Historia

Saat Soeharto Ditinggalkan Banyak Orang, Anton Tabah Justru Datang Mendampingi

×

Saat Soeharto Ditinggalkan Banyak Orang, Anton Tabah Justru Datang Mendampingi

Sebarkan artikel ini
Anton Tabah mendampingi Pak Harto berziarah ke Astana Giri Bangun (Koleksi Foto Siti Hardiyanti Rukmana)

Historia | Channel8.co.id

Mengenang kesaksian seorang perwira Polri yang ditugaskan mendampingi Mantan Presiden Soeharto setelah berhenti dari jabatan Presiden  pada 1998. Di tengah badai kritik setelah berakhirnya kekuasaan Orde Baru, seorang perwira Polri menerima tugas yang tidak pernah dibayangkannya: mendampingi  Mantan Presiden Soeharto. Dari pengalaman itulah Anton Tabah merekam sisi keseharian Pak Harto yang selama puluhan tahun menjadi pusat kekuasaan Indonesia. 

Bayangkan, suatu hari telepon berdering dan orang yang menghubungimu adalah Kapolri.

Bukan untuk urusan rutin. Bukan pula sekadar menyampaikan kabar kedinasan. Kali ini, ada sebuah tugas yang bisa mengubah perjalanan kariermu sekaligus menempatkanmu di tengah situasi politik yang sedang bergolak.

Itulah yang dialami Anton Tabah pada Juli 1998.

Saat itu, Anton menjabat Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Indonesia baru saja melewati salah satu titik balik terpenting dalam sejarahnya. Presiden Kedua Soeharto berhenti dari jabatannya pada 21 Mei 1998, mengakhiri kekuasaan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Di tengah perubahan besar itu, Anton menerima telepon dari Kapolri Jenderal Polisi Rusmanhadi.

Pesan yang disampaikan sang jenderal membuatnya terkejut.

Anton diminta berangkat ke Jakarta untuk menjadi sekretaris pribadi Presiden Kedua Soeharto.

Dalam buku Pak Harto: The Untold Stories, pada bagian berjudul “Empati di Tengah Badai”, Anton mengisahkan bahwa ia sempat tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Bagaimana mungkin dirinya mendapat tugas seperti itu?

Pertanyaan tersebut wajar. Pak Harto bukan lagi presiden yang berdiri di puncak kekuasaan. Ia justru sedang menghadapi gelombang kritik dan sorotan publik setelah berakhirnya pemerintahannya.

Bagi Anton, tugas itu bukan sekadar berpindah tempat kerja. Ia akan mendampingi tokoh yang namanya sedang menjadi pusat perdebatan nasional.

Dan Anton tahu, keputusan tersebut tidak sederhana.

Karier sedang menanjak, tetapi tugas datang di saat sulit

Ada satu hal yang membuat Anton semakin bimbang.

Kariernya sedang berkembang. Dalam buku tersebut, ia menceritakan bahwa majalah Tempo pernah menyebut dirinya sebagai salah satu The Rising Star ABRI, bersama dua perwira lain yang kelak dikenal luas, Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto.

Anton baru berpangkat mayor ketika namanya disejajarkan dengan dua brigadir jenderal.

Penugasan baru itu membuatnya harus mempertimbangkan banyak hal. Ia tidak hanya meninggalkan posisi yang sedang berkembang, tetapi juga akan masuk ke lingkungan Pak Harto  ketika situasi politik belum sepenuhnya tenang.

Mendampingi seseorang yang sedang berada di puncak kekuasaan tentu berbeda dengan mendampingi orang yang baru saja kehilangan kekuasaan.

Ketika masih menjadi presiden, Pak Harto  memiliki jabatan, kewenangan, dan seluruh perangkat negara di sekelilingnya. Setelah lengser, situasinya berubah. Setiap langkahnya menjadi bahan perhatian, sementara masa lalunya diperdebatkan dari berbagai sisi.

Anton akhirnya meminta waktu dua minggu untuk berpikir.

Menurut pengakuannya, meminta waktu untuk mempertimbangkan penugasan bukan sesuatu yang lazim di lingkungan tempatnya bekerja. Namun, ia merasa perlu mengambil keputusan dengan hati yang mantap.

Ia pun pulang ke kampung halamannya di Godean, Yogyakarta.

Di sana, ia mencari ketenangan dan melaksanakan salat istikharah untuk memohon petunjuk Allah SWT.

