Historia

Bismar Siregar dan Pak Harto: Ketika Seorang Hakim Memilih Tetap Bersahabat di Tengah Badai

×

Bismar Siregar dan Pak Harto: Ketika Seorang Hakim Memilih Tetap Bersahabat di Tengah Badai

Sebarkan artikel ini

Kisah dari buku Pak Harto: The Untold Stories tentang keberanian Bismar Siregar menemui Soeharto ketika mantan presiden itu menghadapi tekanan publik. Sebuah cerita tentang persahabatan, keadilan, iman, dan sikap manusia saat kekuasaan tak lagi melindunginya.

Channel8.co.id | Historia

Ada masa ketika seseorang dikelilingi banyak orang karena kekuasaannya. Namun, ketika kekuasaan itu hilang, satu per satu orang mulai menjauh. Telepon yang dahulu ramai berdering menjadi sunyi. Mereka yang dulu berdiri di barisan terdepan bisa saja memilih menghilang, seolah tak pernah mengenal siapa pun yang pernah berada di puncak.

Di tengah situasi seperti itulah, sebuah kisah tentang Bismar Siregar dan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, menarik untuk dibaca kembali.

Bismar bukan sekadar orang yang mengenal Pak Harto.  Ia adalah seorang hakim yang pernah menduduki jabatan Hakim Agung. Dalam kisah yang ditulisnya di buku Pak Harto: The Untold Stories, ia menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan Pak Harto pada masa ketika mantan presiden itu menghadapi tekanan, kritik, dan persoalan hukum setelah tidak lagi memegang kekuasaan.

Yang menarik, cerita Bismar bukan semata-mata tentang seorang tokoh besar yang pernah memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade. Ini juga tentang pilihan moral seseorang: apakah kita tetap bersedia menemui orang yang sedang jatuh, meskipun kehadiran kita mungkin tidak disukai banyak orang?

Ketika Pak Harto Berada di Tengah Tekanan

Tahun 2000 menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan hukum Pak Harto  setelah berhenti dari jabatan presiden pada Mei 1998.

Dalam tulisannya, Bismar mengenang suasana ketika Pak Harto dijadwalkan menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam kisah tersebut, Soeharto tidak dapat hadir karena kondisi kesehatannya, sebagaimana diterangkan melalui surat dokter.

Situasi itu memancing protes. Sebagian masyarakat mempertanyakan kondisi kesehatan Pak Harto,  sementara kemarahan masyarakat terhadap Pak Harto masih terasa kuat.

Bagi sebagian orang, persoalan itu bukan sekadar perkara hukum. Ada pula akumulasi kekecewaan terhadap pemerintahan masa lalu yang ikut membentuk cara mereka memandang Pak Harto.

Bismar mengaku mencermati keadaan tersebut. Ia melihat adanya tuduhan bahwa keterangan dokter direkayasa, sekaligus suasana emosional yang berpotensi mendorong keinginan membalas dendam.

Di tengah situasi itu, ia menyampaikan pendapat yang berbeda dari arus kemarahan yang berkembang.

Dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi nasional, sebagaimana ia ceritakan dalam bukunya, Bismar spontan menyatakan bahwa mengadili seseorang yang sedang sakit haram hukumnya ( tidak dapat dibenarkan).

Pernyataan itu mengejutkan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa pandangannya berpotensi dianggap berlawanan dengan sikap banyak orang pada saat itu yang menuntut peradilan rakyat atas diri Pak Harto.

Namun, bagi Bismar, ada persoalan mendasar yang perlu dipisahkan: tuntutan pertanggungjawaban hukum tidak seharusnya menghilangkan pertimbangan mengenai kondisi manusia yang sedang dihadapi.

Pandangan tersebut tidak berarti bahwa seseorang harus dibebaskan dari pertanggungjawaban hukum hanya karena sakit. Proses hukum tetap harus berjalan sesuai ketentuan, dengan memperhatikan bukti, kondisi terdakwa, dan keputusan pihak yang berwenang.

Di sinilah kisah Bismar mengajak pembaca melihat persoalan dari dua sisi: tuntutan keadilan dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Memasuki Cendana Ketika Banyak Orang Menjauh

Setelah pernyataannya menjadi perhatian, Bismar menerima telepon dari Sya’adilah Mursjid yang menanyakan kesediaannya untuk datang ke Cendana dan berbincang dengan Soeharto.

Bagi Bismar, kunjungan itu bukan perkara biasa. Ia menyadari bahwa Soeharto sedang berada dalam situasi yang sulit dan menjadi sasaran kritik dari berbagai kalangan. Namun, ia memutuskan untuk datang.

Dalam tulisannya, Bismar mengaitkan keputusan tersebut dengan keyakinan agama dan pentingnya berprasangka baik. Ia mengingat pesan tentang kesediaan mendatangi orang yang sedang tertimpa musibah dan memberikan nasihat ketika diperlukan.

Ia pun melangkahkan kaki ke Cendana, tempat yang menurut pengakuannya belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Ada sesuatu yang menarik dari keputusan tersebut. Ia datang untuk bertemu seorang manusia yang sedang menghadapi masa sulit.

Di dalam buku itu, Bismar menggambarkan bahwa pertemuan mereka berlangsung dalam suasana santai, sambil menikmati teh dan makanan ringan.

Percakapan mereka kemudian bergerak ke wilayah yang lebih pribadi: tentang iman, zikir, dan bagaimana seseorang memandang kehidupan ketika keadaan tidak lagi berjalan sesuai keinginannya.

Pertanyaan Pak Harto yang Tidak Terduga

Salah satu bagian paling menarik dari kisah Bismar adalah percakapan mengenai zikir yang paling dimuliakan Allah.

Menurut penuturan Bismar, Pak Harto mengajukan pertanyaan tersebut kepadanya ketika mereka sedang berbincang.

Bismar menjawab bahwa zikir yang dimaksud adalah Alhamdulillah, ungkapan syukur kepada Allah.

Bagi Bismar, dua kalimat syahadat memang menjadi penanda keislaman seseorang. Namun, ia menjelaskan bahwa rasa syukur juga memiliki makna yang mendalam, terutama ketika seseorang mampu mengucapkannya bukan hanya pada saat memperoleh kebahagiaan, melainkan juga ketika menghadapi musibah.

Sikap itu, dalam pandangannya, bukan berarti seseorang harus menikmati penderitaan. Sebaliknya, rasa syukur dapat menjadi cara untuk menjaga ketenangan dan mencari hikmah ketika kehidupan terasa berat.

Percakapan tersebut memperlihatkan sisi personal dari hubungan mereka. Di luar pembicaraan tentang kekuasaan dan persoalan hukum, ada dua orang yang berbincang tentang pertanyaan mendasar dalam kehidupan: bagaimana menerima kenyataan dan bagaimana menjaga hati ketika keadaan berubah.

Bagi pembaca masa kini, terutama generasi muda, percakapan ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa tokoh sejarah tidak hanya hidup melalui jabatan, keputusan politik, atau kontroversi. Mereka juga memiliki ruang pribadi, pertanyaan batin, dan cara masing-masing menghadapi ketidakpastian.

Namun, kisah ini tetap perlu dibaca sesuai konteksnya: sebagai kenangan yang dituturkan oleh Bismar, bukan sebagai gambaran lengkap mengenai keyakinan pribadi Soeharto yang dapat mewakili seluruh perjalanan hidupnya.

Memaafkan di Tengah Badai Kritik

Bagian lain yang paling menyentuh dalam tulisan Bismar adalah pengalamannya ketika Pak Harto  berbicara tentang orang-orang yang mencaci, memfitnah, dan menghujat dirinya.

Bismar menuturkan bahwa Pak Harto menyatakan tidak menyimpan kebencian terhadap orang-orang yang menyerangnya. Ia memilih memaafkan dan menyerahkan persoalan tersebut kepada Tuhan.

Pak Harto memimpin Indonesia selama 32 tahun. Masa pemerintahannya mencatat pembangunan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan persoalan yang terus menjadi bahan perdebatan sejarah.

Di Penghujung Akhir Kehidupan Pak Harto

Kisah Bismar berlanjut ke Januari 2008, ketika ia menjenguk Soeharto yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Menurut penuturannya, kondisi Pak Harto ketika itu telah semakin memburuk. Para dokter disebut telah memberi penjelasan mengenai keadaan kesehatannya.

Dalam kunjungan tersebut, Bismar menceritakan percakapan tentang kondisi Pak Harto dan kemungkinan penghentian alat bantu pernapasan. Ia mengaku menanyakan kepada dokter mengenai keadaan medis yang sedang dihadapi pasien dan apakah persoalan tersebut dapat dibicarakan dalam majelis dokter.

Pada halaman berikutnya, Bismar menuturkan bahwa dokter menjawab persoalan itu akan dibicarakan dalam majelis dokter.

Bagi Bismar, peristiwa tersebut menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang mendalam. Ia melihatnya sebagai pengingat bahwa kehidupan manusia pada akhirnya memiliki batas.

Pada 27 Januari 2008, Soeharto meninggal dunia di Jakarta pada usia 86 tahun.

Kunjungan Bismar menjelang akhir kehidupan mantan presiden itu menutup rangkaian kenangan yang ia ceritakan dengan nada personal. Dari pertemuan di Cendana hingga kunjungan di rumah sakit, hubungan mereka digambarkan tidak berhenti ketika Soeharto kehilangan kekuasaan.

Persahabatan, Keadilan, dan Ingatan Sejarah

Buku Pak Harto: The Untold Stories memuat sejumlah kesaksian pribadi tentang Soeharto dari orang-orang yang pernah berada di lingkaran kehidupannya. Salah satu kisah di dalamnya adalah pengalaman Bismar Siregar yang menggambarkan pertemuan mereka melalui sudut pandang persahabatan dan spiritualitas.

Kesaksian semacam ini berharga untuk memahami bagaimana seorang tokoh dikenang oleh orang yang pernah berinteraksi dengannya.

Kisah tentang Bismar dan Pak Harto  perlu ditempatkan berdampingan dengan dokumen sejarah, catatan hukum, kebijakan negara, serta pengalaman masyarakat yang hidup pada masa Orde Baru.

Pada akhirnya, inti cerita Bismar bukan semata-mata apakah Pak Harto pantas dikenang sebagai sahabat, pemimpin, atau tokoh yang kontroversial.

Ada pertanyaan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: ketika seseorang terjatuh, apakah kita masih mampu melihatnya sebagai manusia tanpa kehilangan keberanian untuk berkata benar?

Pertanyaan itulah yang membuat kisah lama ini tetap layak dibaca hari ini.

BACA JUGA : Saat Soeharto Ditinggalkan Banyak Orang, Anton Tabah Justru Datang Mendampingi

Sumber utama: Bismar Siregar, “Bapak H.M. Soeharto yang Saya Cintai,” dalam Pak Harto: The Untold Stories, diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2011, khususnya halaman 597–599

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *