Oleh: Thowaf Zuharon, S.IP
Sejarah panjang kaum Yahudi di Iran tidak dapat dipahami sebagai satu narasi tunggal. Ia bukan semata kisah pengasingan, dan juga bukan sekadar cerita tentang perlindungan. Sejarah ini adalah rangkaian proses perpindahan, adaptasi, dan ketahanan—dimulai dari masa awal dalam tradisi kenabian hingga realitas politik Iran kontemporer.
Dalam tradisi Yahudi dan Islam, kisah Nabi Musa menandai fase penting dalam pembentukan identitas Bani Israel. Identitas ini terbentuk melalui pengalaman kolektif berupa penindasan, pembebasan, dan pencarian tanah yang dijanjikan. Namun perjalanan sejarah membawa sebagian dari mereka keluar dari Palestina. Setelah kehancuran Yerusalem oleh Babilonia pada abad ke-6 SM, ribuan orang Yahudi dipindahkan ke wilayah Mesopotamia. Dari sana, sebagian melanjutkan migrasi ke timur, memasuki wilayah Persia. Perpindahan ini menjadi dasar terbentuknya komunitas Yahudi di Iran.
Perubahan besar terjadi pada masa kekuasaan Cyrus Agung. Setelah menaklukkan Babilonia pada tahun 539 SM, ia mengizinkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Suci. Kebijakan ini diakui sebagai salah satu titik penting dalam sejarah diaspora Yahudi. Meski demikian, tidak semua kembali. Sebagian memilih menetap di Persia dan membangun kehidupan baru di bawah pemerintahan yang relatif memberi ruang bagi keberagaman.
Sejak periode tersebut, Persia berkembang menjadi salah satu pusat penting kehidupan Yahudi di luar Palestina. Komunitas Yahudi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkontribusi dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Mereka berperan sebagai pedagang, pengrajin, dan bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan Persia dengan Asia Tengah hingga India. Hubungan mereka dengan penguasa Persia bersifat dinamis—terkadang stabil, tetapi pada masa tertentu juga diwarnai tekanan—namun tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
Masuknya Islam pada abad ke-7 tidak menghapus keberadaan komunitas Yahudi di Persia. Dalam struktur masyarakat Islam, mereka diakui sebagai ahl al-dhimma, yaitu kelompok yang dilindungi dengan konsekuensi adanya batasan sosial tertentu. Status ini menciptakan keseimbangan yang kompleks: terdapat jaminan keamanan, tetapi juga posisi sosial yang tidak sepenuhnya setara. Meski demikian, komunitas Yahudi tetap mempertahankan identitas keagamaan dan peran ekonomi mereka.
Pada periode berikutnya, kota-kota seperti Isfahan dan Shiraz berkembang menjadi pusat kehidupan Yahudi Persia. Di Isfahan, kawasan Yahudiyah menjadi pusat aktivitas ekonomi komunitas. Sementara itu, di Shiraz, kehidupan keagamaan berlangsung lebih konservatif dengan penekanan pada pelestarian tradisi. Komunitas ini menunjukkan daya tahan sosial yang kuat, bahkan ketika menghadapi periode diskriminasi, khususnya pada masa Safavid.
Memasuki abad ke-20, terutama pada masa pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi, komunitas Yahudi Iran mengalami kemajuan signifikan dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Mereka mulai memasuki sektor profesional, seperti kedokteran, akademisi, dan dunia usaha. Periode ini membuka peluang integrasi sosial yang lebih luas dibandingkan masa sebelumnya.
Namun, situasi tersebut berubah drastis setelah Revolusi Iran 1979 yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Perubahan sistem politik memicu ketidakpastian sosial yang besar. Dalam waktu singkat, sebagian besar komunitas Yahudi Iran memilih bermigrasi ke Amerika Serikat, Israel, dan Eropa. Eksodus ini tidak hanya mengurangi jumlah populasi, tetapi juga mengubah struktur sosial komunitas secara signifikan.
Meskipun demikian, komunitas Yahudi tidak sepenuhnya hilang dari Iran. Mereka tetap diakui sebagai minoritas resmi, memiliki perwakilan di parlemen, serta menjalankan institusi keagamaan dan sosial. Dalam konteks modern, posisi mereka tetap kompleks: di satu sisi diakui sebagai warga negara, tetapi di sisi lain harus beradaptasi dengan dinamika politik yang sensitif.
Saat ini, komunitas Yahudi Iran masih bertahan dalam jumlah terbatas, terutama di Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Aktivitas mereka umumnya berada di sektor lokal, seperti perdagangan, layanan medis, dan kehidupan komunitas yang relatif tertutup namun stabil.
Di luar Iran, diaspora Yahudi Iran justru berkembang pesat. Di Amerika Serikat dan Israel, mereka menunjukkan kemajuan dalam bidang ekonomi, bisnis, dan teknologi. Hal ini menciptakan perbedaan mencolok antara komunitas yang bertahan di Iran dan mereka yang berkembang di luar negeri.
Dari sudut pandang sejarah, terdapat ironi yang patut dicermati. Persia—dan kemudian Iran—merupakan salah satu wilayah yang sejak masa kuno memberikan ruang bagi keberlangsungan komunitas Yahudi. Dari era Cyrus Agung hingga masa modern, komunitas Yahudi tetap hidup di wilayah ini, bahkan ketika di tempat lain mereka mengalami pengusiran atau kehancuran.
Namun dalam konteks geopolitik kontemporer, hubungan tersebut berubah menjadi kompleks dan sering kali konfrontatif. Ketegangan antara Iran dan Israel, serta dinamika politik global yang melibatkan kekuatan Barat, menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak dapat disederhanakan sebagai hubungan antar identitas keagamaan semata.
Pada akhirnya, sejarah Yahudi di Iran bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga cerminan dinamika hubungan antarperadaban. Ia menunjukkan bahwa relasi antar kelompok dapat berubah seiring waktu—dari koeksistensi menuju ketegangan. Di tengah perubahan tersebut, komunitas Yahudi Iran yang masih bertahan menjadi pengingat bahwa mereka pernah, dan hingga kini tetap, menjadi bagian dari sejarah panjang di bawah peradaban Persia. (Thowaf Zuharon)
Catatan penulis :

Thowaf Zuharon S.IP
Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial
============





