Channel8.co.id, Jakarta, Rabu (21/10) kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu pasar. Bank Indonesia mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober — dan hasilnya di luar dugaan mayoritas analis.
Keputusannya: BI-Rate DITAHAN di 5,75 persen. Padahal, survei CNBC Indonesia Research mencatat 10 dari 13 institusi memperkirakan BI akan menaikkan bunga 25 basis poin ke 6,00 persen. BI memilih jalan yang berlawanan dengan tebakan pasar.
Tapi tunggu — ada kejutan kedua. Di saat BI-Rate ditahan, suku bunga Deposit Facility justru DINAIKKAN 25 basis poin menjadi 5,00 persen (dari 4,75 persen). Sementara Lending Facility ditahan di 6,50 persen.
Buat yang bingung — wajar, karena ini memang sinyal campuran. Sederhananya begini:
BI-Rate itu “bunga acuan”: patokan utama yang memengaruhi bunga kredit dan denyut ekonomi secara umum. Ditahan artinya BI belum mau mengerem atau menggas ekonomi lewat jalur ini. Deposit Facility itu bunga yang dibayar BI kepada bank-bank yang menitipkan kelebihan dananya di BI. Dinaikkan artinya bank makin untung menaruh duit di BI — dan biasanya, bunga deposito bank ikut terdorong naik. Kabar baik buat kamu yang nabung deposito. Lending Facility itu bunga pinjaman dari BI ke bank — ditahan, tidak berubah.
Kenapa BI main aman tapi waspada? Kata Gubernur BI Destry Damayanti, kebijakan ini “tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat”, dengan sasaran inflasi 2,5±1 persen untuk 2026 dan 2027.
Tekanan eksternalnya nyata. Pada 20 Oktober, rupiah tercatat Rp17.985 per dolar AS — terdepresiasi 0,61 persen dibanding akhir September — dipengaruhi ketegangan geopolitik Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, dan sentimen investor asing. Destry bahkan blak-blakan soal MSCI: BI sempat “melakukan assessment” dan “cukup diskusi secara pahit sekali” menyikapi tekanan ke rupiah saat isu reklasifikasi MSCI mencuat.
BI juga meningkatkan insentif lindung nilai lewat instrumen DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward). Terjemahannya: fasilitas buat investor dan perusahaan untuk melindungi nilai tukar rupiahnya dari gejolak — supaya mereka betah menaruh modal di Indonesia. Tujuannya tiga: menarik aliran modal asing, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar uang.
Pasar merespons positif. IHSG yang sempat melemah 0,84 persen ke 5.234,36 pada sesi I, berbalik menguat dan ditutup naik 0,94 persen (+49,47 poin) ke 5.328,36. Rupiah pun menguat tipis: kurs acuan JISDOR 21 Oktober tercatat Rp17.986 per dolar AS, menguat 0,11 persen dari Rp18.006 sehari sebelumnya.
Buat rakyat, artinya apa? Tiga kelompok, tiga nasib:
Penabung boleh senyum tipis. Deposit Facility naik ke 5,00 persen membuat bank dapat imbal hasil lebih tinggi menaruh kelebihan dana di BI — bunga deposito bank biasanya ikut terdorong naik.
Peminjam belum lega. BI-Rate masih 5,75 persen — level tinggi — artinya bunga KPR, kredit kendaraan, dan kredit konsumsi belum akan turun dalam waktu dekat. Ini trade-off yang dipilih BI demi menjaga rupiah.
UMKM dapat napas dari sisi lain. BI memangkas GWM (Giro Wajib Minimum — cadangan wajib yang harus disimpan bank di BI) untuk melonggarkan likuiditas: bank punya ruang lebih besar menyalurkan kredit ke sektor riil. Peluang pembiayaan UMKM lebih longgar — dengan catatan, detail tahapannya masih menunggu pengumuman resmi.
Sejarah singkatnya — tau dulu baru ngomong: BI-Rate naik kumulatif 100 basis poin sepanjang Mei–Juni 2026, dari 4,75 persen ke 5,75 persen, dan bertahan di situ sampai sekarang. Keputusan kemarin menegaskan satu hal: BI lebih takut rupiah goyang daripada ekonomi melambat. Pilihan yang pahit, tapi disengaja. (redaksi C8)
Views: 0






