Channel8.coid | Human
Jumat ini (16/10), Indonesia mengantar salah satu perempuan paling berpengaruh dalam industri kecantikan Tanah Air ke peristirahatan terakhirnya. Martha Tilaar dimakamkan di San Diego Hills Memorial Park, Karawang — berdampingan dengan makam sang suami, Alex Tilaar. Sehidup semati, begitu kata putra sulungnya, Bryan Tilaar.
Martha berpulang Rabu (14/10) pukul 06.22 WIB di RS Medistra, Jakarta, dalam usia 89 tahun. Menurut keluarga, ia sempat sakit ringan seperti flu dalam seminggu terakhir, lalu berpulang dalam tidurnya.
Kisahnya layak diceritakan ulang, guys — karena ini kisah tentang keberanian melawan arus. Martha lahir dengan nama Martha Handana di Gombong, Kebumen, pada 4 September 1937. Sebelum terjun ke bisnis, ia adalah seorang guru. Selepas menimba ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, ia pulang dan membuka salon seluas 6 x 4 meter di garasi rumah ayahnya di Menteng, Jakarta, pada 1970.
Bayangkan situasinya waktu itu: era 1970-an, pasar kosmetik Indonesia dikuasai merek-merek asing. Martha justru berani mengusung gagasan yang dianggap mustahil — membangun merek kosmetik berbasis kearifan lokal dan kekayaan alam Nusantara. Tujuh tahun kemudian, ia menggandeng Theresia Harsini Setiady dari PT Kalbe Farma untuk mendirikan PT Martina Berto, yang lalu meluncurkan Sariayu Martha Tilaar sebagai produk pertamanya.

Nah, di sini bagian yang sering bikin orang takjub. Bisnis yang dirintis dari garasi itu terus membesar: pada 1999 kelompok usahanya mengambil alih kepemilikan Martina Berto dari Kalbe, dan pada 2011 perusahaan itu melantai di Bursa Efek Indonesia. Martha Tilaar Group kini menaungi merek-merek seperti Sariayu, Biokos, Caring Colours, serta jaringan Martha Tilaar Salon Day Spa.
Tapi warisannya bukan cuma soal bisnis. Martha konsisten menerapkan empat pilar: Beauty Education, Beauty Green, Beauty Culture, dan Empowering Women — lewat pilar terakhir itu ia melatih ribuan perajin serta terapis lokal agar mandiri secara ekonomi. Atas kiprahnya ia menerima gelar Perekayasa Utama Kehormatan dari BPPT (2012) dan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah (2016).
Ada satu detail yang menyentuh dari prosesi pemakaman ini. Menurut Bryan, keluarga sudah menyiapkan lahan pemakaman di San Diego Hills sejak 2010. Alex Tilaar wafat pada 30 Oktober 2019. Kini keduanya kembali beristirahat berdampingan.
Sederhananya, maksudnya begini: Martha Tilaar membuktikan bahwa produk lokal tidak ditakdirkan kalah dari merek asing — asal berani mengolah apa yang kita punya. Selamat jalan, Ibu. (Redaksi C8)
Views: 2






