Dari Sungai Dusun hingga menjadi FELDA Soeharto, sebuah kampung di Selangor menyimpan kisah hubungan Indonesia–Malaysia dan jejak diplomasi Presiden Soeharto.
Channel8.co.id, Selangor — Bayangkan kamu sedang menyusuri jalan di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Di antara pepohonan, kamu menemukan sebuah papan bertuliskan: “Selamat Datang ke FELDA Soeharto.”
Sekilas, nama itu mungkin membuat orang Indonesia bertanya-tanya. Mengapa nama Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, justru digunakan untuk sebuah kawasan permukiman di negara tetangga?
Ini bukan cerita legenda. FELDA Soeharto benar-benar ada di Distrik Hulu Selangor, Negeri Selangor, Malaysia. Kawasan ini bahkan tercatat dalam situs informasi resmi pemerintah Malaysia melalui jaringan FELDA dan masih dapat ditemukan pada peta digital.
Di balik namanya, tersimpan cerita tentang pembangunan pedesaan, kunjungan kenegaraan, dan hubungan dua negara yang pernah mengalami ketegangan serius.

Berawal dari kawasan perkebunan
Sebelum dikenal sebagai FELDA Soeharto, kawasan ini bernama Sungai Dusun. Pengembangannya dimulai pada 1962, dengan kelapa sawit sebagai salah satu komoditas utama.
Kawasan tersebut merupakan bagian dari program Federal Land Development Authority (FELDA), lembaga pemerintah Malaysia yang dibentuk pada 1956 untuk mengembangkan kawasan pertanian dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan.
Program ini memberi kesempatan kepada keluarga-keluarga peserta untuk tinggal dan mengelola lahan pertanian. Dalam perkembangannya, perkebunan kelapa sawit menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Menurut catatan sejarah FELDA Soeharto, pada 1966 tercatat 119 peserta awal yang mengikuti program pembukaan lahan Sungai Dusun. Jumlah itu kemudian berkembang hingga ratusan peserta.
Model pembangunan ini memiliki kemiripan dengan program transmigrasi di Indonesia, terutama dalam upaya membuka kawasan baru dan membangun pusat permukiman. Meski demikian, keduanya memiliki sistem kelembagaan dan pengaturan lahan yang berbeda.
Sampai di sini, Sungai Dusun sebenarnya sudah memiliki arti penting bagi pembangunan pedesaan Malaysia. Namun, sebuah kunjungan kenegaraan kemudian membuat namanya dikenal jauh melampaui kawasan perkebunan tersebut.
18 Maret 1970: Kunjungan yang meninggalkan jejak
Pada 18 Maret 1970, Presiden Soeharto mengunjungi kawasan FELDA Sungai Dusun dalam rangkaian kunjungan resminya ke Malaysia.
Saat itu, Soeharto ingin melihat secara langsung program pembangunan pedesaan yang dijalankan pemerintah Malaysia. Salah satu dokumentasi diplomatik Malaysia bahkan mencatat kunjungannya ke kawasan pengembangan tanah FELDA, sekitar 50 mil di utara Kuala Lumpur, ketika ia mencoba memanen buah kelapa sawit.
Kunjungan itu berlangsung pada masa penting hubungan Indonesia–Malaysia.
Pada era Presiden Soekarno, kedua negara sempat terlibat dalam Konfrontasi Indonesia–Malaysia pada 1963–1966. Ketegangan tersebut mereda setelah pergantian kepemimpinan di Indonesia dan proses pemulihan hubungan bilateral.
Memasuki 1970, kedua negara berupaya memperkuat kembali hubungan melalui kerja sama diplomatik dan pembangunan kawasan.
Di tengah proses itu, kunjungan Soeharto ke Sungai Dusun menjadi bagian dari kisah yang menghubungkan diplomasi tingkat tinggi dengan kehidupan masyarakat di sebuah permukiman pertanian.
Nama Sungai Dusun kemudian dikenal sebagai FELDA Soeharto, untuk menghormati kunjungan Presiden Indonesia tersebut.
Bukan sekadar nama di peta
Kini, nama Soeharto tidak hanya menjadi penanda geografis. Nama tersebut juga melekat pada sejumlah fasilitas masyarakat di kawasan itu.
Ada sekolah yang menggunakan nama Kampung Soeharto, fasilitas kesehatan yang dikenal sebagai Klinik Kesihatan Soeharto, serta fasilitas umum yang menjadi bagian dari kehidupan warga.

