BeritaFeature

60 Tahun Pernikahan Om Hardjo dan Bu Bress, Tutut Ungkap Kisah Cintanya

×

60 Tahun Pernikahan Om Hardjo dan Bu Bress, Tutut Ungkap Kisah Cintanya

Sebarkan artikel ini

Channel8, Jakarta — Enam puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah perjalanan rumah tangga. Di dalamnya ada cinta, kesabaran, pertengkaran kecil, tawa, pengorbanan, dan tentu saja begitu banyak kenangan yang tidak mungkin terhapus oleh waktu.

Kisah itulah yang tergambar dalam syukuran 60 tahun pernikahan Soehardjo Soebardi dan Noek Bressinah, Minggu (9/8/2026), di Auditorium Bale Ayu Resto,  kawasan Pondok Cabe, Jakarta Selatan.

Di tengah suasana penuh keakraban itu, keluarga besar berkumpul. Anak, cucu, kerabat, sahabat, serta sejumlah tokoh dan pejabat datang untuk merayakan enam dekade perjalanan rumah tangga pasangan yang oleh keluarga akrab disapa Om Hardjo dan Bu Bress tersebut.

Salah satu kisah paling menarik justru datang dari orang yang sejak kecil sangat dekat dengan keduanya, Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto, putri Presiden ke-2 RI Soeharto dan Ibu Tien Soeharto.

Dengan gaya bertutur yang hangat dan sesekali diselingi bahasa Jawa, Tutut Soeharto mengungkap bagaimana kisah cinta Om Hardjo dan Bu Bress bermula dalam sambutannya di Balai Ayu Resto Jakarta Selatan Minggu 9/08/2026. (Foto : Koni Bardianto)

Menurut Tutut, perjalanan cinta keduanya ternyata tidak selalu berjalan mulus. Pada masa pacaran, hubungan itu harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebab, belum ada persetujuan dari keluarga.

“Nyuwun sewu, agak angel, sulit ya, Bu Bress,” (mohon maaf, red) kenang Tutut dalam sambutannya.

Karena itu, setiap kali ingin bertemu, Om Hardjo dan Bu Bress harus mencari cara agar tidak diketahui keluarga. Namun, namanya juga cinta. Sekuat apa pun disembunyikan, akhirnya tetap saja ketahuan. Tutut yang melihat Bu Bress ketika itu merasa kasihan. Ia kemudian mencari akal agar Bu Bress bisa keluar rumah dan bertemu Om Hardjo.

“Bagaimana ya caranya supaya beliau bisa keluar?” kenang Tutut.

Akhirnya muncul sebuah siasat sederhana. Tutut berpamitan kepada Ibu Tien untuk mengajak Bu Bress membeli kue. Padahal, membeli kue hanyalah alasan. Bu Bress kemudian dibawa naik mobil. Tutut sendiri yang menyetir. Tujuannya bukan toko kue, melainkan mengantar Bu Bress menemui Om Hardjo.

Sesampainya di tempat Om Hardjo, Tutut turun dan meninggalkan keduanya.

“Sudah ketemu Om Hardjo, saya tinggal. Nanti saya jemput ya, Bu Bress, tutur Tutut.

Ia pun tidak tahu apa yang terjadi selama keduanya bertemu.  Yang jelas, setelah itu Tutut harus benar-benar membeli kue. Sebab, ia sudah terlanjur berpamitan kepada Ibu Tien bahwa dirinya dan Bu Bress pergi untuk membeli kue.

“Jadi kuenya kita bawa pulang, Bu Bress-nya juga ada,” ujar Tutut, disambut suasana hangat keluarga.

Cara tersebut ternyata bukan hanya dilakukan sekali. Berkali-kali Tutut menjadi “komplotan” kecil yang membantu pertemuan dua orang yang sedang jatuh cinta.  Hingga akhirnya, cinta yang semula harus disembunyikan itu mendapatkan tempatnya sendiri.  Om Hardjo dan Bu Bress akhirnya menikah.

Soehardjo dan Noek Bresinah bersama keluarga besarnya berfoto bersama saat acara syukuran 60 tahun pernikahan di Auditorium Balai Ayu Resto Jakarta , Minggu , 9 /08/26. (Foto: Koni Bardianto)

Dan hari itu, enam puluh tahun kemudian, keduanya masih berdiri berdampingan. Bukan hanya enam puluh tahun pernikahan. Tetapi enam puluh tahun perjalanan hidup bersama.

“Subhanallah, Masya Allah. Enam puluh tahun luar biasa sekali, kata Tutut.

Menurutnya, tidak banyak pasangan yang mendapatkan kesempatan menjalani kehidupan rumah tangga selama itu dan keduanya masih sama-sama diberi umur panjang serta kesehatan.

“Biasanya kadang-kadang yang satunya sudah sedo, meninggal, jadinya tidak sampai lama. Ini sampai 60 tahun, dua-duanya masih diberi sugeng (diberi umur panjang-red).”Luar biasa, ujarnya.

Tutut bahkan kemudian mengaitkan perjalanan panjang Om Hardjo dan Bu Bress dengan kehidupan rumah tangganya sendiri. Ia berharap dirinya juga mendapatkan keberkahan serupa.

“Insya Allah tahun depan saya mau 55 tahun pernikahan. Jadi melu ini, ikut tenar,” katanya sambil tersenyum.

Kenangan Bakso di Jalan Agus Salim

Namun, kisah Tutut tentang Bu Bress tidak berhenti pada cerita percintaan. Ada pula kenangan masa kecil yang membuat suasana syukuran itu terasa semakin personal. Tutut mengenang masa ketika mereka masih kecil dan tinggal di kawasan Jalan Agus Salim, Jakarta. Saat itu, dirinya bersama adik-adiknya, Sigit dan Bambang, kerap diajak makan bakso oleh Om Probo.

“Dulu kami suka makan bakso. Om Probo beliin bakso, dipanggil bakso, lalu makan,” kenangnya.

Namanya juga anak-anak. Kalau sudah melihat semangkuk bakso, mereka makan secepat mungkin. Namun ada satu persoalan. Bu Bress makannya sangat pelan. Sementara Tutut dan adik-adiknya sudah lebih dulu menghabiskan bakso masing-masing. Akhirnya, mata anak-anak pun tertuju kepada mangkuk Bu Bress. “Bu Bress, bagi dong baksonya lagi.” Jawaban Bu Bress sederhana. “Lho, kamu kan wis duwe, wis entuk.” (kamu kan sudah punya sudah dapat-red) Tetapi anak-anak tetap saja meminta.

Akhirnya, karena tidak ingin baksonya direbut, Bu Bress punya cara sendiri. Ia menyembunyikan baksonya. Bahkan, menurut cerita Tutut, Bu Bress berpura-pura meludahi dengan cara  di cuh cuh cuh bakso tersebut agar anak-anak tidak mau mengambilnya. Harapannya sederhana: setelah dianggap sudah “diludahi”, tentu anak-anak tidak akan mau memakannya. Ternyata perkiraannya salah. Bakso tetap direbut. Dan tetap dimakan.

Kenangan sederhana itu kini justru menjadi salah satu cerita keluarga yang paling mengundang senyum.

“Ya Allah, zaman dulu ya, Bu Bress,” ujar Tutut mengenang masa kecil mereka.

Cubitan Kecil yang Penuh Kasih Sayang

Bu Bress juga menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak-anak keluarga Soeharto tersebut. Ketika anak-anak mulai nakal, Bu Bress tidak segan menegur. Kadang dengan cetot atau cubitan kecil.

Tetapi setelah itu, selalu ada kalimat khas yang penuh kasih sayang. “Menengo, ojo nangis kowe.” Diam. Jangan menangis.

Bagi Tutut, teguran-teguran kecil itu bukan lahir dari kebencian atau kemarahan. Justru sebaliknya. Itu adalah bentuk kasih sayang. Cara orang-orang tua zaman dahulu mendidik anak-anak agar mengenal disiplin.

“Semua itu karena sayang, bukan karena benci atau marah. Supaya kita disiplin,” kata Tutut.  Dari kenangan-kenangan sederhana itulah terlihat bahwa hubungan keluarga mereka bukan sekadar hubungan kekerabatan. Ada begitu banyak pengalaman yang dilalui bersama sejak kecil. Ada makan bakso bersama. Ada kenakalan anak-anak. Ada teguran dan cubitan. Ada tawa. Ada cinta yang diam-diam harus diperjuangkan. Dan akhirnya ada sebuah pernikahan yang mampu bertahan selama enam dekade.

“Romeo and Juliet Versi Kemusuk”

Tutut kemudian menyebut kisah cinta Om Hardjo dan Bu Bress sebagai sesuatu yang unik. Bukan Romeo dan Juliet yang berakhir tragis. Melainkan sebuah kisah cinta yang justru berhasil melewati puluhan tahun kehidupan.

