Channel8.co.id, Merak, Selasa sore (20/10), sekitar pukul 16.15 WIB, percikan api terlihat di buritan KMP Batu Mandi — kapal penyeberangan rute Bakauheni–Merak yang sedang bermanuver menuju Dermaga VI Pelabuhan Merak, sekitar 700 meter dari dermaga. Api berasal dari dek atas tempat parkir kendaraan kecil. Asap hitam pekat membubung. Kepanikan pecah.
Di atas kapal ada 420 penumpang dan 89 kendaraan, menurut manifes. Kapal itu sendiri milik PT ASDP Indonesia Ferry, berangkat dari Bakauheni sekitar pukul 14.52 WIB. Evakuasi berjalan cepat — dibantu kapal penyelamat, dan menurut laporan sejumlah media lokal, nelayan sekitar yang datang dengan perahu mereka ikut membantu mengevakuasi bayi dan anak-anak.
Pukul 21.02 WIB, api padam. Hasilnya: seluruh penumpang dan awak selamatdan kapal tenggelam. Tanpa korban jiwa. Di tengah kabar buruk yang datang bertubi-tubi minggu ini, ini kabar baik yang patut dicatat: 420 orang pulang ke keluarganya.
Tapi ada satu kisah dari kapal itu yang membuat kabar baik ini terasa pahit.
Namanya Rohadi. Pedagang ikan hasil laut, warga Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Ia juga penumpang kapal itu.
Di tengah kepanikan — semua orang panik, teriak-teriak — Rohadi melihat seorang penumpang perempuan menggendong bayi. Si ibu tidak memakai pelampung, wajahnya ketakutan. Rohadi melepas pelampungnya sendiri dan memakaikannya ke ibu itu.
“Semua sudah panik, teriak-teriak. Saya lihat ibu itu gendong bayi, tidak pakai pelampung, mukanya ketakutan. Saya langsung lepas pelampung saya dan saya pakaikan ke ibu itu. Saya bilang, pakai ini bu, selamatkan bayinya dulu. Soal saya nanti saja,” kenangnya.

Ia selamat. Tapi harga kebaikannya mahal: mobil pick-up dan seluruh dagangan ikannya ikut terbakar habis bersama kapal. Mobil itu satu-satunya alat nafkah keluarganya. “Habis semua, mobil dan dagangan ikut terbakar… Sekarang saya hanya bisa merenungi nasib,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Pikirkan sejenak. Di saat semua orang berebut menyelamatkan diri, ada orang yang memberikan satu-satunya pelindung yang ia punya — kepada orang asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Dan “hadiah” atas kebaikannya adalah kehilangan seluruh modal hidupnya.
Kami tidak akan membungkus kisah ini dengan kalimat manis. Yang bisa kami catat: Rohadi berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, dinas sosial, BPBD, ASDP, dan asuransi pelayaran. Itu harapannya — bukan janji siapa pun, dan kami tidak akan menulisnya seolah sudah ada yang berjanji.
Kisah ini juga menyisakan pertanyaan yang lebih besar. Anggota DPR meminta evaluasi total terhadap keselamatan kapal-kapal penyeberangan — wajar, karena jalur Bakauheni–Merak adalah urat nadi penyeberangan Jawa–Sumatera yang dilintasi ratusan ribu orang setiap bulan. Satu kapal terbakar tanpa korban jiwa adalah keberuntungan; memastikan tidak terulang adalah kewajiban. Penyebab kebakaran sendiri masih diselidiki.
Rohadi pulang tanpa mobil, tanpa dagangan, tanpa modal. Tapi ia pulang dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli: keberanian untuk mendahulukan orang lain di saat yang paling genting. Semoga kebaikan semacam ini tidak dibiarkan menanggung kerugiannya sendirian. (Redaksi C8)
Views: 2






