Bisnis

Pagi Anjlok, Sore Terbang: Sehari Roller Coaster IHSG di Level 5.387

×

Pagi Anjlok, Sore Terbang: Sehari Roller Coaster IHSG di Level 5.387

Sebarkan artikel ini

Ringkasan : IHSG menjalani hari paling dramatis pekan ini: dibuka anjlok 1,51 persen, lalu berbalik ditutup menguat 1,12 persen ke level 5.387 — rebound hari ketiga beruntun, meski sepekan masih turun 8,12 persen. Di saat yang sama, rupiah justru melemah ke kisaran Rp18.060 per dolar AS. Tulisan ini membantu pembaca membaca ayunan pasar tanpa panik — dan tanpa euforia berlebihan.

Channel8.co.id, Jakarta, Kalau kemarin kamu sempat melirik aplikasi sekuritas pagipagi, jantungmu mungkin sempat copot. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terjun 1,51 persen ke level 5.247,98 pada pukul 09.00 WIB — bahkan sempat menyentuh titik terendah 5.185,52. Layar merah di mana-mana: 517 saham melemah, cuma 54 yang menguat.

Tapi pasar hari Kamis (22/10) ini ternyata punya plot twist. IHSG berbalik arah, terus menanjak sepanjang sesi, dan ditutup menguat 59,54 poin atau 1,12 persen ke level 5.387-an. Tertinggi hari itu sempat menyentuh 5.422,58. Pada penutupan, 467 saham menguat berbanding 204 yang melemah, dengan nilai transaksi sekitar Rp16,16 triliun dari 37,57 miliar saham yang berpindah tangan. Ini adalah rebound hari ketiga beruntun bagi IHSG.

Buat yang belum familiar — sederhananya begini. IHSG itu rata-rata harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kalau angkanya naik, artinya secara umum pasar sedang optimistis; kalau turun, pasar sedang waswas. Ayunan sebesar kemarin — dari minus 1,5 persen menjadi plus 1,1 persen dalam satu hari — menandakan tarik-menarik yang keras antara penjual yang panik dan pembeli yang melihat peluang.

Lalu, apa yang bikin pasar pagi tadi panik, lalu siangnya berubah pikiran? Sentimen negatifnya datang dari luar dan dari dalam. Dari luar: mayoritas bursa Asia melemah, ditekan kejatuhan saham teknologi dan kecerdasan buatan — Hang Seng anjlok 3,06 persen, bursa Filipina turun 0,72 persen. Harga minyak mentah dunia juga bertahan di atas 100 dolar AS per barel, yang biasanya bikin pelaku pasar khawatir soal inflasi. Dari dalam: bayang-bayang rencana MSCI menurunkan klasifikasi pasar Indonesia masih menghantui, seperti dicatat analis Gunawan Benjamin — tekanan jual yang dipicu sentimen itu belum sepenuhnya reda.

Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: kalau sentimennya negatif, kok bisa berbalik menguat? Jawabannya: pasar saham itu bukan cermin hari ini saja, melainkan ajang tawar-menawar ekspektasi. Ketika harga sudah jatuh dalam, sebagian investor menilai saham-saham sudah “murah” dan mulai membeli — apalagi saham perbankan besar yang jadi penopang indeks. Buktinya: seluruh sepuluh indeks sektoral kompak menguat, dipimpin sektor energi dan transportasi. Di kelompok saham unggulan LQ45 — 45 saham paling likuid di bursa — Mitra Adiperkasa (MAPI) melesat 10,76 persen, Amman Mineral (AMMN) naik 5,61 persen, dan BNI (BBNI) menguat 4,92 persen. Transaksi terbesar hari ini dicatat BRI (BBRI) Rp1,51 triliun, disusul BCA (BBCA) Rp1,43 triliun.

Tapi — dan ini pentingnya — jangan buru-buru bilang pasar sudah pulih. Secara mingguan, IHSG masih turun 8,12 persen dibandingkan penutupan 15 Oktober di level 5.863,78. Ibarat orang yang jatuh dari lantai 5 lalu naik ke lantai 4: memang sudah naik, tapi masih jauh dari posisi semula.

Satu lagi yang perlu dicatat: di saat IHSG menghijau, rupiah justru melemah — ditutup di kisaran Rp18.060-an per dolar AS. Dua pasar bisa bergerak beda arah karena digerakkan pelaku yang berbeda: saham kemarin didorong aksi beli domestik, sementara rupiah tertekan aksi jual investor asing dan penguatan harga minyak. Jadi kalau ada yang bilang “pasar bagus” hanya karena IHSG naik, ingat: rupiah sedang bilang hal yang sedikit berbeda.

Buat investor ritel — termasuk Gen Z yang baru mulai nabung saham — pelajarannya kemarin sederhana: jangan ambil keputusan dari layar merah jam 09.00 pagi, dan jangan euforia dari layar hijau jam 15.00 sore. Lihat trennya, pahami konteksnya, dan ingat bahwa satu hari yang dramatis belum tentu mengubah cerita satu minggunya. (redaksi C8)

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bisnis

RDG BI 20–21/10/2026: BI-Rate ditahan 5,75% (melawan prediksi mayoritas analis), Deposit Facility naik 25 bps ke 5,00%, Lending Facility ditahan 6,50%, insentif DNDF ditingkatkan. IHSG berbalik menguat 0,94% ke 5.328,36; JISDOR Rp17.986.