Channel8.co,id, Karang Anyar — Ada suasana berbeda di kawasan Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Ziarah dan doa bersama yang digelar dalam rangka HUT ke-58 Yayasan Harapan Kita dan HUT ke-40 Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan tidak berhenti pada mengenang mereka yang telah pergi.
Dari tempat yang penuh kenangan itu, kepedulian justru bergerak kepada mereka yang masih menjalani kehidupan sehari-hari.
Anak yatim, warga lanjut usia, karyawan, pedagang, petugas parkir hingga relawan dan masyarakat sekitar Giri Bangun menjadi bagian dari rangkaian bakti sosial yang digelar bersama.
Ketua Umum Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Ibu Hajah Siti Hardianti Hastuti Rukmana, hadir dalam kegiatan tersebut bersama rombongan.

Rangkaian acara diawali dengan doa bersama, pembacaan Al-Qur’an, Surah Yasin dan tahlil. Doa dipanjatkan untuk para pendahulu, termasuk almarhum Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto dan almarhumah Ibu Hajah Siti Hartinah Soeharto.
Doa juga ditujukan kepada keluarga yang telah mendahului. Harapannya sederhana: semoga seluruh almarhum dan almarhumah mendapat ampunan, rahmat, serta tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Ziarah yang Tidak Berhenti di Makam
Sekretaris Yayasan Harapan Kita, Prof. Dr. Tria Sasangka Putra, S.H., LL.M., CFE., CLA., dalam sambutannya mengingatkan bahwa kegiatan seperti ini bukan sekadar ritual tahunan.
Ada nilai yang ingin terus dijaga: pengabdian, kepedulian dan gotong royong.
Ziarah menjadi ruang untuk mengenang jasa para pendahulu. Namun, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, mengenang juga berarti meneruskan kebaikan yang pernah ditanamkan.
Karena itu, setelah doa dan ziarah, kegiatan dilanjutkan dengan aksi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: berbagi bantuan dan santunan.
Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi kuat. Doa untuk mereka yang telah meninggal berjalan beriringan dengan kepedulian kepada mereka yang masih membutuhkan.
Dari Anak Yatim hingga Pedagang Giri Bangun
Santunan dari Ketua Umum Yayasan Harapan Kita diberikan kepada anak-anak yatim dari Karang Bangun, yang diwakili oleh Aria.
Bantuan juga diberikan kepada warga lanjut usia dari Delayu, Mbah Mangun Dimetjo.

Tidak hanya itu. Kepedulian juga menyentuh orang-orang yang setiap hari berada di sekitar Astana Giri Bangun.
Haji Sapardjo Sastro, pimpinan PT Kelola Siap Nusantara, turut memberikan bantuan kepada karyawan Astana Giri Bangun, termasuk Latno, serta para pedagang dan petugas perparkiran yang diwakili Ibu Dewi.
Sementara bantuan bagi relawan dan masyarakat dari Karang Bangun, Matesih, dan Karang Lintas Bangun diserahkan oleh Bapak Jeffrey dan Ibu Lisnawati.
Bagi penerima, mungkin nilainya tidak selalu besar. Namun perhatian yang datang langsung terasa berbeda.
Ada pesan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Ketika Gotong Royong Menjadi Nyata
Kepala Pengelola Astana Giri Bangun, Haji Sukirno, juga mengajak seluruh pihak untuk menjaga kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, perhatian sederhana kepada tetangga, pekerja, pedagang, lansia, anak yatim dan relawan justru menjadi sesuatu yang berarti.
Itulah wajah lain dari peringatan ulang tahun yayasan.
Bukan hanya menghitung usia organisasi, tetapi juga menghitung seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
Dari ziarah, lahir doa.
Dari doa, tumbuh kepedulian.
Dan dari kepedulian, gotong royong kembali menemukan maknanya.
HUT ke-58 Yayasan Harapan Kita dan HUT ke-40 Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan pun menjadi pengingat: mengenang masa lalu tidak cukup hanya dengan melihat ke belakang. Kebaikan juga harus diteruskan kepada mereka yang ada di sekitar kita hari ini.
Channel8.co.id — Cerita di Balik Cerita.
(koni)
Views: 34






