (MII) saling bertemu: Ibu Tien, pengurus Yayasan Harapan Kita, wakil mahasiswa dari berbagai kota, Gubernur Jakarta, dan konsultan proyek.

Ibu Tien memenuhi undangan DPR dalam acara konsultasi atau Public Hearing. (Foto: Koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi)

Pemimpin sidang Martono dan anggota Pansus DPR menyimpulkan, ada kesenjangan komunikasi antara Ibu Tien dengan masyarakat.

“Sehingga informasi proyek MII yang mendasar dan berlatar belakang niat dan maksud mulia itu tidak diterima secara utuh oleh masyarakat terutama para mahasiswa yang masih traumatis dengan proyek-proyek mercusuar yang pernah dibangun pada masa pemerintahan Orde Lama,” kata Gafur.

Proyek mercusuar digagas Presiden Sukarno pada era Demokrasi Terpimpin 1960-an. Tujuan proyek-proyek itu untuk meningkatkan citra Indonesia di mata internasional. Namun, proyek itu memicu kontroversi karena besarnya biaya di tengah karut-marut kondisi ekonomi saat itu.

Karena itu, penentang proyek MII mengkhawatirkan Indonesia jatuh ke lubang yang sama. Apalagi sepanjang awal tahun 1970-an, ekonomi negeri masih terpuruk.

Sementara Orde Baru belum sepenuhnya menunjukkan arah yang jelas menuju kesejahteraan masyarakat. Maka muncullah kritik terhadap kebijakan yang dianggap bertentangan dengan harapan masyarakat.

Meskipun hasil public hearing belum bisa memuaskan sepenuhnya para penentang MII, proyek itu tetap mendapat restu dari pemerintah dan DPR. Maka melanggenglah pembangunannya selama sekira empat tahun.

Pembukaan dan Peresmian TMII

Setelah pembangunan rampung, MII berganti nama jadi Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pada suatu Minggu sore yang hangat, 20 April 1975, sekira 10.000 undangan memadati kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur. Mereka datang untuk menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah: peresmian Taman Mini Indonesia Indah.

Makanan berlimpah, musik pengiring membahana. Tetamu penting hadir, termasuk pula Ibu Negara Singapura dan Ibu Negara Filipina. Senyum sumringah memenuhi acara itu.

Presiden Soeharto bersama Ibu Tien didaulat untuk meresmikan TMII itu. Lalu Ibu Tien berbicara kepada tetamu.

“Petang ini, sebentar lagi, kita akan menyaksikan peresmian pembukaan Taman Mini Indonesia Indah,” kata Bu Tien. Sementara tetamu menyimak khidmat.

“Sebagai pemrakarsa pembangunan TMII merasa berbahagia dapat menyelesaikan satu kegiatan yang cukup besar tepat pada tanggal 20 akhir—sehari menjelang Hari Kartini besok pagi, suatu hari yang merupakan lambang kebangkitan wanita Indonesia,” lanjut Ibu Tien.

Ibu Tien juga menyinggung aksi-aksi protes terhadap proyeknya. Ia merasa tak perlu marah dengan mereka. Malahan mengapresiasi mereka yang pernah memprotesnya.

“Kami berterima kasih kepada mereka yang tidak setuju. Karena ketidaksetujuan mereka sebenarnya ingin mengingatkan kami agar kami tidak berbuat salah. Dan dengan begitu mendorong kami untuk bekerja lebih berhati-hati,” katanya.

 


“Kok berani-beraninya saya mewujudkan gagasan saya. Padahal duit tak punya. Bukankah seperti orang idiot?”

Ibu Tien


Berbeda dari Ibu Tien, Presiden Soeharto justru menyindir para penentang MII beberapa tahun setelahnya.

”Kenyataan, sekian tahun kemudian, menunjukkan bahwa setelah Taman Mini Indonesia Indah itu jadi, pengkritik-pengkritik itu akhirnya mengakui manfaatnya,” ucapnya.

Soeharto menjelaskan, tujuan utama pembangunan TMII itu adalah untuk menyediakan suasana rekreasi yang sehat bagi masyarakat, sarana pendidikan, pengenalan dan pengembangan seni budaya bangsa dan salah satu pengembangan dunia kepariwisataan.

Akhirnya proyek TMII rampung. Berkat keteguhan dan keyakinan Ibu Tien, mimpi itu bisa terwujud.

“Kalau saja Ibu Tien tidak yakin bahwa proyek tersebut akan bermanfaat bagi bangsa Indonesia di kemudian hari, tentu sudah mundur saat mendapat kecaman pedas dari para demonstran,” ungkap Ny. A. Mien Sugandhi, salah satu tokoh perempuan Golkar, dalam “Ibu Tien Soeharto Berdisiplin Tinggi dan Kuat Pendirian”, termuat dalam Rangkaian Melati Ibu Tien Soeharto Dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita (1996).

Lucunya, Ibu Tien terheran-heran pada apa yang sudah dikerjakannya. Kepada Abdul Gafur, penulis biografinya, ia mengatakan, “Kok berani-beraninya saya mewujudkan gagasan saya. Padahal duit tak punya. Bukankah seperti orang idiot? Hahaha..” (sof) 

Catatan Penulis

Sofian Purnama

Dosen paruh waktu merangkap periset partikelir bidang sejarah dan budaya. Meminati beragam tema khususnya tema film dan budaya populer. Tinggal di wilayah paling Selatan Jakarta Selatan, gemar melancong dengan sepeda tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

oleh : Yudi Latif Kemerdekaan terlalu sering kita…