Channel8.co.id
Guys, kalau kamu baru ngikutin Timnas sejak euforia juara ASEAN kemarin dan penasaran “Indonesia tuh gagal ke Piala Dunia 2026-nya gimana ceritanya?” — tulisan ini buat kamu. Kita bedah pelan-pelan, tanpa jargon bikin pusing.
Mulai dari yang paling dasar: Kualifikasi Piala Dunia zona Asia itu berlapis-lapis — ada putaran 1 sampai 4, plus playoff. Indonesia musim 2026 kemarin melaju sampai putaran 4. Itu babak penentuan: 6 tim sisa dibagi 2 grup mini, masing-masing 3 tim.
6 tim, 2 grup, cuma dua laga
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: kok cuma 3 tim per grup? Terus yang lolos berapa?
Sederhananya, begini. Formatnya single round-robin di venue terpusat — tiap tim cuma main DUA kali, tidak ada kandang-tandang. Grup A (tuan rumah Qatar): Qatar, Uni Emirat Arab, Oman. Grup B (tuan rumah Arab Saudi): Arab Saudi, Irak, Indonesia. Aturannya tegas:
Juara grup lolos LANGSUNG ke Piala Dunia. Runner-up lanjut ke putaran 5 (playoff Asia). Juru kunci? Pulang.
Format putaran 4 — diringkas dari regulasi kualifikasi zona Asia
Indonesia diundi ke Grup B. Hasilnya: kalah 2-3 dari Arab Saudi (9/10/2025), kalah 0-1 dari Irak (12/10/2025, gol Zidane Iqbal). Dua laga, nol poin, juru kunci. Selesai — tidak ada playoff, tidak ada babak tambahan.
Kenapa dua kekalahan langsung tamat?
Matematikanya kejam: dengan cuma dua laga, kekalahan pertama bikin kamu wajib menang di laga kedua; kekalahan kedua menutup semuanya. Tidak ada ruang untuk terpeleset. Itulah kenapa laga vs Irak disebut “hidup-mati” waktu itu — dan kenapa kekalahan 0-1 terasa begitu final.
Bukan cuma soal dua pertandingan
Masalahnya, persoalannya ternyata nggak sesederhana itu. Kegagalan ini bukan cuma soal dua pertandingan. Indonesia finis keempat di Grup C putaran 3 untuk sampai ke sini — pencapaian bersejarah, tapi juga menunjukkan jarak dengan elite Asia. Melawan Irak, rekornya memang mimpi buruk: tiga pertemuan sejak November 2023 semuanya kalah (1-5, 1-3, 0-2).
Apa selanjutnya: era Herdman dan jalan ke 2030
Terus sekarang gimana? Dua hal. Pertama, tongkat estafet sudah pindah. Patrick Kluivert berpisah dengan PSSI tak lama setelah tersingkir. Januari 2026, John Herdman — mantan arsitek timnas Kanada — ditunjuk. Hasilnya: juara FIFA ASEAN Cup 2026, trofi kompetitif pertama setelah penantian panjang.
Kedua, target berikutnya: Piala Dunia 2030. Kualifikasinya masih beberapa tahun lagi — waktu yang cukup untuk membangun dari fondasi Herdman. Pelajarannya dari 2026 sudah jelas: di level Asia, tidak ada ruang untuk blunder. Setiap poin mahal, setiap laga seperti final.
Jadi kalau ada yang tanya “Indonesia gagal Piala Dunia 2026 kenapa?” — jawabannya satu kalimat: kandas di grup mini putaran 4, dua kekalahan, nol poin. Tapi kalau ditanya “terus apa?” — jawabannya lebih panjang. Dan, setidaknya untuk sekarang, jawabannya sedang ditulis.
BACA JUGA: Setahun Lalu Kalah 0-1 dari Irak di Jeddah, Apa yang Berubah dari Timnas Sejak Malam Itu?
Views: 1






