Ringkasan: El Niño dapat memengaruhi pola hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, fenomena ini bukan satu-satunya faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan.
El Niño Sering Disebut, Sebenarnya Apa Itu?
Ketika Indonesia menghadapi musim kering dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, istilah El Niño kerap muncul dalam laporan cuaca. Fenomena ini berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang dapat memengaruhi pola sirkulasi atmosfer dan distribusi hujan di berbagai wilayah.
Dampaknya tidak selalu sama di setiap daerah. Karena itu, informasi El Niño perlu dibaca bersama prakiraan cuaca dan peringatan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Bagaimana El Niño Berkaitan dengan Kekeringan?
Dalam kondisi tertentu, El Niño dapat mengurangi peluang hujan di sebagian wilayah Indonesia. Ketika periode kering berlangsung lama, tanah dan vegetasi dapat menjadi lebih kering sehingga kondisi lebih mendukung terjadinya kebakaran.
BMKG dalam analisis yang diterbitkan pada 13 Oktober 2026 melaporkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 sebesar +3,33°C dan indeks ENSO tiga bulanan sebesar +3,08 untuk periode Agustus–September–Oktober. BMKG mengategorikan kondisi tersebut sebagai El Niño berintensitas sangat kuat dalam analisisnya.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah kabupaten dan kota pada Dasarian II Oktober. Peringatan itu berlaku untuk wilayah yang disebutkan dalam analisis, bukan berarti semua daerah Indonesia memiliki kondisi yang sama.
Apakah El Niño Penyebab Tunggal Karhutla?
Tidak. El Niño dapat meningkatkan kondisi yang mendukung kebakaran, tetapi tidak menjelaskan sumber setiap api.
Kebakaran juga dipengaruhi faktor setempat, seperti sumber penyalaan, kondisi vegetasi dan lahan, aktivitas manusia, pengelolaan lahan, serta kecepatan penanganan. Untuk menetapkan penyebab suatu kebakaran tertentu, diperlukan pemeriksaan dan bukti lapangan.
Menyebut El Niño sebagai penyebab tunggal berisiko mengabaikan faktor manusia dan tanggung jawab pencegahan.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Warga dapat mengikuti prakiraan cuaca, peringatan kekeringan, dan informasi risiko karhutla dari BMKG serta pemerintah daerah. Hindari membakar lahan, laporkan kebakaran kepada petugas berwenang, dan ikuti panduan resmi apabila wilayah tempat tinggal terdampak asap.
Informasi iklim membantu masyarakat memahami risiko. Namun, keputusan yang tepat tetap memerlukan informasi yang spesifik terhadap wilayah dan waktu.
Intinya: El Niño membantu menjelaskan sebagian perubahan kondisi iklim. Fenomena ini dapat meningkatkan risiko kekeringan, tetapi pencegahan kebakaran, pengelolaan lahan, dan respons yang cepat tetap penting.
Sumber: BMKG, Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Oktober 2026, 13 Oktober 2026.
BACA JUGA: Karhutla Berulang, Apa yang Perlu Dievaluasi Pemerintah?
Views: 2






