BeritaOpini

Lagu MBG “Mas Bahlil Ganteng” dan Munculnya Kuda Hitam Menuju Pilpres 2029

×

Lagu MBG “Mas Bahlil Ganteng” dan Munculnya Kuda Hitam Menuju Pilpres 2029

Sebarkan artikel ini

Oleh : Thowaf Zuharon S. IP

Channel8.co.id – Dulu, seorang politikus harus menempuh perjalanan panjang untuk dikenal rakyat. Ia harus berkeliling dari kota ke kota, berpidato di hadapan massa, memasang baliho di sudut-sudut jalan, menulis gagasan di surat kabar, atau tampil berkali-kali di televisi.

Kini zaman telah berubah.

Di era media sosial, popularitas bisa lahir dari sesuatu yang tampaknya sederhana: sebuah lagu berdurasi belasan detik yang terus diputar, dibagikan, dan dinyanyikan jutaan orang di layar telepon genggam mereka.

Fenomena itulah yang tampaknya sedang terjadi pada lagu viral “MBG, Mas Bahlil Ganteng.”

Bagi sebagian orang, lagu tersebut hanyalah candaan internet. Sebagian lain menganggapnya sebagai satire khas media sosial yang lahir dari kreativitas spontan masyarakat. Namun sejarah budaya dan komunikasi mengajarkan bahwa sesuatu yang awalnya dianggap lelucon kadang justru memiliki dampak yang jauh lebih panjang dibanding pidato politik yang disusun dengan sangat serius.

Dalam beberapa pekan terakhir, lagu itu beredar luas di berbagai platform digital, terutama TikTok. Ribuan video menggunakan irama yang sama. Potongan liriknya terus muncul di beranda pengguna. Nama Bahlil Lahadalia disebut berulang-ulang tanpa henti.

Dalam dunia algoritma, pengulangan adalah kekuatan.

Apa yang terus muncul di layar perlahan masuk ke dalam ingatan. Apa yang sering didengar lambat laun terasa akrab. Dan apa yang terasa akrab sering memperoleh tempat khusus dalam kesadaran publik.

Di sinilah fenomena ini menjadi menarik untuk dibaca dari perspektif komunikasi politik.

Banyak orang mungkin menganggap lagu tersebut sebagai bahan olok-olok. Namun dalam ilmu komunikasi modern, perhatian publik sering kali lebih berharga daripada penilaian publik itu sendiri.

Tokoh yang dicintai tentu memiliki keuntungan politik. Tetapi tokoh yang terus dibicarakan, bahkan dengan nada bercanda sekalipun, juga memperoleh keuntungan yang tidak kecil.

Pakar komunikasi Marshall McLuhan pernah mengemukakan gagasan terkenal bahwa “the medium is the message.” Dalam konteks media sosial hari ini, tesis itu terasa semakin relevan.

Orang mungkin tidak mengingat seluruh isi lagu yang mereka dengar. Namun mereka akan mengingat nama yang terus disebut di dalamnya.

Mereka mungkin lupa lirik lengkapnya, tetapi nama tokoh yang berulang kali hadir akan menetap lebih lama dalam memori.

Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui teori psikologi yang dikenal sebagai mere exposure effect.

Teori tersebut menyatakan bahwa manusia cenderung menyukai atau merasa dekat dengan sesuatu yang terus-menerus mereka lihat dan dengar.

Kedekatan emosional tidak selalu lahir dari kesamaan pandangan politik. Ia sering tumbuh dari kebiasaan. Dari pengulangan. Dari perjumpaan yang terjadi berulang kali tanpa disadari.

Karena itu, lagu “Mas Bahlil Ganteng” bekerja dengan cara yang berbeda dari propaganda politik konvensional.

Lagu itu tidak meminta orang memilih Bahlil.

Lagu itu tidak menawarkan program politik.

Lagu itu tidak menjelaskan visi pembangunan.

