Channel8.co.id, Jakarta – Ribuan generasi muda dari kalangan Generasi Z (Gen Z) tampak antusias mengikuti lomba sketsa wajah Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar TNI HM Soeharto, bertema “Seribu Goresan Sejarah” yang digelar Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 105 tahun kelahiran Presiden Soeharto itu diikuti oleh 1.126 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum dan berhasil mencatatkan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).
Sejak pagi, suasana Auditorium Universitas Trilogi dipenuhi peserta yang mengenakan kaus putih bergambar wajah Presiden Soeharto yang tersenyum. Dengan penuh konsentrasi, mereka duduk rapi sambil menggoreskan pensil di atas kertas putih yang beralaskan papan kayu.
Perlahan, wajah Presiden Soeharto yang dikenal dunia sebagai “The Smiling General” mulai tergambar melalui sentuhan tangan para peserta.
Salah satu peserta, Annisa Yuliana, siswi kelas XI SMKN 10 Cawang, Jakarta Timur, mengaku bangga dapat mengikuti lomba tersebut. Hal serupa juga diungkapkan Savira Maharani, siswi SMKN 46 Jakarta, yang mengaku mengagumi sosok Presiden Soeharto dan ingin mengenal lebih jauh kiprah beliau dalam sejarah Indonesia.
Lomba dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, melalui goresan simbolis dan sirene sebagai tanda dimulainya perlombaan.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana bagi generasi muda untuk meneladani perjuangan Presiden Soeharto.
“Melalui lomba ini, saya berharap kalian dapat meneladani dan melanjutkan perjuangan Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan dan Pahlawan Nasional,” ujarnya.
Ia juga menilai kegiatan melukis sketsa merupakan bagian penting dari proses pendidikan karena mampu mengasah pikiran, rasa, dan hati para peserta.

“Tentu saja kesempatan mengikuti lomba ini menjadi bagian dari pengembangan bakat dan minat kalian. Melukis adalah bagian dari mengolah pikiran, mengolah rasa, dan mengolah hati,” kata Abdul Mu’ti.
Sementara itu, Rektor Universitas Trilogi, Pramono Hari Adi, mengatakan peringatan 105 tahun kelahiran Presiden Soeharto menjadi momentum penting bagi kampusnya.
Menurutnya, Universitas Trilogi memiliki ikatan historis dengan Presiden Soeharto karena nama “Trilogi” merupakan warisan pemikiran besar yang diberikan oleh beliau.
“Kenapa Universitas Trilogi perlu merayakan ini? Karena kami mendapatkan warisan dari beliau, sebuah nama luar biasa, yaitu Trilogi. Istilah ini sangat fenomenal dan memiliki makna besar bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Pramono berharap kegiatan tersebut dapat memperkenalkan kembali sosok dan jasa Presiden Soeharto kepada generasi muda yang tidak mengalami langsung masa kepemimpinannya.
“Terima kasih atas keikutsertaan semuanya. Mudah-mudahan lomba ini menjadi kenangan yang menarik bagi generasi muda,” katanya.
Tidak Sekadar Estetika
Direktur Operasional Museum Rekor Indonesia (MURI), Yusuf Ngadri, menjelaskan bahwa sketsa merupakan karya seni yang lahir dari proses melihat, menghayati, memikirkan, dan mengekspresikan sebuah objek ke dalam bentuk visual.
Namun, menurutnya, lomba kali ini memiliki makna yang lebih dalam karena mengangkat sosok tokoh besar bangsa, Jenderal Besar TNI HM Soeharto.
“Melalui objek tokoh sebesar Pak Harto, hasil karya para peserta tidak hanya menjadi karya estetika, tetapi juga dokumentasi visual yang menjembatani memori kolektif bangsa terhadap sejarah dan warisan pengabdian beliau kepada negara,” ujarnya.
Atas dasar itu, MURI secara resmi menetapkan lomba menggambar sketsa wajah Presiden Soeharto yang diikuti 1.126 peserta sebagai Rekor MURI.
Selain lomba sketsa, Universitas Trilogi juga menggelar Seminar Nasional Kepemimpinan Jenderal Besar TNI HM Soeharto yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Kebudayaan Fadli Zon, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia Letjen TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, serta mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Dr. Yudi Latif.
Peringatan 105 tahun kelahiran Presiden Soeharto ini pun menjadi momentum untuk mengenang kembali jejak kepemimpinan dan warisan sejarah yang ditinggalkannya, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai perjuangan tersebut kepada generasi penerus bangsa. (sri)





