Ringkasan tulisan: Kurs acuan Bank Indonesia, JISDOR, ditutup di Rp18.183 per dolar AS pada Rabu 28 Oktober — level terlemah sepanjang sejarah. BI janji terus intervensi, dan pasar kini menanti keputusan The Fed dini hari nanti.
Channel8.co.id, Jakarta, — Kalau kamu merasa harga-harga makin berat belakangan ini, ada satu angka yang ikut menjelaskan kenapa: nilai tukar rupiah baru saja mencetak rekor terlemah.
Rabu 28 Oktober 2026, kurs acuan Bank Indonesia yang bernama JISDOR ditutup di Rp18.183 per dolar AS, melemah 0,24 persen dari Rp18.139 sehari sebelumnya. Menurut Bloomberg Technoz dan Kontan, ini adalah posisi JISDOR paling lemah sepanjang sejarah.
Sebentar, apa itu JISDOR? Sederhananya, JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) adalah kurs acuan yang dihitung Bank Indonesia dari transaksi jual-beli dolar antarbank di pasar spot. Jadi ini bukan harga di money changer, tapi patokan resmi yang dipakai pasar dan dunia usaha. Kalau JISDOR melemah, artinya rupiah secara umum sedang tertekan terhadap dolar.
Kenapa rupiah tertekan? Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan dalam keterangan tertulis Rabu kemarin: ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, dan itu meningkatkan risiko fiskal ke depan. Di saat yang sama, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat meningkat, investor global memilih aset yang dianggap aman — dalam bahasa pasar disebut sentimen risk-off — sehingga dana keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, kekhawatiran soal potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dan kebutuhan valas menjelang akhir bulan ikut menambah tekanan.
Lalu apa yang dilakukan BI? Erwin menegaskan BI tetap hadir di pasar lewat transaksi NDF, DNDF, dan spot, serta membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Diterjemahkan ke bahasa sehari-hari: NDF dan DNDF itu semacam kontrak lindung nilai dalam rupiah dan dolar untuk meredam gejolak, sementara transaksi spot adalah jual-beli dolar langsung. Tujuannya satu: menjaga rupiah tidak jatuh bebas. BI juga mencatat cadangan devisa tetap US$146,3 miliar per akhir September 2026 — amunisi yang menurut BI masih memadai.

Ada kabar yang agak menenangkan dari pasar saham: IHSG justru berbalik menguat 0,31 persen ke 5.282,312 pada penutupan Rabu, setelah sempat terperosok ke 5.179 pada siang hari. Jadi, saham rebound, rupiah melemah — dua arah yang berbeda di hari yang sama.
UPDATE — Kamis (29/10): The Fed menahan suku bunga. Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,75–4,00 persen, sesuai ekspektasi pasar yang ditulis artikel ini. Keputusan diumumkan Kamis 29 Oktober pukul 01.00 WIB, dengan suara 10–2: Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menolak karena menginginkan kenaikan 25 basis poin. Dalam pernyataannya, The Fed menyebut inflasi ‘masih tinggi’ dan ekonomi tumbuh ‘kuat’ — naik dari ‘solid’ pada September — serta berjanji ‘akan menghadirkan stabilitas harga’, tanpa memberi sinyal soal Desember. Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers menegaskan diskusi dua hari itu berfokus pada stabilitas harga: ‘kami belum mencapai stabilitas harga.’ (Sumber: pernyataan resmi FOMC 28/10/2026, dikutip Morningstar/Dow Jones; laporan KPMG dan Reuters soal konferensi pers Warsh.)
Buat kita yang bukan trader, apa artinya semua ini? Rupiah yang lemah bikin barang impor — dari BBM sampai bahan baku dan gadget — berpotensi lebih mahal, dan itu bisa merembet ke harga di warung dan toko. Makanya, rekor Rp18.183 ini bukan sekadar angka di layar Bloomberg: ini angka yang ujungnya sampai ke dompet kita. (redaksi C8)
Views: 1






