Channel8.co,id, Kemarin kita cerita soal PKB yang mendukung Prabowo “1.000 persen” untuk Pilpres 2029. Hari ini, cerita lanjutannya: ternyata tidak semua partai koalisi ikut “iya” secepat itu. Tiga partai memilih menahan diri: Demokrat, PKS, dan NasDem.
Sederhananya, maksudnya begini: peta koalisi kini terbagi dua. Di satu sisi, Gerindra — partainya Prabowo sendiri — plus Golkar, PKB, dan PAN sudah terang-terangan menyatakan dukung Prabowo maju lagi. Di sisi lain, Demokrat, PKS, dan NasDem belum menetapkan keputusan resmi apa pun soal Pilpres 2029.
Tapi — dan ini penting — menahan diri bukan berarti berbalik badan. Ketiga partai itu menegaskan tetap mendukung pemerintahan Prabowo sampai akhir masa jabatan pada 2029. Yang belum mereka putuskan adalah soal pencalonan 2029. Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: “dukung pemerintahan” dan “dukung capres 2029” itu dua hal yang berbeda. Yang pertama soal hari ini, yang kedua soal pemilu tiga tahun lagi.
Lalu, apa alasan masing-masing?
Demokrat: belum pernah dibahas. Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, mengatakan pembahasan soal capres dan cawapres 2029 belum pernah masuk agenda internal partainya. Alasannya: Ketua Umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat ini fokus menjalankan tugas sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Kata Herzaky, pembicaraan soal capres 2029 “ada waktunya nanti” — dan sejauh ini Demokrat “belum mendengar ada nama selain Bapak Presiden Prabowo”.
PKS: menunggu Majelis Syuro. Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad Kholid, menegaskan keputusan soal Pilpres 2029 ada di tangan Majelis Syuro — sederhananya, lembaga tertinggi pengambil keputusan di PKS, semacam “majelis penentu arah” partai. Menurut Kholid, Musyawarah Majelis Syuro menetapkan PKS mendukung pemerintahan Prabowo “sukses hingga 2029” — tapi soal Pilpres 2029, “musyawarah Majelis Syuro belum menetapkan keputusan.” Pesannya: tunaikan amanah pemerintahan dulu, soal pemilu nanti ada waktunya.
NasDem: masih digodok. Sekretaris Jenderal NasDem, Hermawi Taslim, mengatakan pembahasan dukungan 2029 masih dalam penggodokan internal. NasDem baru akan membuka pertimbangan resmi setelah tahapan Pemilu 2029 dimulai. “Masih dalam penggodokan, menunggu dimulainya tahapan pemilu 2029–2034,” katanya.
Terus, kenapa ada partai yang “iya” duluan dan ada yang “nanti dulu”? Pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga (dikutip Telegraf) menilai dukungan dini punya dua sisi: mengamankan posisi dalam pembagian kekuasaan dan membidik coattail effect. Coattail effect itu, sederhananya, “efek ekor jas”: popularitas figur capres diharapkan ikut mengangkat suara partai di pileg. Sebaliknya, menahan diri berarti menjaga daya tawar — posisi untuk bernegosiasi nanti, ketika peta sudah lebih jelas.
Masalahnya, persoalannya ternyata nggak sesederhana itu. Dukungan tiga tahun sebelum pemilu itu sinyal, bukan kontrak. Peta 2029 masih bisa berubah: tahapan pemilu belum dibuka, survei masih bergerak, dan dinamika pemerintahan masih berjalan. Yang “iya” hari ini bisa menimbang ulang; yang “nanti dulu” hari ini bisa “iya” besok — atau sebaliknya.
Buat pembaca, pelajaran dari cerita ini sederhana: jangan baca dukungan partai sebagai hasil pemilu. Baca sebagai posisi. Tiga partai menahan diri bukan karena melawan — tapi karena mereka belum mau mengunci jawaban atas pertanyaan yang jawabannya baru dibutuhkan tiga tahun lagi. (Redaksi C8)
BACA JUGA : “Dukung 1.000 Persen”: PKB Pasang Badan buat Prabowo 2029, Mesin Pilpres Mulai Panas
Views: 1






