Oleh : Bakarudin AK
Channel8.co.id – Tidak hanya tindak pidana korupsi yang membuat bulu kuduk berdiri, tetapi juga berbagai tindak kriminal lain yang kini terjadi di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kejahatan judi dan penipuan online yang beberapa hari lalu berhasil diungkap aparat kepolisian di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.
Dalam penggerebekan tersebut, polisi menangkap 321 warga negara asing (WNA) di sebuah gedung perkantoran yang diduga menjadi markas operasi kejahatan daring internasional. Aparat menemukan aktivitas perjudian online yang dijalankan secara terstruktur dengan dukungan perangkat digital dan jaringan lintas negara.
Penggerebekan itu menjadi salah satu bukti keberhasilan aparat membongkar jaringan kejahatan internasional di Indonesia. Sebelumnya, kasus serupa juga terungkap di Batam, Surabaya, dan Bali. Jaringan tersebut melibatkan warga negara asing dari Vietnam, China, Myanmar, Laos, Thailand, Malaysia, hingga Kamboja.

Dari total 321 WNA yang diamankan, terdiri atas 228 warga Vietnam, 57 warga China, 13 warga Myanmar, 11 warga Laos, lima warga Thailand, tiga warga Malaysia, dan tiga warga Kamboja.
Indonesia tampaknya telah menjadi salah satu target operasi jaringan kejahatan transnasional. Ironisnya, dalam sejumlah kasus, ribuan warga negara Indonesia juga ikut terseret menjadi “pekerja” di dalam jaringan tersebut.
Kejahatan internasional itu tidak hanya menjalankan bisnis judi online, tetapi juga penipuan digital, pembobolan rekening bank, lover scam, hingga bisnis narkoba dan obat-obatan terlarang. Berkali-kali aparat kepolisian menggerebek lokasi produksi narkoba di berbagai wilayah Indonesia dengan skala yang semakin mengkhawatirkan.
Bisnis haram seperti judi online dan narkoba memang sangat menggiurkan. Omzet ratusan miliar rupiah dapat diraup hanya dalam sehari. Namun, dampak yang ditimbulkan sungguh mengerikan karena mampu merusak nilai-nilai kemanusiaan dan menghancurkan kehidupan keluarga.
Beberapa waktu lalu, warga Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, digemparkan dengan penemuan jasad perempuan yang dimutilasi dan dikubur di kebun dekat permukiman warga. Korban diketahui bernama Siti Asmina. Tragisnya, pelaku pembunuhan tersebut adalah anak kandungnya sendiri.
Dari hasil penyelidikan, sang anak disebut meminta uang kepada ibunya, tetapi tidak diberi. Emosi yang memuncak membuat pelaku tega menghabisi nyawa korban, memutilasi tubuhnya, lalu menguburkannya. Motifnya diduga karena kebutuhan membayar utang dan bermain judi online.
Kasus serupa terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Kekerasan dalam rumah tangga hingga pembunuhan kini banyak dipicu oleh judi online dan narkoba. Kondisi ini sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan.
Jumlah pemain judi online disebut mencapai jutaan orang dengan latar belakang profesi yang beragam, bahkan diduga melibatkan oknum aparat penegak hukum maupun militer. Belum lagi peredaran narkoba yang menyasar kalangan remaja. Fenomena ini harus menjadi perhatian serius pemerintah karena dikhawatirkan menjadi bagian dari strategi jaringan kejahatan internasional untuk merusak masa depan generasi muda Indonesia.
Dalam konteks tersebut, judi online dan narkoba layak dinyatakan sebagai kondisi darurat nasional sehingga membutuhkan langkah penanganan luar biasa, baik melalui pencegahan, penindakan, maupun pemidanaan yang tegas.
Sudah banyak pelaku yang dijatuhi hukuman mati maupun penjara seumur hidup. Namun perang terhadap bisnis judi online dan narkoba harus dilakukan secara konsisten dan sungguh-sungguh jika bangsa ini ingin menyelamatkan generasi penerusnya.
Aparat penegak hukum pun jangan sampai terlibat atau bahkan menjadi pelindung bagi dua bisnis haram tersebut.
Lalu bagaimana sebenarnya tingkat kriminalitas di Indonesia?
Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat terdapat 908 kasus pembunuhan sepanjang 1 Januari hingga 6 November 2025. Sebagian besar kasus dipicu motif kesengajaan.
Secara umum, tren kriminalitas pada 2025 meningkat sekitar 1,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kekerasan terhadap anak naik 2,48 persen, sementara kasus pemerkosaan dan pencabulan terhadap anak melonjak hingga 22,5 persen.
Wilayah dengan tingkat kriminalitas tinggi pada 2025 antara lain Medan, Jakarta Selatan, dan Palembang. Secara keseluruhan, Pusiknas Bareskrim Polri mencatat sebanyak 414.812 kasus kejahatan dilaporkan di seluruh Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 24 Desember 2025.
Melihat berbagai peristiwa kriminalitas yang melibatkan jaringan internasional, kepekaan lingkungan sosial jelas harus ditingkatkan.
Penggerebekan di Jalan Hayam Wuruk menunjukkan lemahnya pengawasan lingkungan, baik oleh aparat keamanan, pengelola gedung, maupun masyarakat sekitar. Kehadiran ratusan WNA dalam satu lokasi seharusnya memunculkan kecurigaan dan pengawasan lebih dini.
Karena itu, aparat kepolisian perlu mengungkap secara tuntas bagaimana jaringan kejahatan internasional tersebut bisa beroperasi di Indonesia. Apakah ada pihak-pihak tertentu yang bermain di balik keberadaan mereka?
Pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dijawab. Di sisi lain, masyarakat juga perlu membangun kepekaan sosial terhadap aktivitas mencurigakan, terlebih yang melibatkan jaringan asing dalam jumlah besar.
Bangsa ini harus melindungi masa depan generasi mudanya. Sebab jika judi online dan narkoba terus dibiarkan berkembang, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan negara, tetapi juga masa depan Indonesia sendiri.

Penulis dan Pengamat sosial, biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============
Channel8.co.id adalah platform digital media on line. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi.





