Ringkasan tulisan: Setelah Senin memerah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Selasa ini anjlok lebih dalam — turun 106,96 poin atau 1,99 persen ke level 5.266,13 — sementara rupiah ikut melemah ke Rp18.156 per dolar AS. Ini penting meski kamu bukan pemain saham: pasar yang goyah dua hari berturut-turut adalah sinyal bahwa pelaku pasar sedang gelisah menanti keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan penataan ulang indeks global pada November.
Channel8.co.id, Jakarta, — Kalau edisi kemarin bercerita soal Senin yang memerah, Selasa ini ceritanya berlanjut — dan lebih dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.266,13 pada Selasa, 27 Oktober 2026, turun 106,96 poin atau 1,99 persen dari penutupan Senin di 5.373,09. Ini hari kedua berturut-turut IHSG ditutup di zona merah, setelah Senin melemah 1,22 persen.
Perjalanan sesinya sendiri naik-turun. IHSG dibuka melemah ke 5.357,97, sempat menguat dan menyentuh level tertinggi harian 5.418, lalu merosot hingga titik terendah 5.182 sebelum ditutup di 5.266,13. Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: angka-angka pagi hari yang sempat beredar — misalnya IHSG di 5.396 atau 5.405 — itu adalah angka sesaat di tengah perdagangan, bukan angka penutupan. Yang dipakai artikel ini adalah angka penutupan, karena hanya angka penutupanlah yang menjadi patokan resmi hari itu.
Tekanan jualnya terlihat jelas dari komposisi saham: 611 saham melemah, hanya 100 saham menguat, dan 82 saham stagnan, dengan nilai transaksi sekitar Rp17,57 triliun. Indeks LQ45 — kumpulan 45 saham paling likuid, alias paling mudah diperjualbelikan — ikut turun 1,69 persen ke 533,02. Dari sisi sektoral, hanya sektor perindustrian yang menguat, naik 1,43 persen; sepuluh indeks sektoral lainnya ditutup di zona merah, dengan saham-saham seperti DEWA, MBMA, dan WIFI menjadi pemberat di kelompok LQ45.

Lalu, kenapa pasar goyah? Sederhanakan begini. Pertama, rupiah melemah: sore ini rupiah ditutup di Rp18.156 per dolar AS, melemah 21 poin dari Rp18.135 pada penutupan sebelumnya, dan semakin mendekati level terendah yang dicetak pada awal Juni 2026. Sepanjang tahun ini saja, rupiah sudah melemah sekitar 8 persen. Kedua, imbal hasil obligasi pemerintah naik — sederhananya, biaya pinjaman pemerintah lewat surat utang jadi lebih mahal, dan itu biasanya membuat investor lebih berhati-hati. Ketiga, pelaku pasar mengantisipasi penataan ulang indeks MSCI pada November — rebalancing, alias penyesuaian berkala daftar saham dalam indeks global yang dipakai manajer investasi dunia sebagai acuan — serta aksi jual bersih investor asing dan penguatan dolar AS menjelang rapat bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang keputusannya ditunggu pada 29 Oktober. Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati laporan keuangan emiten kuartal III/2026 dan kebijakan Bursa Efek Indonesia soal saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Seberapa dalam penurunannya kalau dilihat lebih jauh? Dalam sepekan, IHSG terkoreksi 0,24 persen; dalam sebulan, melemah 13,98 persen; dan sejak awal tahun, IHSG sudah melemah 39,10 persen. Angka-angka itu bukan ramalan — itu rekaman perdagangan yang sudah terjadi, dan itulah kenapa dua hari merah berturut-turut ini terasa lebih berat dari sekadar “pasar lagi turun”.
Buat kamu yang bukan pemain saham, kenapa ini tetap relevan? Karena IHSG dan rupiah adalah termometer kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Saat keduanya melemah bersamaan, biasanya ada kegelisahan yang lebih luas: soal arus modal asing, soal biaya pinjaman, soal harga barang impor yang bisa merambat ke harga-harga di pasar. Bukan berarti kamu harus panik — pasar memang bergerak naik-turun — tapi dua hari merah berturut-turut adalah alasan yang cukup untuk memperhatikan apa yang diputuskan The Fed pada 29 Oktober nanti, karena keputusan itu sering menjadi penentu arah pasar berikutnya. (redaksi C8)
Views: 1






