Explain Channel 8

Video Viral Belum Tentu Asli: 5 Cara Mengenali Risiko Deepfake AI

×

Video Viral Belum Tentu Asli: 5 Cara Mengenali Risiko Deepfake AI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI seseorang memeriksa video pada ponsel dengan tampilan antarmuka digital. h menjadi korban deepfake.

Ringkasan : Video dan suara buatan AI semakin sulit dibedakan dari konten asli. Kenali lima cara memeriksa sumber, konteks, dan risiko deepfake sebelum membagikan informasi.

Channel8.co.id, Jakarta — Sebuah video dapat terlihat nyata, suara terdengar meyakinkan, dan wajah tampak persis seperti orang yang dikenal. Namun, di era kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), tampilan yang meyakinkan belum tentu menjamin bahwa sebuah konten benar-benar asli.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) pada 17 Oktober 2026 menyatakan sedang mengkaji aturan menteri mengenai pelabelan konten yang dihasilkan AI. Tujuannya antara lain membantu masyarakat menelusuri asal-usul konten digital ketika gambar, video, dan suara sintetis semakin sulit dibedakan dari materi asli.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti risiko penyalahgunaan teknologi untuk penipuan dan manipulasi informasi. Pemerintah juga menekankan pentingnya tata kelola AI dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memeriksa informasi.

Apa itu deepfake?

Deepfake adalah gambar, video, atau suara yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi AI sehingga tampak menyerupai orang atau kejadian nyata.

Teknologi ini tidak selalu digunakan untuk tujuan buruk. AI juga dapat dimanfaatkan dalam produksi film, pendidikan, hiburan, dan kebutuhan kreatif lainnya.

Masalah muncul ketika konten sintetis digunakan untuk menipu, menyamar sebagai orang lain, merusak reputasi, atau menyebarkan klaim palsu seolah-olah benar-benar terjadi.

Karena itu, kita perlu membedakan dua pertanyaan: apakah konten dibuat menggunakan AI, dan apakah informasi yang disampaikan konten tersebut benar?

Keduanya tidak selalu sama. Konten AI bisa digunakan untuk menyampaikan informasi yang benar, sementara video asli pun dapat dipotong atau diberi konteks menyesatkan.

Lima cara memeriksa konten yang mencurigakan

1. Cari sumber pertama

Jangan berhenti pada unggahan yang muncul di linimasa. Periksa siapa yang pertama kali menerbitkan video atau gambar tersebut, kapan diterbitkan, dan apakah ada sumber asli yang bisa ditemukan.

2. Cocokkan dengan sumber independen

Jika sebuah video mengklaim seorang pejabat membuat pernyataan penting, cari rekaman lengkap, transkrip, atau keterangan dari kanal resmi. Untuk berita besar, periksa apakah media kredibel lain melaporkan kejadian yang sama.

3. Perhatikan konteks, bukan hanya wajah

Wajah yang tampak alami bukan bukti keaslian. Sebaliknya, gerakan bibir atau pencahayaan yang janggal juga tidak cukup untuk memastikan sebuah video adalah deepfake.

Periksa tanggal, lokasi, konteks peristiwa, dan kesesuaian isi dengan sumber lain.

4. Waspadai permintaan uang dan data pribadi

Jika sebuah video atau panggilan suara dari seseorang yang dikenal meminta transfer mendesak, kode OTP, kata sandi, atau data keuangan, lakukan verifikasi melalui saluran lain yang sudah diketahui aman.

Misalnya, hubungi orang tersebut menggunakan nomor yang tersimpan sebelumnya, bukan nomor atau tautan yang diberikan dalam pesan mencurigakan.

5. Jangan buru-buru membagikan

Jika belum dapat memastikan kebenarannya, jangan meneruskan konten sebagai fakta. Membagikan informasi yang belum terverifikasi dapat memperluas penipuan dan merugikan orang yang ditampilkan.

Apakah label AI akan menyelesaikan masalah?

Pelabelan dapat membantu masyarakat mengenali bahwa sebuah konten dibuat atau dimanipulasi menggunakan AI. Namun, label bukan satu-satunya jawaban.

Efektivitasnya juga bergantung pada bagaimana label diterapkan, apakah asal-usul konten dapat ditelusuri, dan apakah masyarakat memahami cara memeriksa informasi.

Pada 17 Oktober, Kemkomdigi menyampaikan bahwa aturan mengenai pelabelan konten AI masih dikaji. Karena itu, aturan tersebut belum boleh ditulis seolah-olah sudah berlaku.

AI adalah alat, verifikasi tetap tanggung jawab manusia

Teknologi AI dapat mempermudah pekerjaan dan membuka peluang kreatif. Namun, kemampuan menghasilkan gambar, suara, atau video yang realistis membuat literasi digital semakin penting.

Kita tidak harus langsung menuduh sebuah video sebagai palsu hanya karena terlihat aneh. Sebaliknya, kita juga tidak boleh mempercayainya hanya karena tampak nyata.

Langkah paling aman adalah memeriksa sumber, menguji konteks, dan menahan diri sebelum menyebarkan informasi yang belum terbukti.

Di era AI, kemampuan berpikir kritis bukan sekadar keahlian tambahan. Itu bagian penting dari cara kita menjaga diri dan orang lain di ruang digital. (koni)

Sumber: Kemkomdigi, siaran pers 17 Oktober 2026 mengenai kajian aturan pelabelan konten AI..

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *