Bisnis

Sepekan Lalu Menghijau, Senin Ini IHSG dan Rupiah Kompak Memerah

×

Sepekan Lalu Menghijau, Senin Ini IHSG dan Rupiah Kompak Memerah

Sebarkan artikel ini

Ringkasan tulisan: Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 1,22 persen ke level 5.373 pada Senin, 26 Oktober 2026, sementara rupiah ditutup melemah ke Rp18.135 per dolar AS — berbalik dari penguatan 4,90 persen IHSG sepekan sebelumnya. Ini penting karena pembalikan satu hari ini menunjukkan pasar sedang menunggu keputusan besar dari bank sentral Amerika Serikat, dan pembaca perlu membedakan antara koreksi satu hari dengan perubahan arah pasar secara keseluruhan.

Channel8.co.id, Jakarta, — Masih ingat kabar sepekan lalu, ketika IHSG naik 4,90 persen dalam sepekan dan disebut-sebut sebagai yang tertinggi dibanding bursa global? Senin ini, ceritanya berbalik — dan berbaliknya cukup tajam untuk membuat banyak orang bertanya-tanya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — angka yang merangkum pergerakan harga seluruh saham di Bursa Efek Indonesia — dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026 di level 5.442,30, naik tipis 3,04 poin atau 0,06 persen dari penutupan Jumat, 23 Oktober 2026 di level 5.439,26. Tapi penguatan itu tidak bertahan. Sepanjang hari indeks terus tertekan, sempat menyentuh titik terendah 5.349, dan akhirnya ditutup melemah 1,22 persen ke level 5.373, turun 66,17 poin. Pada penutupan sesi pertama saja, indeks sudah berada di level 5.384,97, turun sekitar 1 persen.

Tekanannya merata. Menurut laporan yang mengutip data perdagangan, seluruh sektor saham melemah — infrastruktur turun paling dalam 2,47 persen, disusul energi 2,36 persen dan teknologi 2,06 persen. Indeks LQ45, yang berisi 45 saham unggulan, ikut turun 0,89 persen ke level 542,16. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp14,98 triliun, dengan volume 36,12 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,79 juta kali transaksi. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama, terutama saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Di sisi mata uang, rupiah ikut melemah. Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah ditutup melemah 55 poin atau 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat.

Lalu, kenapa pasar berbalik dalam sehari? Penjelasan yang disampaikan para pengamat pasar menunjuk ke kombinasi sentimen global. Pertama, harga minyak yang kembali menguat hingga sempat menembus US$117 per barel, di tengah ketidakpastian soal keputusan Presiden AS Donald Trump terkait Iran — apakah mencapai kesepakatan dengan Teheran atau justru mengakhirinya. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi juga menyebut berlanjutnya serangan kelompok Houthi Yaman dan memburuknya situasi keamanan di sekitar Laut Merah. Kedua, investor sedang menunggu rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bank sentral AS, The Fed, pada 27–28 Oktober 2026, yang akan diikuti rilis inflasi pilihan The Fed, yaitu indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti. Ketiga, arus jual investor asing yang masih berlanjut di pasar saham domestik.

Catatan pasar: Arus jual asing pada Senin juga tercatat: investor asing membukukan jual bersih Rp1,85 triliun di seluruh pasar, menurut data BEI yang dikutip RTI Business.

Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: apakah penurunan satu hari ini berarti pasar sudah runtuh? Belum tentu. Sepekan sebelumnya IHSG naik 4,90 persen — jadi penurunan 1,22 persen pada Senin ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi di tengah penantian keputusan The Fed, bukan vonis atas arah pasar sebulan ke depan. Yang patut dipantau berikutnya adalah hasil FOMC 27–28 Oktober dan apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.200-an atau justru terus tertekan. Artikel ini adalah kabar pasar, bukan rekomendasi beli atau jual — supaya kamu membaca angka merah dengan kepala dingin, bukan panik sesaat. (redaksi C8)

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bisnis

Mulai 25 Oktober 2026, usaha mikro dan kecil yang menjual produk dalam negeri lewat lokapasar berhak atas potongan biaya layanan minimal 50 persen, setelah mendaftar lewat aplikasi SAPA UMKM dan lolos verifikasi. Ini penting karena biaya admin selama ini menggerus margin penjual kecil — tapi potongan ini tidak berlaku untuk semua produk dan tidak otomatis turun di hari pertama, jadi ada syarat yang wajib dipahami sebelum berharap tagihan langsung berkurang.

Bisnis

Harga emas Antam 1 gram stagnan di Rp2.540.000 pada Sabtu, 24 Oktober 2026, setelah turun dari Rp2.574.000 pada Senin, 19 Oktober — sementara harga buyback-nya bertahan di Rp2.335.000 per gram. Ini penting buat siapa pun yang berencana beli atau jual emas akhir pekan ini, karena selisih Rp205.000 per gram antara harga beli dan harga jual kembali itulah yang menentukan untung-rugi, bukan harga beli semata.

Bisnis

IHSG menutup perdagangan Jumat (23/10) menguat 0,95% ke level 5.439,25 — reli empat hari beruntun sejak Selasa. Penguatan didorong saham-saham energi di tengah lonjakan harga minyak pasca serangan Houthi di Arab Saudi, plus sentimen reformasi BEI yang mulai berlaku 2 November. Ini sinyal pasar mulai percaya diri lagi — tapi bayang-bayang pelemahan Wall Street dan isu klasifikasi MSCI masih mengintai.

Bisnis

Kamis 22/10/2026, IHSG dibuka anjlok 1,51% ke 5.247,98 lalu berbalik arah dan ditutup menguat 1,12% ke level 5.387-an — rebound hari ketiga beruntun di tengah mayoritas bursa Asia yang melemah. Rupiah justru melemah ke Rp18.060-an per dolar AS.

Bisnis

RDG BI 20–21/10/2026: BI-Rate ditahan 5,75% (melawan prediksi mayoritas analis), Deposit Facility naik 25 bps ke 5,00%, Lending Facility ditahan 6,50%, insentif DNDF ditingkatkan. IHSG berbalik menguat 0,94% ke 5.328,36; JISDOR Rp17.986.