Dokumentasi dan catatan sejarah setempat juga menghubungkan kawasan ini dengan kegiatan masyarakat yang berkembang sejak masa awal pembukaan lahan.
Bagi generasi yang lahir jauh setelah 1970, nama tersebut mungkin terasa seperti peninggalan dari masa lalu. Namun, bagi warga yang tumbuh di kawasan itu, nama kampung merupakan bagian dari identitas tempat tinggal mereka.
Pada 2013, kantor berita ANTARA pernah melaporkan kebanggaan seorang warga bernama Adam Sukarno menjadi bagian dari masyarakat Kampung Soeharto. Laporan itu juga menyoroti keberadaan warga keturunan Jawa di kawasan tersebut.
Fakta ini menarik karena sejarah hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya berlangsung melalui pertemuan presiden, perjanjian bilateral, atau pernyataan resmi. Sejarah juga hadir dalam kehidupan masyarakat, termasuk warga keturunan Indonesia yang telah menetap lintas generasi di Malaysia.
Apa hubungannya dengan kepemimpinan Soeharto?
Pertanyaan ini membawa kita pada konteks yang lebih luas.
Soeharto memimpin Indonesia sejak 1967 hingga 1998. Selama masa pemerintahannya, stabilitas politik, pembangunan ekonomi, dan hubungan luar negeri menjadi bagian penting dari arah kebijakan nasional.
Indonesia juga berperan sebagai salah satu negara pendiri ASEAN bersama Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina melalui Deklarasi Bangkok pada 8 Agustus 1967.
Pemulihan hubungan Indonesia–Malaysia setelah Konfrontasi menjadi salah satu bagian penting dari upaya membangun stabilitas Asia Tenggara. Kedua negara memiliki kepentingan untuk mengurangi ketegangan dan memperluas kerja sama di kawasan.
Dalam konteks tersebut, kunjungan Soeharto ke FELDA Sungai Dusun dapat dibaca sebagai salah satu jejak hubungan bilateral yang berkembang melalui agenda pembangunan.
Namun, kita perlu membedakan dua hal: fakta bahwa sebuah kawasan menggunakan nama Soeharto dan penilaian menyeluruh terhadap kepemimpinannya.
Nama kampung tersebut merupakan bukti penghormatan yang berkaitan dengan kunjungan bersejarah. Akan tetapi, keberadaan nama itu saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh kebijakan Soeharto mendapat pengakuan atau persetujuan masyarakat Malaysia.
Penilaian terhadap pemerintahannya tetap perlu mempertimbangkan berbagai sisi, termasuk pembangunan ekonomi, stabilitas kawasan, pembatasan demokrasi, serta persoalan hak asasi manusia.
Dengan cara itu, sejarah dapat dibaca secara lebih utuh tanpa menghilangkan fakta maupun mengabaikan kritik.
Pelajaran bagi generasi muda
Bagi Gen Z, kisah Kampung Soeharto menawarkan cara menarik untuk memahami sejarah. Kita tidak selalu harus memulainya dari buku tebal atau ruang kelas.
Terkadang, sejarah justru dimulai dari sebuah nama di peta digital.
Dari nama itu, kita bisa menelusuri siapa tokohnya, mengapa sebuah kawasan dinamai demikian, apa yang terjadi pada masa tersebut, dan bagaimana hubungan antarnegara berkembang setelahnya.

Kampung Soeharto juga mengingatkan bahwa diplomasi tidak hanya berlangsung di meja perundingan. Kunjungan pemimpin, kerja sama pembangunan, dan hubungan antarmasyarakat dapat meninggalkan jejak yang bertahan selama puluhan tahun.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi bahan refleksi tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan negara tetangga. Pengaruh sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya wilayah atau kekuatan ekonominya, tetapi juga oleh kemampuannya membangun kepercayaan, menghormati kepentingan bersama, dan merawat hubungan lintas generasi.
Sejarah yang masih bisa dikunjungi
Lebih dari setengah abad setelah kunjungan Soeharto pada 1970, FELDA Soeharto tetap menjadi penanda sejarah hubungan Indonesia–Malaysia.
Kawasan ini bukan monumen yang hanya menyimpan kenangan seorang presiden. Ia juga merupakan tempat tinggal masyarakat, ruang aktivitas ekonomi, dan bagian dari perjalanan pembangunan pedesaan Malaysia.
Di sinilah menariknya sejarah: sebuah peristiwa diplomatik yang berlangsung puluhan tahun lalu dapat meninggalkan jejak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat hingga masa kini.
Nama Kampung Soeharto mungkin sederhana. Namun, di baliknya terdapat kisah tentang masa lalu yang penuh dinamika, hubungan dua negara yang terus berkembang, dan pertanyaan tentang bagaimana sebuah bangsa ingin dikenang oleh tetangganya.
Sebab, sejarah yang penting bukan hanya sejarah yang tercatat dalam buku. Sejarah juga hidup dalam nama tempat, ingatan masyarakat, dan jejak yang masih dapat ditemukan oleh generasi berikutnya.
Kampung Soeharto menjadi salah satu pengingat bahwa perjalanan hubungan Indonesia–Malaysia memiliki banyak cerita yang layak ditelusuri kembali.
Reporter: Koni Bardianto | Channel8.co.id — Cerita di Balik Cerita.
Views: 3






