Channel8.co.id, Sulsel – Bayangkan menunggu puluhan tahun untuk punya rumah yang layak — lalu suatu hari, kunci rumah itu benar-benar ada di tanganmu. Selasa kemarin (13/10), momen itu dialami 40 keluarga di Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan 40 unit rumah layak huni untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Program ini dibiayai APBD Sulsel Tahun Anggaran 2026, dibangun oleh prajurit TNI dari Kodam XIV/Hasanuddin, dan rampung dalam waktu 4 bulan. Penerimanya tersebar di enam desa: Panyangkalang, Bontoparang, Pattopakang, Cikoang, Laikang, dan Punaga.

Nah, di sini bagian yang sering bikin orang bertanya-tanya: kenapa tentara yang membangun rumah warga? Sederhananya, maksudnya begini — ini pola kolaborasi yang memang disengaja. Pemerintah daerah menyediakan anggaran dan menentukan penerima, sementara prajurit TNI mengerjakan pembangunannya. Hasilnya: 40 unit selesai tepat waktu dalam empat bulan. Cepat, dan tidak bertele-tele.
Penyerahan simbolisnya dilakukan langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman kepada Ny. Bae Dg. Kebo — seorang nenek berusia 84 tahun, warga Desa Panyangkalang. Hadir juga Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Bupati Takalar Firdaus Dg Manye, dan sekitar seratus undangan. Momen seorang nenek 84 tahun menerima kunci rumah barunya — itu gambar yang tidak perlu banyak kata.

Tapi di balik tawa itu, ada satu cerita yang pilu. Salah satu penerima rumah, Dg Kuasa, meninggal dunia sebelum sempat menempati rumah barunya. Rumah itu akhirnya diserahkan kepada keluarga almarhum. Bayangkan: rumah yang ditunggu-tunggu itu selesai tepat waktu — empat bulan, tidak molor — tapi pemiliknya tidak sempat membuka pintunya. Ada duka yang ikut masuk bersama kunci itu.
RTLH — singkatan dari Rumah Tidak Layak Huni — menjadi RLH – Rumah Layak Huni memang bukan istilah baru di negeri ini. Program bedah rumah sudah berjalan lintas pemerintahan dengan nama yang berbeda-beda. Yang membuat cerita Takalar ini layak diceritakan bukan skalanya — 40 unit itu kecil dibanding kebutuhan nasional — melainkan ketepatannya: anggaran jelas, dikerjakan 4 bulan, selesai, diserahkan. Di negeri yang sering mendengar janji pembangunan mangkrak, “selesai tepat waktu” adalah berita baik yang sesungguhnya.

Gubernur Andi Sudirman menyebut program ini sebagai pilot project — proyek percontohan — yang akan didorong ke kabupaten dan kota lain di Sulawesi Selatan. Artinya, kalau pola ini terbukti jalan di Takalar, 40 kunci ini bisa berlipat ganda di tempat lain.
Sederhananya, maksudnya begini, guys: rumah bukan cuma soal bata dan semen. Buat Ny. Bae Dg. Kebo yang berusia 84 tahun, kunci itu mungkin adalah hal paling melegakan dalam hidupnya. Dan buat keluarga Dg Kuasa, kunci itu adalah pengingat bahwa kadang, kabar baik datang sedikit terlambat — tapi tetap datang. (Redaksi C8)
Views: 1






