Channel8.co.id – Besok, 12 Oktober, tepat satu tahun yang lalu. Di King Abdullah Sports City, Jeddah, pada dini hari waktu Indonesia, mimpi Piala Dunia 2026 dikubur oleh satu sepakan kaki kiri.
Namanya Zidane Iqbal — pemain pengganti Irak, eks Manchester United. Sekitar menit ke-75, ia memanfaatkan ruang tembak dan melepaskan tembakan keras yang tak mampu diantisipasi Maarten Paes. Skor 0-1. Peluit panjang berbunyi. Indonesia tersingkir.
Dua kekalahan, nol poin, selesai
Itu adalah kekalahan kedua Garuda di Grup B putaran 4 kualifikasi. Empat hari sebelumnya, di stadion yang sama, Indonesia kalah 2-3 dari Arab Saudi — laga dramatis dengan dua penalti Kevin Diks (menit 11 dan 88), gol Saleh Abu Alshamat (17′), dua gol Feras Albrikan (36′ lewat penalti dan 62′), plus kartu merah Mohammed Kanno di injury time. Dua laga, nol poin, juru kunci. Selesai.
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: kok dua kekalahan langsung tamat?
Sederhananya, begini. Putaran 4 itu grup mini — cuma tiga tim: Indonesia, Arab Saudi, Irak. Tiap tim main dua kali. Juara grup lolos langsung ke Piala Dunia, runner-up lanjut playoff, juru kunci pulang. Dengan dua kekalahan, Indonesia finis dengan 0 poin. Matematikanya kejam dan tidak bisa ditawar.
Ruang ganti yang menangis
Tapi angka tidak pernah bercerita tentang ruang ganti. Manajer timnas Sumardji, yang ditemui wartawan di bandara sepulang dari Jeddah, tidak membantah suasana tim hancur.
“Menangis semuanya. Jadi, ya, sampai sekarang pun kami juga masih down mental kita kaitannya dengan itu.”
— Sumardji, Manajer Timnas Indonesia, Oktober 2025
Gelandang Joey Pelupessy mengaku hancur — Piala Dunia 2026 adalah satu-satunya kesempatannya. Ole Romeny, berbulan-bulan kemudian, masih mengaku sakit hati setiap kali mendengar orang bicara soal Piala Dunia. Shin Tae-yong, yang membangun fondasi tim ini, mengirim pesan duka dari bandara.
Dari Kluivert pergi ke Herdman datang
Masalahnya, persoalannya ternyata nggak sesederhana itu. Kekalahan itu juga mengakhiri sebuah era: tak lama kemudian, Patrick Kluivert berpisah dengan PSSI.
Januari 2026, PSSI menunjuk John Herdman — mantan arsitek timnas Kanada — sebagai pelatih baru. Perjalanannya tidak mulus: Indonesia tersingkir di fase grup Piala AFF 2026. Herdman dihujat, namanya diteriaki untuk dipecat.
Lalu datang FIFA ASEAN Cup, September–Oktober 2026. Indonesia ke final, menahan imbang Thailand 2-2, menang adu penalti 4-2 di SUGBK pada 5 Oktober 2026. Juara. Menurut catatan yang dikutip media dari arsip redaksi, ini trofi kompetitif pertama setelah penantian panjang — pelatih pertama setelah era Anatoli Polosin yang memberi gelar.
Guys, coba resapi: tepat setahun setelah malam tergelap di Jeddah, Garuda mengangkat trofi di Jakarta. Dari “menangis semuanya” menjadi juara.
Apakah luka Jeddah sudah sembuh? Tanya Ole Romeny — mungkin belum sepenuhnya. Tapi setahun ini membuktikan satu hal: tersingkir bukan akhir cerita. Jalan menuju Piala Dunia 2030 dimulai dari keberanian untuk bangkit. Dan kebangkitan itu, setidaknya, sudah dimulai. (Koni)
BACA JUGA: [Explain] Gimana Sih Sistem Kualifikasi Piala Dunia? Bedah Kegagalan Indonesia 2026
Views: 0






