Channel8.co.id, Jakarta – Cek dapurmu sekarang. Kalau di sana ada tabung pink 5,5 kg atau biru 12 kg (Bright Gas), harganya sudah naik: Rp107.000 dan Rp230.000 per tabung. Naik masing-masing Rp5.000 dan Rp12.000 sejak penyesuaian terakhir pada 16 September 2026.
Tapi kalau tabungmu yang melon hijau 3 kg — tenang. Harganya tetap Rp19.000 di pangkalan. Dikunci sampai akhir 2026.
Yang naik cuma yang non-subsidi
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: kok yang satu naik, yang satu enggak? Bukannya isinya sama-sama gas?
Sederhananya, begini. Bright Gas itu gas NON-subsidi — harganya mengikuti pasar dunia. Pemicunya: Saudi Aramco CP Oktober. CP itu Contract Price — harga acuan gas dunia yang ditetapkan perusahaan minyak Arab Saudi tiap bulan. Bulan ini propana dipatok US$680 per metric ton (naik 8,8%) dan butana US$730 per metric ton (naik 10,6%). Propana dan butana adalah dua komponen utama LPG. Harga acuan naik, harga Bright Gas ikut naik. Masuk akal, kan?
Kenapa melon bisa tetap Rp19 ribu?
Lalu, gimana dengan tabung melon? Harganya tidak mengikuti pasar — dipatok pemerintah. Harga asli satu tabung 3 kg tanpa subsidi diestimasi Rp42.750. Kamu bayar Rp19.000 di pangkalan; selisih sekitar Rp23.750 per tabung ditanggung APBN — uang negara. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan harga LPG 3 kg tidak naik hingga akhir 2026, meski harga gas dunia naik.
“Saya janji kepada Bapak Ibu semua ya, sampai 31 Desember, sekalipun harga ICP USD 100, Insyaallah harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik.”
— Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, Mei 2026
Masalahnya, persoalannya ternyata nggak sesederhana itu. Yang menahan harga melon adalah kas negara — bukan pasar. Setiap kali harga energi dunia naik, yang non-subsidi bergerak duluan; polanya selalu begitu. Yang subsidi aman… sampai ada keputusan politik untuk mengubahnya. Jaminannya, untuk sekarang: sampai 31 Desember 2026. Setelah itu? Belum jelas.
Harga agen vs harga pangkalan
Satu catatan harga biar nggak salah paham: Rp107.000 dan Rp230.000 itu harga agen untuk Jawa (juga berlaku di Bali dan NTB). Di pangkalan, biasanya lebih mahal Rp15.000–Rp20.000 per tabung. Di luar Jawa harganya beda-beda — di Papua dan Maluku, harganya bisa jauh di atas Jawa karena ongkos distribusi.
Dampaknya buat dapur dan warung
Buat pemilik warung makan yang pakai Bright Gas 12 kg: kenaikan Rp12.000 per tabung mungkin terdengar kecil. Tapi kalau seminggu habis dua tabung, itu Rp96.000 sebulan. Lumayan buat nambahin modal belanja.
Jadi: pink atau biru, siap-siap rogoh kocek lebih dalam. Melon hijau, tenang sampai akhir tahun. (koni)
BACA JUGA: Explain: Kenapa Harga Gas Bisa Naik, Tapi Gas Melon Tetap Rp19.000?
Views: 0






