BeritaHistoria

Prabowo Kenang Soeharto di Hari Lahirnya: Dari Sang Jenderal, Presiden, hingga Mantan Mertua

×

Prabowo Kenang Soeharto di Hari Lahirnya: Dari Sang Jenderal, Presiden, hingga Mantan Mertua

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto mengenang hari lahir Presiden ke-2 RI, Soeharto. Foto: dok. Instagram/@Prabowo

Channel8, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengenang hari kelahiran Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar TNI Soeharto, yang jatuh pada 8 Juni.

Pada Senin (8/6/2026), Prabowo mengunggah ucapan tersebut melalui Instagram Story akun resminya, @prabowo.

Dalam unggahan itu tampak karikatur Soeharto dalam nuansa hitam putih dengan posisi hormat. Di bagian atas tertulis, “MENGENANG HARI LAHIR PRESIDEN SOEHARTO 8 JUNI 2026”, sementara di bagian bawah tercantum nama Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Unggahan tersebut menjadi menarik karena hubungan Prabowo dengan Soeharto bukan sekadar hubungan antartokoh militer dan politik. Prabowo pernah menjadi menantu Soeharto setelah menikah dengan Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

Namun jauh sebelum menjadi presiden, Prabowo mengenal Soeharto dalam perjalanan karier militernya. Bahkan, Soeharto pernah hadir dalam fase penting perjalanan Prabowo sebagai seorang taruna.

Lahir dari Kemusuk, kemudian menjadi Presiden

Soeharto lahir di Kemusuk, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921. Ia berasal dari keluarga desa dan kemudian meniti karier militer hingga mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan Indonesia.

Soeharto menjadi Presiden ke-2 RI dan memimpin Indonesia sejak 1967 hingga mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Masa pemerintahannya selama lebih dari tiga dekade kemudian dikenal sebagai era Orde Baru.

Di kalangan masyarakat, Soeharto juga dikenal dengan julukan “The Smiling General”, karena gaya penampilannya yang sering terlihat tenang dan tersenyum.

Bagi generasi sekarang, nama Soeharto mungkin lebih sering muncul dalam buku sejarah. Tetapi perjalanan hidupnya sebenarnya mencakup berbagai fase penting perjalanan Indonesia: dari masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, pembangunan nasional, hingga perubahan besar yang melahirkan era Reformasi.

Nama Soeharto dan Serangan Umum 1 Maret

Salah satu bagian penting dalam perjalanan militernya adalah keterlibatannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Ketika itu, Yogyakarta yang menjadi ibu kota Republik Indonesia diduduki Belanda. Belanda bahkan menyebarkan propaganda bahwa Republik Indonesia dan kekuatan militernya sudah tidak ada.

Pada 1 Maret 1949, TNI melakukan serangan besar ke Yogyakarta. Serangan dimulai sekitar pukul 06.00 dan selama kurang lebih enam jam pasukan Indonesia berhasil menguasai sejumlah wilayah kota. Soeharto yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel memimpin pasukan di sektor barat hingga kawasan Malioboro.

Serangan tersebut memiliki dampak yang lebih besar daripada sekadar pertempuran di Yogyakarta. Aksi itu menjadi pesan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada dan TNI masih mampu melakukan perlawanan.

Meski demikian, sejarah Serangan Umum 1 Maret juga memiliki perdebatan mengenai siapa sebenarnya penggagas utama serangan tersebut. Sejumlah sumber menyebut peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sementara sumber lain menempatkan Soeharto sebagai tokoh penting dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi. Karena itu, sejarah peristiwa ini lebih tepat dipahami sebagai perjuangan kolektif dengan sejumlah tokoh yang memiliki peran berbeda.

Kenapa unggahan Prabowo menarik?

Unggahan Prabowo pada 8 Juni 2026 bukan kali pertama ia mengenang Soeharto.

Pada 8 Juni 2024, ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo juga mengunggah ucapan untuk memperingati 103 tahun kelahiran Soeharto. Saat itu ia menampilkan foto lama dirinya ketika masih menjadi taruna dan Soeharto dalam sebuah upacara militer.

Dua tahun kemudian, setelah menjadi Presiden RI, Prabowo kembali mengenang tanggal yang sama.

Bagi publik, unggahan sederhana tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi. Bagi sebagian orang, Soeharto adalah tokoh sejarah dengan jasa besar dalam pembangunan Indonesia. Bagi sebagian lainnya, era Orde Baru juga merupakan periode yang penuh kontroversi, terutama terkait demokrasi, hak asasi manusia, dan praktik politik kekuasaan.

Karena itu, mengenang Soeharto hari ini bukan berarti harus melihat sejarah hanya dari satu sisi.

Justru bagi generasi Z, yang penting adalah memahami sejarah secara utuh: melihat prestasi, memahami kontroversi, dan mengambil pelajaran dari keduanya.

Satu hal yang pasti, nama Soeharto tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia modern. Dan setiap 8 Juni, tanggal kelahirannya kembali menjadi momentum untuk membuka kembali halaman sejarah tersebut.

Dari Kemusuk, seorang anak desa tumbuh menjadi prajurit, kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia selama lebih dari tiga dekade. Kini, puluhan tahun setelah era pemerintahannya berakhir, namanya masih menjadi bagian dari percakapan tentang Indonesia. (koni)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *