Human

Hamal, Murid SLB yang Pulang dari Kupang dengan Emas di Leher

×

Hamal, Murid SLB yang Pulang dari Kupang dengan Emas di Leher

Sebarkan artikel ini

Channel8.co.id.  Jakarta –  Namanya Muhammad Syafril Hamal Ridjal. Panggil saja Hamal. Ia murid SLB Bina Sejahtera di Bogor — dan pekan lalu, ia pulang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan medali emas melingkar di leher.

Hamal meraih emas nomor tunggal putra cabang olahraga bocce di Pekan Special Olympics Nasional (PeSONas) II 2026, yang digelar 14–18 Oktober 2026 di Kupang.

Bocce — apa itu? Sederhananya, ini olahraga lempar bola presisi. Ada satu bola target kecil. Setiap atlet melempar bolanya sedekat mungkin ke target itu. Yang paling dekat, menang. Kedengarannya sederhana, tapi menuntut fokus, ketenangan, dan kontrol yang luar biasa — melempar dengan kekuatan pas, membaca arah, mengulanginya dengan konsisten.

Dan Special Olympics? Ini ajang olahraga untuk atlet dengan disabilitas intelektual. PeSONas adalah pekan nasionalnya di Indonesia — edisi kedua tahun ini. Yang membuat capaian Hamal makin berarti: PeSONas II menjadi salah satu ajang seleksi menuju Special Olympics World Games 2027 di Santiago, Chile. Jadi emas di Kupang bukan sekadar medali — ini langkah awal menuju panggung dunia.

Gurunya di SLB Bina Sejahtera, Indriyati Siti Salamah, tidak menyembunyikan bangganya. Katanya: “Prestasi yang didapatkan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki potensi, buah dari usaha, ketekunan, dan keberanian.” Dan khusus untuk Hamal: “Kami bangga atas torehan prestasi yang mampu memotivasi teman-teman di sekolah.”

Hamal tidak berjuang sendirian. Kontingen Jawa Barat keluar sebagai juara umum PeSONas II 2026 dengan 135 medali — 59 emas, 38 perak, 38 perunggu. Kabupaten Bogor sendiri menyumbang 28 medali untuk kontingen Jabar.

Ada satu hal yang perlu diluruskan dengan jujur, karena meja redaksi menemukan dua versi: satu sumber menyebut Hamal membawa tiga emas, tapi rincian resmi perolehan medali tim bocce hanya mencatat satu emas tunggal putra atas namanya. Kami menulis yang terverifikasi: emas nomor tunggal putra. Satu emas yang pasti — dan itu sudah luar biasa.

Guys, kalau ditarik sedikit ke belakang — tau dulu baru ngomong — anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia masih sering dipandang sebelah mata. Prestasi seperti Hamal ini bukan cuma soal olahraga. Ini soal pembuktian paling sederhana: diberi kesempatan dan latihan yang tekun, setiap anak punya potensi. Persis seperti kata gurunya.

Selamat, Hamal. Langkah menuju Santiago 2027 dimulai dari Kupang. (Koni)

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Human

RY (40), ASN PPPK sekaligus relawan pemadam karhutla di Barito Selatan, meninggal dunia setelah sesak napas sepulang kerja — bukan di tengah kobaran api. Hubungan kematiannya dengan kabut asap belum dipastikan secara medis, tapi udara yang ia hirup tiap hari bercerita sendiri.