Channel8.co.id, Lombok Tengah — Kamis pagi, 8 Oktober 2026. Di SDN 2 Kuta Mandalika, Lombok Tengah, hari berjalan seperti biasa. Sampai lima pembalap kelas dunia jalan masuk ke halaman sekolah.
Namanya mungkin sudah tidak asing buat penggemar balap: Mario Suryo Aji, Veda Ega Pratama, Manuel Gonzalez, Luca Lunetta, dan David Almansa. Mereka datang lewat program Riders Go to School — sehari sebelum Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dimulai di Sirkuit Mandalika.
Sambutannya meriah. Anak-anak menampilkan kesenian tradisional Lombok. Bayangkan suasananya: pembalap yang biasa disambut gemuruh penonton sirkuit, hari itu disambut tepuk tangan anak-anak SD.
Yang bikin momen ini spesial: dua di antara lima pembalap itu orang Indonesia. Dan yang satu masih 17 tahun. Veda Ega Pratama, remaja asal Gunungkidul, musim ini debut di Moto3. Umurnya cuma beda beberapa tahun dari kakak-kakak OSIS yang nonton. Mario Suryo Aji, yang kini balapan di Moto2, mulai dibina serius sejak umur 12 tahun — seumuran anak kelas 6 SD yang hari itu duduk mendengarkan ceritanya.

Di sesi sharing, keduanya cerita soal jalan panjang menuju panggung dunia. Bukan soal menang, tapi soal jatuh-bangunnya: latihan rutin, disiplin, konsistensi, dan keberanian menghadapi tekanan. Pesan yang sederhana, tapi kalau yang ngomong anak 17 tahun yang sudah balapan keliling dunia, nempelnya beda.
“Saya senang bisa berbagi pengalaman dengan adik-adik di sini. Semoga mereka semakin berani bermimpi dan terus berusaha untuk mengejarnya,” kata Veda.
Acara makin seru waktu delapan siswa kelas III sampai VI diajak menghias helm bareng para pembalap. Temanya kepedulian lingkungan: Greener Future Together. Helm hasil karya mereka diserahkan ke pembalap sebagai kenang-kenangan. Ada juga kuis keselamatan berlalu lintas bareng Ditlantas Polda NTB — belajar aturan jalan dengan cara yang fun.

“Kami ingin anak-anak di Mandalika tidak hanya melihat para rider ketika mereka berada di lintasan. Hari ini mereka bisa bertemu, berbicara, tertawa, dan belajar langsung dari para pembalap yang mereka lihat berlaga,” kata Troy Warokka, Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026.
Kepala SDN 2 Kuta, Lalu Satriadi, mengaku bangga. “Kedatangan mereka menjadi inspirasi bagi murid dan guru kami bahwa untuk mencapai level dunia dibutuhkan kerja keras dan dedikasi tinggi,” ujarnya. InJourney dan ITDC juga menyerahkan donasi untuk sekolah itu.
Rangkaiannya belum berhenti. Jumat kemarin, 50 pelajar dan 10 guru dari berbagai sekolah di Lombok diajak masuk ke paddock lewat program Students Go to Paddock — melihat dari dekat dapur pacu balap motor kelas dunia.
Dan hari ini, Sabtu 10 Oktober, para pembalap itu turun di Sprint Race. Besok, Minggu, balapan utama pukul 15.00 WITA.
Buat anak-anak SDN 2 Kuta, akhir pekan ini menonton MotoGP pasti rasanya beda. Yang melaju kencang di lintasan bukan lagi orang asing di layar kaca — tapi kakak-kakak yang dua hari lalu duduk bareng mereka, menghias helm, dan bilang: berani bermimpi itu gratis, yang mahal adalah kerja kerasnya. (koni)
Views: 0






