Oleh: Dodit T. Setiyohadi
Channel8.co.id – Agustus 1948. Republik Indonesia belum genap tiga tahun berdiri. Belanda masih menjadi ancaman dari luar, sementara dari dalam negeri muncul konflik yang membuat sesama pejuang saling curiga.
Di tengah situasi yang penuh ketegangan itu, sebuah misi berisiko tinggi dijalankan.
Tokohnya adalah seorang perwira muda bernama Letkol Soeharto.
Tugasnya bukan memimpin pertempuran. Bukan pula membawa pasukan.
Ia justru harus menemui orang-orang yang berada di tengah pusaran konflik politik dan militer yang semakin panas.
Tujuannya: mencegah perpecahan di tubuh militer Republik.
Saat itu, kekuatan militer di wilayah Karesidenan Surakarta berada dalam situasi rumit. Divisi Panembahan Senopati mengalami perpecahan sikap. Sebagian tetap loyal kepada pemerintah Republik Indonesia di bawah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Sebagian lainnya bersimpati kepada Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang memiliki hubungan dengan kelompok komunis pimpinan Muso.
Ketegangan bahkan sempat terjadi dengan pasukan Divisi Siliwangi yang melakukan hijrah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.
Situasi inilah yang membuat Panglima Besar Jenderal Soedirman mengambil langkah.
Soeharto ditugaskan menemui Letkol Suadi, komandan Divisi Panembahan Senopati yang berada di Wonogiri.
Misinya jelas: meyakinkan Suadi agar tidak terseret ke dalam konflik politik yang sedang dimainkan kelompok FDR/PKI.
Ada satu hal menarik dari sosok Suadi. Ia bukan orang sembarangan bagi Jenderal Soedirman. Suadi dikenal dekat dengan Panglima Besar dan pernah menjadi bagian dari lingkaran pengawalnya.
Namun, pertemuan Soeharto dengan Suadi justru membawa cerita ke arah yang lebih berbahaya.
Alih-alih sekadar mendengar penjelasan Soeharto, Suadi mengajaknya pergi ke Madiun.
Di kota itulah Soeharto kemudian berhadapan langsung dengan salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah politik Indonesia: Muso.
Dari Wonogiri Menuju Madiun
Sebelumnya, Soeharto disebut hendak menemui Amir Sjarifuddin.
Namun rencana itu tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Amir belum dapat ditemui. Dalam situasi tersebut, Soeharto justru berhadapan langsung dengan Muso, tokoh komunis yang baru kembali dari Uni Soviet dan kemudian menjadi salah satu pemimpin utama gerakan yang berujung pada Peristiwa Madiun.
Pertemuan itu menjadi salah satu episode penting menjelang pecahnya konflik bersenjata.
Soeharto mencoba membuka ruang dialog.
Pesannya sederhana: jangan sampai sesama kekuatan Republik saling menghancurkan ketika Belanda masih menjadi musuh yang nyata.
Tetapi pembicaraan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Sikap Muso terhadap pemerintahan Soekarno-Hatta tetap keras. Ketegangan politik yang sebelumnya hanya berupa perbedaan sikap semakin mengarah pada konfrontasi terbuka.
Soeharto akhirnya kembali ke Yogyakarta.
Ia membawa laporan mengenai situasi yang dilihat dan didengarnya sendiri di Madiun.
Laporan itu kemudian menjadi bagian dari informasi yang diterima pimpinan Republik ketika situasi politik dan militer semakin memburuk.
18 September 1948: Madiun Meledak
Ketegangan akhirnya berubah menjadi pemberontakan.
Pada 18 September 1948, kelompok yang berafiliasi dengan PKI mengambil alih sejumlah titik penting di Madiun dan memproklamasikan pemerintahan yang mereka sebut sebagai Soviet Republik Indonesia.
Pemerintah Republik bergerak cepat.
Presiden Soekarno menyampaikan pilihan yang tegas kepada rakyat:
memilih Muso dan PKI, atau memilih Soekarno-Hatta.
Pasukan Republik kemudian dikerahkan untuk merebut kembali Madiun.
Dalam waktu relatif singkat, kekuatan pemerintah berhasil menguasai kembali kota tersebut. Muso kemudian melarikan diri dan akhirnya tewas dalam pengejaran pasukan Republik.
Peristiwa Madiun 1948 pun menjadi salah satu konflik politik dan militer paling penting pada masa awal Republik Indonesia.
Yang menarik, konflik itu terjadi hanya beberapa tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Negara yang masih sangat muda ternyata bukan hanya harus menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga menghadapi pertarungan keras di dalam tubuhnya sendiri.
Dan di tengah pusaran itulah terdapat sebuah episode yang jarang dibicarakan secara sederhana:
seorang perwira muda bernama Soeharto datang ke Madiun sebelum pemberontakan meletus.
Ia datang bukan dengan satu batalion pasukan.
Ia datang membawa misi.
Berbicara.
Mencoba mencari jalan agar konflik politik tidak berubah menjadi perang saudara.
Tetapi sejarah kemudian bergerak ke arah yang berbeda.
Peristiwa Madiun menjadi pelajaran pahit tentang betapa rapuhnya sebuah negara yang baru merdeka ketika perbedaan politik berubah menjadi konflik bersenjata.
Dan mungkin, dari kisah itu kita bisa bertanya:
Ketika sebuah bangsa sedang menghadapi ancaman dari luar, seberapa berbahayakah perpecahan yang tumbuh dari dalam?
Jawabannya menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Dan sejarah, pada akhirnya, meminta kita untuk memahami sebelum menghakimi. (dodit)
Views: 0






