Channel8.co,id, Jakarta
Ada orang yang pergi begitu saja. Ada juga orang yang pergi setelah menyiapkan segalanya — termasuk tempat peristirahatan terakhirnya sendiri.
KH Syukron Makmun termasuk yang kedua. Ahad kemarin, 18 Oktober 2026, kiai yang dijuluki “Singa Podium” itu wafat dalam usia 84 tahun. Ia pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jagakarsa, Jakarta Selatan — pesantren yang ia dirikan tahun 1975.
Kenapa disebut “Singa Podium”? Karena gaya ceramahnya. Kiai kelahiran Sampang, Madura, 21 Desember 1941 itu dikenal sebagai orator yang berapi-api — suaranya menggelegar, tapi isinya menyejukkan. Julukan itu melekat sejak ia masih muda, bahkan sebelum berusia 30 tahun.
Tapi yang bikin kisah kepergiannya terasa istimewa justru datang dari hal yang paling sunyi: wasiatnya. Menurut penuturan putranya, wasiat terakhir sang kiai sederhana saja: “Nanti kalau saya mati, Is, jangan lama-lama, cepat kubur.”

Menurut penuturan putranya, KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun — akrab disapa Gus Faiz — sang ayah pernah menyampaikan pesan itu dengan tenang, jauh sebelum sakitnya parah. “Yang paling penting, teman-teman saya, kamu kan tahu siapa yang sering saya sebut, itu nanti tolong ada yang ngimami, ada yang mentalkinkan,” pesan sang kiai yang ditirukan putranya.
Dan ternyata, bukan cuma soal cepat. Sekitar lima tahun lalu, Kiai Syukron sudah menunjuk sendiri letak makamnya: di belakang pesantren, di bawah pohon kelapa yang ia tanam dengan tangannya sendiri. “Beliau bilang, nanti kepala saya di sini. Dan itu saya wujudkan,” kata Gus Faiz.
Guys, coba bayangkan. Seorang kiai besar, di tengah kesibukannya berdakwah ke seluruh Indonesia, meluangkan waktu menanam pohon kelapa — dan menunjuk tanah di bawahnya sebagai tempat ia akan beristirahat. Lima tahun kemudian, pohon itu tumbuh, dan wasiatnya terpenuhi: Ahad kemarin, ribuan pelayat mengantarnya ke bawah pohon itu, persis seperti yang ia mau.
Detik-detik terakhirnya, menurut cerita keluarga, juga berjalan persis seperti yang ia mau: cepat, tenang. Setelah dua pekan sakit jantung yang berat, ia wafat pada Ahad pagi — dan dimakamkan bakda Zuhur hari itu juga, sekitar pukul 13.30 WIB. Cepat, seperti wasiatnya.
Ada satu detail kecil yang diceritakan Gus Faiz dan sulit dilupakan: di hari-hari terakhirnya, sang kiai sering bertanya lirih, “Is, saya sesak napas ini apa sudah mau mati ya?” Kalimat yang sederhana — tapi menusuk bagi siapa pun yang mendengarnya.
Ia juga sempat berpesan agar para santrinya membacakan Al-Quran sebagai saksi, dan meminta shalat jenazah diimami oleh KH Mahfudz Asirun. Pesan-pesan itu ditunaikan satu per satu.
Di luar mimbar, Kiai Syukron juga pernah duduk di kepengurusan partai berlambang kakbah — ia Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP periode 2011–2019. Tapi ia selalu mengingatkan: dakwah tidak boleh dikorbankan demi politik.
UPDATE — Tahlil Malam ke-2 & Wasiat untuk IKAMA (Senin, 19/10). Tahlil malam kedua untuk almarhum KH Syukron Makmun digelar terbuka untuk umum di Ponpes Daarul Rahman, Jagakarsa, pada Senin (19/10) malam. Pada hari yang sama, Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) H. Muhammad Rawi menyampaikan wasiat almarhum — yang menurut Asatu Online semasa hidup menjadi pendiri sekaligus Ketua Dewan Penasihat DPP IKAMA. Dalam pertemuan dengan Rawi dan para pengurus, almarhum berwasiat agar dimakamkan di tempat yang telah ditunjuk, dan para santrinya mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari sepanjang masa. “IKAMA merupakan tempat mengabdi, bukan partai politik untuk mencari jabatan dan bukan perusahaan untuk mencari kekayaan,” pesan almarhum. “Prinsip dasar yang mendasari pergerakan dan mengilhami AD/ART IKAMA adalah falsafah Madura Bhuppa’, Bhabhu’, Ghuru, Rato…” kata Rawi kepada wartawan, Senin (19/10/2026).
Malam ini, di pesantrennya, tahlil digelar untuk malam ketiga. Tradisinya: sepekan penuh, tiap malam, para santri dan jamaah berkumpul mendoakan sang kiai.
Selamat jalan, Kiai. Pohon kelapanya sudah tumbuh besar. Dan di bawahnya, sang penanam kini beristirahat dengan tenang. (Redaksi C8)
Views: 1