Justru dari rumah dan percakapan dengan ibunya, keputusan itu mulai menemukan arah.

Nasihat ibu yang mengubah keputusan

Anton mengisahkan bahwa ibunya memberikan nasihat yang kemudian membekas dalam pikirannya.

Jika tugas itu memang merupakan perintah pimpinan, ia diminta untuk melaksanakannya. Sang ibu juga mengingatkan bahwa mendampingi mantan penguasa yang sedang berduka dan menghadapi masa sulit memiliki makna tersendiri.

Nasihat tersebut menyentuh persoalan yang lebih luas daripada karier seorang perwira.

Tentang bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika keadaan sudah berubah.

Kita mungkin mudah berada di dekat orang yang sedang berjaya. Ada kedudukan, pengaruh, dan berbagai kepentingan yang membuat orang ingin mendekat.

Namun, bagaimana ketika orang tersebut tidak lagi memiliki kekuasaan seperti sebelumnya?

Apakah hubungan itu masih bertahan ketika tidak ada lagi jabatan yang bisa dibanggakan?

Bagi Anton, nasihat ibunya menjadi pertimbangan penting. Ia akhirnya memutuskan berangkat ke Jakarta untuk menjalankan tugas tersebut.

Keputusan itu membawanya masuk ke sebuah babak kehidupan yang kemudian ia ceritakan dalam bukunya.

Pertemuan setelah Pak Harto meninggalkan Istana

Anton menuturkan bahwa ia bertemu Pak Harto setelah waktu salat Isya. Sejumlah pejabat yang bertugas di lingkungan kediaman mantan presiden turut mendampinginya dalam pertemuan tersebut.

Menurut kesaksian Anton, Pak Harto menyambutnya dengan senyum.

Ada pesan yang disampaikan Pak Harto  itu kepada perwira muda yang akan mendampinginya.

“Ton, kamu jangan takut bertugas mendampingi saya, karena tugasmu ini konstitusional.”

Kalimat tersebut dicatat Anton dalam bukunya.

Bagi Anton, pernyataan itu menjadi bagian penting dari pengalamannya mendampingi Pak Harto. Ia kemudian menggambarkan sosok yang ditemuinya sebagai pribadi yang menekankan kepatuhan terhadap aturan dan landasan konstitusional dalam menjalankan tugas.

Namun, pertemuan tersebut memberi gambaran mengenai bagaimana Anton memahami tugas barunya: ia harus menjalankan tanggung jawab profesional di tengah situasi politik yang sensitif.

Di luar kediaman itu, masyarakat Indonesia sedang menghadapi perubahan besar. Reformasi membuka ruang bagi kebebasan politik yang lebih luas, sementara berbagai persoalan selama pemerintahan Pak Harto mulai diperdebatkan secara terbuka.

Di dalam keseharian yang diceritakan Anton, ada rutinitas lain yang harus terus berjalan.

Jadwal tamu. Urusan administrasi. Percakapan pribadi. Dan kehidupan seorang mantan presiden yang tidak lagi berada di Istana.

Dari surat kendaraan hingga cerita tentang blangkon

Salah satu bagian menarik dari kesaksian Anton justru bukan tentang rapat politik atau keputusan kenegaraan.

Melainkan urusan mobil.

Anton menceritakan bahwa ia pernah menemani Pak Harto memeriksa surat-surat kendaraan di garasi. Dalam kesempatan tersebut, Soeharto berpesan agar pajak kendaraan tidak sampai terlambat dibayar.

Detail itu sederhana, tetapi membuat cerita terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selama puluhan tahun, masyarakat mengenal Pak Harto melalui pidato kenegaraan, upacara resmi, pemberitaan politik, dan keputusan pemerintahan. Dalam cerita Anton, pembaca diajak melihat suasana yang berbeda: seseorang yang memeriksa dokumen kendaraan dan mengingatkan agar kewajiban pajak tidak dilupakan.

Anton juga mengisahkan percakapan yang berlangsung ketika ia memijat kaki Pak Harto.

Ia bertanya mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949, peristiwa militer yang menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut catatan Anton, Pak Harto menjelaskan bahwa serangan tersebut telah direncanakan secara matang sejak September 1948.

Anton kemudian menyampaikan pendapatnya sendiri. Ia bercanda bahwa pasukan Indonesia bisa menang karena menggunakan blangkon, penutup kepala tradisional Jawa, yang ikatannya menonjol di bagian belakang.

Dalam guyonan Anton, ketika pasukan Indonesia berlari maju, pasukan Belanda bisa saja mengira mereka sedang berlari mundur.

Cerita itu membuat Soeharto tertawa lepas.

Anton menuliskan bahwa ia jarang melihat mantan presiden tersebut tertawa seperti itu.

Anekdot tersebut memperlihatkan suasana percakapan informal di antara keduanya.

Ketika kesehatan mulai menjadi perhatian

Seiring waktu, Anton mulai menyaksikan perubahan dalam keseharian Pak Harto.

Dalam bukunya, ia menggambarkan rutinitas mantan presiden itu yang masih mencakup berjalan kaki setelah salat Subuh, bermain golf, dan sesekali memancing.

Namun, ada pula masa ketika kondisi kesehatan Pak Harto mulai menurun.

Anton menceritakan pengalaman ketika Pak Harto mengalami serangan jantung pertama. Menurut penuturannya, ia berada di dekat Pak Harto ketika kejadian itu berlangsung dan membantu menangani keadaan sebelum mendapatkan perawatan medis.

Setelah peristiwa itu, kunjungan tamu mulai dibatasi agar Pak Harto tidak terlalu lelah.

Bagi Anton, tugas mendampingi Pak Harto berarti harus memperhatikan banyak hal sekaligus. Jadwal yang sebelumnya diatur agar kegiatan berjalan lancar kini juga harus mempertimbangkan kondisi kesehatan.

Di balik jabatan dan nama besar, ada tubuh yang bisa sakit. Ada rutinitas yang harus disesuaikan. Ada hari-hari ketika orang yang dahulu memimpin negara membutuhkan bantuan orang lain.

Pengalaman seperti ini menjadi bagian dari cerita Anton tentang kehidupan Pak Harto setelah meninggalkan kekuasaan.

Ia tidak lagi sedang menggambarkan presiden yang memimpin sidang atau menyampaikan pidato kepada bangsa. Ia sedang menceritakan seseorang yang menjalani hari-harinya di kediaman pribadi, dengan berbagai urusan dan keterbatasan yang menyertainya.

Ribuan surat dan orang-orang yang datang

Anton juga mencatat bahwa pada masa tersebut masih banyak masyarakat yang datang menemui Pak Harto  untuk menyampaikan simpati.

Menurut bukunya, mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari guru, petani, nelayan, pedagang, ibu rumah tangga, ulama, hingga mahasiswa.

Ia juga menceritakan banyaknya surat yang diterima Pak Harto. Sebagian besar berisi ungkapan simpati, dukungan, dan doa. Kesaksian ini menunjukkan bahwa pengalaman masyarakat terhadap seorang tokoh sejarah tidak selalu sama.

Surat-surat yang diceritakan Anton menjadi catatan mengenai dukungan yang ia saksikan secara langsung. dan surat surat itupun ia  rangkum dan susun kedalam buku karangannya dengan judul Empati Ditengah Badai

Ketika Anton Tabah Mengenang Pak Harto

Dari dekat, Anton Tabah mengenal Pak Harto bukan hanya sebagai sosok yang pernah memimpin Indonesia selama puluhan tahun, tetapi juga sebagai pribadi yang ia dampingi dalam keseharian setelah meninggalkan jabatan presiden.

Melalui pengalaman itulah Anton menyimpan kenangan tentang percakapan sederhana, kebiasaan sehari-hari, hingga masa ketika kesehatan Pak Harto mulai menurun.

Bagi Anton, mendampingi Pak Harto menjadi bagian tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Sebuah pengalaman yang kemudian ia tuangkan dalam Pak Harto: The Untold Stories, agar kisah yang ia saksikan sendiri dapat dikenang dan dibaca oleh generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kisah ini adalah kesaksian Anton tentang Pak Harto—sosok yang ia kenal dari dekat, bukan semata-mata melalui jabatan dan pemberitaan, melainkan melalui perjumpaan dan pengalaman sehari-hari. (koni)

Catatan sumber

Alm. Brigjen (Pol.) Anton Tabah.

Artikel ini disusun berdasarkan kesaksian Anton Tabah dalam buku Pak Harto: The Untold Stories, Bab 6, “Kenangan dari Keseharian yang Bersahaja”, bagian “Empati di Tengah Badai”,  halaman 457–461 . Kisah percakapan, pengalaman pribadi, dan penilaian terhadap Soeharto diatribusikan kepada Anton Tabah.

Views: 23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *