Kursi Tua Itu menjadi saksi kehidupan Tuan Sasmito Brotoseno. Sebuah kursi goyang yang setia menemani Tuan Sasmito memangku kekuasaannya di Tanah Karangsetia. Tuan Sasmito tentu eman dengan kursi tua itu. Kursi yang memang dipesannya dari ahli ukir di Karisidenan Jepara sehari setelah Tuan Sasmito menerima wasiat untuk mengamankan Tanah Karangsetia yang dilanda ontran-ontran karena banyak golongan yang berambisi menduduki kekuasaan di Karangsetia. Kursi tua itu menjadi tuah bagi kelanggengan kekuasaan Tuan Sasmito selama berpuluh-puluh tahun.
Pada saat memesan kursi tua itu, Tuan Sasmito meminta agar diukir wajah para Pandawa Lima di sandaran kursi depan. Sedang Dasamuka diukir di sandaran kursi bagian belakang. Pada sandaran tangan, dimintanya diukir Bisma. Tuan Sasmito merasa memiliki energi kekuasaan yang sangat besar saat duduk di atas kursi tua itu.
“Mbah Kerto, saya ingin kursi ini memberikan wibawa kepada kedudukanku. Kekuasaan yang sepenuhnya mendapat dukungan para ksatria dan membuang jauh-jauh angkara murka,”kata Tuan Sasmito.
Kala itu, Mbah Kerto memang dikenal bukan sembarang tukang ukir perabot rumah tangga. Ia terkenal di seluruh antero jagad Karangsetia, bahkan tanah-tanah lain di bawah naungan Kerajaan Mataram. Tuah dari ukiran Mbah Kerto tidak saja berguna untuk kelanggengan kekuasaan, tetapi juga untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga.
Jika dirunut garis leluhurnya, Mbah Kerto masih memiliki hubungan keturunan dengan Empu Gandring. Seorang Empu pembuat keris pusaka di jaman Singasari. Keris itu pula yang akhirnya mengantar Ken Arok memangku kekuasaan di Singasari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Tetapi, keris itu pula yang membawa ruh jahat, dendam kesumat antara keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Arok sendiri. Demi tahta, Singasari pun berdarah-darah sepanjang masa. Keris Empu Gandring memberikan kekuasaan juga petaka bagi keturunan raja.
“Saya membutuhkan waktu 40 hari Tuan Sasmito. Karena, saya harus nglakoni tapa. Apa yang Tuan Sasmito titahkan cukup berat mewujudkannya. Karena, semua wujud yang Tuan ingin gambarkan adalah kekuatan baik dan jahat yang selama ini dipercayai para leluhur kita,” ucap Mbah Kerto.
“Tidak apa Mbah. Saya setia menunggu. Saat ini saya pun belum begitu membutuhkan. Sebab, orang-orang Karangsetia masih menaruh nasibnya di pundak saya,” Tuan Sasmito bertaklim.
Mbah Kerto manggut-manggut. Walaupun harus melalui tapa brata selama 40 hari 40 malam, Mbah Kerto menyanggupi membuat sebuah kursi untuk kekuasaan Tuan Sasmito. Dirinya melihat secercah cahaya di wajah Tuan Sasmito. Cahaya yang bakal membawa berkah kepada Tanah Karangsetia. Walaupun, Mbah Kerto pun melihat kenyataan ada bayang-bayang hitam yang seringkali menutup pancaran cahaya di wajah Tuan Sasmito. Bayang-bayang Dasamuka. Bayang-bayang kemurkaan. Itulah bayang-bayang kegelapan. Untuk itulah Mbah Kerto memberi wejangan kepada penguasa baru Tanah Karangsetia itu.
“Ya ya. Satu pesan saya, Tuan Sasmito. Memegang teguh semangat Bisma dalam bawalaksana itu sangat berat. Kalau kita melanggarnya, tentu kita akan jatuh.”
Bawalaksana yang menjadi idola Tuan Sasmito. Hanya Bisma yang memiliki sifat bawalaksana. Demi menghormati sang ayah Prabu Sentanu, Bisma bersedia menyerahkan tahta Astina kepada adik-adiknya yang akan lahir dari rahim Dewi Durgandhi. Tidak cukup dengan sikapnya, Bisma pun memilih untuk tidak menikah agar tidak memiliki keturunan.
Bisma seolah memiliki kemampuan menerawang waktu jauh lebih ke depan. Angan-angannya mampu menembus ruang dan waktu. Melompat jauh ke depan. Seperti quantum life, begitu. Bisma sangat meyakini, kalau dirinya memiliki keturunan pastilah tahta Astina yang secara ikhlas diberikan kepada adik-adiknya akan terjadi huru-hara.
Bisma meyakini, tidak selalu dari seorang ksatria yang patuh memegang prinsip bawalaksana akan lahir pula ksatria-ksatria yang tidak haus kekuasaan. Dengan tidak menikah dan tidak memiliki ahli waris, maka tidak akan ada keturunan Bisma yang berusaha merebut kekuasaan dari tangan adik-adiknya di Astina.
Pancaran cahaya Tuan Sasmito adalah ruh bawalaksana yang menitis dari Bisma. Walaupun Tuan Sasmito bukanlah Bisma. Tidak seperti Bisma yang keturunan dewa, Tuan Sasmito lahir dari kalangan manusia biasa. Tuan Sasmito dilahirkan di tengah hiruk-pikuk letusan meriam tentara penjajah.
Orang tua Tuan Sasmito seorang juru kunci, sebuah jabatan yang mulia bagi banyak orang di desanya Karangempil. Tetapi, Sang Juri Kunci jauh dari sifat bawalaksana. Dia memilih menikahi perempuan dari desa seberang dan menetapkan hatinya menitipkan anaknya, Tuan Sasmito untuk diasuh kakak perempuannya.
Ya, Tuan Sasmito besar di tangan Sang Mbokde. Bukan seperti Bisma yang memang anak seorang dewa, yang kelak memiliki keturunan para ksatria untuk membela kebenaran dan mengayomi Astina dari serangan Bangsa Kurawa. Karena itu, Tuan Sasmito hanya menerima sepenggal ajaran kebajikan kehidupan duniawi.
“Ger Ger..mengko yen wis gede lan kome dadi penggede ojolali lemah lelahirmu. Dadi penggede kowe Ger, kudu mikul dhuwur mendemjero.”
Bagi Tuan Sasmito, petuah Mbokdenya itu sungguh-sungguh mengaliri pembuluh darahnya. Meresap dalam jiwa kehidupannya. Tetapi, Tuan Sasmito bukanlah Bisma yang berani mempertaruhkan kekuasaannya untuk menghormati Prabu Santanu. Tuan Sasmito suatu ketika lupa asal-usul dirinya. Seorang anak desa yang harus selalu ingat kepada nasihat dan janji yang telah tercatat di dalam buku kehidupannya.
Janji kepada dirinya dan kepada Gusti Allah. Bahwa, kekuasaan di Tanah Karansetia dipangku untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan cantrik-cantrik dan darah daging dirinya sendiri. Bahkan, Mbah Kerto di Tanah Jepara sana telah dilupakan Tuan Sasmito.
Kursi tua itu, akhirnya menutup mata hati Tuan Sasmito. Tanah Karangsetia yang membentang seluas samudera lepas dengan kekayaan perut bumi yang tidak terhingga dan hutan belantara yang kaya raya, melenakan kekuasaan Tuan Sasmito.
Apalagi kemudian orang-orang menjuluki Tuan Sasmito sebagai Bos Besar. Ada pula yang menyebut Sang Resi. Sedang pembantu dan orang-orang dekat biasa memanggil sebagai Tuan Sasmito sebagai Tuan Bijak. Yang paling membuat perasaannya gemas, musuh-musuh politik dan bisnis anaknya memberi gelar Tuan Sasmito Dasamuka. Wuiih!!! Betapa hebatnya Tuan Sasmito di Negeri Karangsetia ini. Tetapi, tidak ada satu pun dari mereka yang memanggilnya dengan Tuan Bisma yang berpegang teguh kepada ruh bawalaksana.
Tuan Sasmito sesungguhnya tidak peduli dengan sebutan apa pun terhadap dirinya. “What is the name,” kata petitih Shakespeare. Ia hanya ingat, orang tua memberi nama dirinya Sasmito Brotoseno. Orang-orang biasa memanggilnya Pak Sasmito. Jauh sebelum menjadi “orang besar”, dirinya memiliki dua panggilan. Selain Sasmito, orang-orang lain memanggil Brotoseno. Tuan Sasmito senang dan suka saja dengan kedua panggilan itu. Karena, keduanya memiliki arti keluhuran budi bagi dirinya.
Tuan Sasmito juga paham betul, semua sebutan itu memiliki pamrih. Ada pamrih agar mendapat kepercayaan. Ada pamrih agar mendapatkan jabatan politik, ada pula pamrih agar proyek-proyeknya lancar. Barangkali, kalau Tuan Sasmito meminta mereka menjilat kuku jempol kaki atau menyemir sepatu dalam setiap detik pasti mereka bersedia. Mereka menempatkan Tuan Sasmito sebagai Raja dari Raja di Karangsetia.
“Bagiku tidak penting sebutan-sebutan itu. Yang terpenting adalah bagaimana aku mempertahankan kekuasaanku. Karangsetia harus menjadi wilayah yang kuat dan masyarakat bisa sejahtera. Begitulah kira-kira keinginanku. Sebab itu, aku tidak akan segan-segan melibas orang-orang yang bakal mengancam kekuasaanku,” tutur Tuan Sasmito kepada Mbokde yang telah membesarkan dirinya.
“Stabilitas Negara haruslah menjadi tujuan politik. Negara harus kuat. Sejarah telah memberi pelajaran berharga kepada kita. Lemahnya pemerintahan telah membuat kita mandul dalam membangun kesejahteraan masyarakat.”
Begitulah ruh kepemimpinan selalu Tuan Sasmito kumandangkan. Walaupun jalan terjal dan berliku harus dilalui. Tuan Sasmito tidak peduli kalau harus menyeberangi Samudera Karangsetia, mendaki Gunung Meranti, melintasi batas ideologis kebangsaan, bahkan mencabut ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan orang-orang yang mencoba menghalangi kemantaban kekuasaan dirinya.
Kursi tua itu menjadi saksi atas kekuasaan sekaligus kehidupan Tuan Sasmito. Sebab, kursi tua ini adalah pendamping setia sepanjang berpuluh-puluh tahun menguasai Karangsetia. Dia tidak pernah mengeluh walaupun selalu menggoyang-goyangkan sepanjang hari; pagi, siang, malam…setiap waktu. Tuan Sasmito bisa merasakan kebahagiaan pada kursi tua itu apabila dirinya melihat sang kursi teronggok kesepian.
Kursi tua itu kini menjadi teman setia Tuan Sasmito yang telah lengser. Tuan Sasmito yang sekarang semakin termakan usia. Setidaknya orang-orang bisa melihat dan mendengar kabar, bahwa Tuan Sasmito sudah dikerumuni uban di atas kepalanya.
Tuan Sasmito yang sudah berkali-kali anfal, karena kesehatan jiwa dan raga yang tidak bisa seabadi Sang Bisma. Tuang Sasmito yang kini hanya bisa mengenang kejayaan masa lalunya. Juga meratapi karma yang diterimanya, untuk dirinya dan keturunan-keturunan dirinya.
Tuan Sasmito tidak lagi punya teman bicara. Kalau saja Mbah Kerto masih ada, dan juga Mbokde masih ada, tentulah Tuan Sasmito akan mengadukan nasibnya..
“Azab ini rasanya sudah cukup untuk aku dan keturunanku. Usiaku yang semakin uzur, sudah saatnya untuk istirah. Aku sudah tidak sanggup lagi menyaksikan, anak-anakku, cucu-cucuku, hidup di atas prahara. Biarkanlah aku bisa bernafas dalam kedamaian, bernafas dalam kelapangan dada. Biarkanlah aku melepas nafasku dengan keikhlasanku..
Semakin hari, Tuan Sasmito merasa kursi tua yang didudukinya pun sudah tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya. Kursi tua itu sudah tidak mampu meninakbobokkan dirinya dalam kesenyapan. Kursi tua itu tidak kuat lagi, menemani dirinya duduk di beranda rumah, untuk sekedar memandangi burung cucak rawa, kepodang, tekukur, dan perkutut yang selalu menembangkan dandang gula dan liris-liris buah tangan Pujangga Raden Ngabei Ronggowarsito di dalam Serat Kalatidha..
“Mangkya darajating praja
Kawuryan wus surya ruri
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sarjana sujana kelu
Kalulu Kalatidha
Tidhem tandhaning dumadi
Hardayengrat dening karoban rubeda”
(Kini martabat Negara
Tampaknya jadi sunyi sepi
Rusak pelaksanaan aturannya
Karena tanpa teladan
Adat tata susila ditinggalkan
Orang bijak dan ahli terseret arus
Hanyut dalam zaman bimbang
Hilang tanda-tanda kehidupan
Dunia sengsara didera pelbagai percobaan)
Majalah Basis halaman 9, No 9-10 Tahun ke 52, Septemper-Oktober 2003