Namun lagu tersebut membuat nama Bahlil hadir terus-menerus dalam ruang kesadaran publik.

Dan dalam politik modern, kehadiran seperti itu adalah modal yang sangat mahal.

Yang lebih menarik, lagu tersebut justru lahir dari budaya digital yang identik dengan humor, sindiran, dan parodi.

Tetapi seperti yang sering terjadi di era media sosial, ejekan yang terus diulang lambat laun kehilangan daya kritiknya.

Sindiran berubah menjadi hiburan.

Hiburan berubah menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan perlahan berkembang menjadi kedekatan emosional.

Gejala seperti ini bukan hal baru dalam politik global.

Banyak tokoh populis modern tumbuh bukan semata-mata karena program mereka, melainkan karena kemampuan mereka menguasai ruang perhatian publik.

Mereka menjadi meme.

Mereka menjadi bahan candaan.

Mereka menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Dan pada titik tertentu, batas antara politik dan hiburan menjadi semakin kabur.

Pemikir Italia Antonio Gramsci pernah mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya dibangun melalui lembaga negara, tetapi juga melalui hegemoni budaya.

Seseorang menjadi berpengaruh bukan hanya karena jabatan yang dimilikinya, melainkan karena kehadirannya diterima sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan masyarakat.

Ketika anak-anak sekolah menyanyikan lagu yang memuat nama seorang tokoh politik, sesungguhnya sedang berlangsung proses budaya yang jauh lebih dalam daripada sekadar bernyanyi.

Nama itu masuk ke ruang keseharian.

Ia hadir dalam permainan.

Ia muncul dalam percakapan.

Ia menjadi bagian dari lanskap budaya yang membentuk generasi baru.

Aspek generasional ini layak mendapat perhatian khusus.

Anak-anak yang lahir setelah tahun 2010 merupakan bagian dari Generasi Alfa, generasi pertama yang tumbuh bersama algoritma sejak lahir.

Mereka mengenal dunia bukan dari koran atau majalah, melainkan dari layar sentuh.

Mereka mengenal tokoh publik bukan melalui buku biografi, melainkan melalui video pendek yang muncul berulang kali di beranda media sosial mereka.

Bagi generasi ini, politik tidak selalu hadir dalam bentuk pidato kenegaraan atau debat kebijakan.

Politik sering datang melalui lagu, meme, video pendek, dan konten hiburan.

Karena itu, figur yang mampu menembus ruang budaya populer memiliki peluang membangun kedekatan emosional yang jauh lebih besar dibanding mereka yang hanya hadir dalam ruang formal.

Sebagian Generasi Alfa yang hari ini masih duduk di bangku sekolah akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029.

Mereka memang belum menentukan pilihan politik sekarang.

Namun berbagai penelitian komunikasi menunjukkan bahwa pengalaman budaya yang terbentuk pada masa remaja sering meninggalkan jejak yang panjang.

Semakin lama seseorang merasa akrab dengan sebuah figur, semakin besar peluang figur tersebut memperoleh perhatian ketika momentum politik tiba.

Tentu saja hal itu tidak berarti bahwa mereka otomatis akan memilih Bahlil Lahadalia.

Politik tidak pernah sesederhana hubungan sebab-akibat yang lurus.

Pilihan pemilih dipengaruhi banyak faktor: kondisi ekonomi, kinerja pemerintah, konfigurasi partai politik, dinamika koalisi, hingga kualitas lawan yang dihadapi.

Namun satu hal yang pasti, dikenal lebih dahulu oleh publik merupakan keuntungan yang tidak bisa diremehkan.

Dalam banyak pemilu, kompetisi sering kali berlangsung di antara nama-nama yang sudah akrab di telinga masyarakat.

Dan di era algoritma, proses menjadi akrab itu sering terjadi jauh sebelum masa kampanye dimulai.

Karena itu, fenomena “Mas Bahlil Ganteng” dapat dibaca sebagai gejala kebudayaan yang lebih luas.