“Ini kisah cinta dari Romeo and Juliet versi kemusuk,” ujar Tutut.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyimpan perjalanan panjang.  Sebab, enam puluh tahun pernikahan tidak mungkin hanya dibangun dengan perasaan cinta.  Ada kesabaran yang harus terus dipelihara.  Ada ego yang harus diredam. Ada kemauan untuk saling mengalah. Dan ada keyakinan bahwa rumah tangga harus dijalani bersama, dalam suka maupun duka.

Tutut pun menyampaikan pesan sederhana kepada seluruh keluarga yang hadir. Jika salah satu sedang marah, yang lain harus belajar bersabar. Jangan sampai keduanya sama-sama terbakar emosi. “Yang satu marah, yang satunya lagi sabar. Kalau marah dua-duanya, keduanya susah,” katanya.

Bagi Tutut, resep sederhana itulah yang membuat rumah tangga bisa tetap adem dan ayem. Hidup menjadi lebih tenang dan tenteram.  Dan pada akhirnya, semua itu harus dikembalikan kepada Allah SWT.

Tumpeng dan Suapan yang Menjadi Simbol 60 Tahun

Syukuran 60 tahun pernikahan itu kemudian ditandai dengan pemotongan tumpeng.

Om Hardjo dan Bu Bress juga saling menyuapi. Adegan sederhana tersebut menjadi simbol perjalanan enam dekade mereka: tetap bersama, tetap saling menyayangi, dan tetap saling mendampingi.  Di usia pernikahan yang sudah memasuki enam puluh tahun, kemesraan itu bukan lagi sekadar romantisme pasangan muda.

Noek Bressinah menyuapi Soeharjo, sang suami tercintanya pada acara syukuran 60 tahun pernikahan keduanya di Auditorum Bale Ayu Jakarta. Minggu (09/8/26 ) (Foto: Koni Bardianto)

Ia telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam: persahabatan, kesetiaan, keluarga, dan kebersamaan yang telah ditempa oleh waktu. Suasana kekeluargaan semakin terasa karena acara tersebut dihadiri keluarga besar Cendana. Hadir antara lain Tutut Soeharto, Sigit Hardjojudanto dan Ilsye Sigit serta Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto.

Hadir pula kerabat dari keluarga besar Ibu Tien Soeharto, di antaranya Ibu Wismoyo Arismunandar dan Ibu Probo Soetejo.

Sejumlah tokoh, pejabat, serta sahabat keduanya turut menghadiri acara tersebut, di antaranya Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Wamendagri Dr. Akhmad Wiyagus, keluarga besar Issoedibjo, mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Prof. Sri Edi Swasono, Mutia Hatta, Panda Nababan, serta sejumlah tokoh dan mantan pejabat lainnya. Hadir pula para mantan pegawai Bea dan Cukai, tempat Pak Hardjo pernah bertugas.

Namun di tengah hadirnya para tokoh tersebut, pusat perhatian tetap kembali kepada dua orang yang menjadi alasan semua berkumpul: Soehardjo Soebardi dan Noek Bressinah.

Enam puluh tahun lalu, keduanya adalah sepasang kekasih yang harus mencari cara untuk bertemu. Hari ini, keduanya duduk berdampingan sebagai pasangan suami istri yang telah melewati enam dekade kehidupan. Cinta yang dahulu harus disembunyikan akhirnya justru menjadi kisah yang dikenang satu keluarga.

Tutut menutup sambutannya dengan doa agar Om Hardjo dan Bu Bress terus diberikan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan.

“Semoga Bu Bress dan Om Hardjo semakin bahagia, makin sukses, semakin banyak rezekinya, bahagia lahir batin, dunia akhirat, dan semakin disayang, dilindungi dan diridai Allah SWT.”

Sebuah doa yang sederhana. Tetapi mungkin itulah inti dari enam puluh tahun perkawinan. Bukan tentang siapa yang selalu menang. Bukan tentang siapa yang paling benar. Melainkan tentang siapa yang bersedia bertahan, mengalah, memaafkan, dan terus menggenggam tangan pasangannya.Sebab, enam puluh tahun lalu cinta mereka bermula dari pertemuan-pertemuan yang harus disembunyikan.

Dan enam puluh tahun kemudian, cinta itu justru dirayakan secara terbuka bersama keluarga, anak, cucu, kerabat dan para sahabat.

Dari cinta yang sembunyi-sembunyi, menjadi cinta yang bertahan sampai enam dekade.

Itulah kisah Om Hardjo dan Bu Bress.  (koni )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh : Yudi Latif (Dipersembahkan untuk mensyukuri 60…

Berita

Yudi Latif Channel8.co.id – Ada saat ketika manusia…