Kita hidup di zaman ketika citra bergerak lebih cepat daripada gagasan.

Ketika meme lebih mudah diingat dibanding manifesto.

Ketika video lima belas detik kadang memiliki daya jangkau yang tidak mampu dicapai oleh pidato satu jam.

Jean Baudrillard pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat yang hidup dalam lautan citra.

Dalam dunia seperti itu, representasi sering kali memiliki pengaruh yang hampir setara dengan realitas.

Tokoh politik tidak hanya hidup melalui kebijakan yang mereka hasilkan, tetapi juga melalui simbol-simbol yang terus diproduksi dan direproduksi oleh media.

Karena itulah, perdebatan mengenai apakah lagu ini merupakan pujian atau sindiran sebenarnya menjadi kurang penting.

Yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa publik terus membicarakannya.

Dalam ekonomi perhatian, dibicarakan adalah mata uang yang sangat berharga.

Namun ada catatan penting yang tidak boleh diabaikan.

Viralitas lagu tersebut tidak otomatis mengubah cara masyarakat menilai berbagai kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis.

Ketika pembicaraan masuk ke wilayah kebijakan publik, masyarakat tetap menunjukkan sikap kritis terhadap berbagai persoalan tata kelola, efektivitas program, hingga penggunaan anggaran negara.

Fakta ini menunjukkan bahwa publik Indonesia masih mampu membedakan antara hiburan dan kebijakan.

Mereka bisa menikmati sebuah lagu viral sekaligus tetap mempertahankan sikap kritis terhadap program pemerintah.

Meski demikian, sejarah politik menunjukkan bahwa pemilu tidak hanya ditentukan oleh rasionalitas.

Ia juga dipengaruhi emosi, simbol, kedekatan, dan rasa akrab.

Dalam konteks itulah fenomena “Mas Bahlil Ganteng” menjadi menarik untuk dicermati.

Mungkin lagu ini hanya akan menjadi tren sesaat yang hilang beberapa bulan mendatang.

Mungkin ia akan tenggelam bersama ribuan konten viral lainnya.

Namun mungkin pula, tanpa disadari para penciptanya, lagu itu sedang menanam benih yang suatu hari tumbuh menjadi modal politik yang besar.

Sebab sejarah sering bergerak melalui jalan-jalan kecil yang tidak terlihat oleh para peramal politik.

Kadang gerakan besar berawal dari percakapan sederhana.

Kadang popularitas nasional tumbuh dari bahan tertawaan.

Dan kadang seorang tokoh memasuki panggung besar bukan melalui pidato yang menggetarkan, melainkan melalui lagu ringan yang dinyanyikan anak-anak sambil bermain.

Di republik yang semakin dikuasai algoritma, kemungkinan semacam itu tidak lagi terdengar mustahil.

Bahkan bisa jadi, ketika kontestasi politik 2029 benar-benar terbuka, kita akan menoleh ke belakang dan menemukan bahwa salah satu jejak awal perjalanan itu pernah dimulai dari sebuah lagu sederhana yang terus diputar, terus dinyanyikan, dan terus diingat:

“MBG… Mas Bahlil Ganteng…”

Dan saat itulah kita mungkin menyadari bahwa dalam politik digital abad ke-21, kekuasaan tidak selalu lahir dari pidato.

Kadang ia lahir dari sebuah irama.

Dari lirik yang dianggap sekadar gurauan.

Dari lagu yang terdengar ringan, tetapi diam-diam membangun kedekatan yang kuat di ruang kesadaran publik.

Bila momentum politik mampu dikelola dengan tepat, bukan tidak mungkin fenomena budaya populer ini menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Bahlil Lahadalia tampil sebagai kuda hitam yang diperhitungkan dalam bursa calon presiden 2029.

Catatan Penulis  :

Thowaf Zuharon S.IP

Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih

dan Pemerhati Masalah Sosial 

=================

Channel8.co.id adalah platform digital media on line.  Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Channel8.co.id.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *