Human

Dua Wajah, Satu Jiwa: Saat Topeng Indonesia dan Korea Bercerita Hal yang Sama

×

Dua Wajah, Satu Jiwa: Saat Topeng Indonesia dan Korea Bercerita Hal yang Sama

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon saat menghadiri peresmian Pameran Topeng Tradisional Kolaborasi Korea-Indonesia bertajuk “Dua Wajah, Satu Jiwa” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, 26 Oktober 2026. (Foto: Dokumentasi/Kementerian Kebudayaan)

Ringkasan tulisan: Pameran “Dua Wajah, Satu Jiwa” di Museum Nasional mempertemukan topeng tradisional Indonesia dan Korea — termasuk sepuluh pasang topeng yang ternyata bercerita tentang hal yang sama, seperti topeng yang sama-sama menggambarkan manusia di usia senja. Ini penting karena topeng sering kita anggap sekadar hiasan, padahal ia adalah cermin: cara dua bangsa yang jauh berbeda memaknai hidup, tua, dan jati diri.

Channel8.co.id, Jakarta, — Pernahkah kamu memandangi sebuah topeng dan bertanya-tanya: wajah siapa ini, dan cerita apa yang ia sembunyikan? Di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pertanyaan itu dijawab lewat pameran “Dua Wajah, Satu Jiwa”, yang mempertemukan tradisi topeng Indonesia dan Korea Selatan dalam satu ruang.

Pameran ini digelar Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bersama Indonesian Heritage Agency, dan menurut laporan Inacraft News, resmi dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Selasa, 27 Oktober 2026. Fadli Zon menyampaikan bahwa kebudayaan memberi dimensi kemanusiaan dalam kemitraan dua negara — melampaui hubungan diplomatik formal yang sudah terjalin sejak 1973. “Pameran ‘Dua Wajah, Satu Jiwa’ menjadi wujud bermakna dari persahabatan tersebut dengan mempertemukan topeng Indonesia dan Korea dalam sebuah dialog budaya,” katanya dalam sambutan.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memberikan sambutan saat  peresmian Pameran Topeng Tradisional Kolaborasi Korea-Indonesia bertajuk “Dua Wajah, Satu Jiwa” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, 26 Oktober 2026. (Foto: Dokumentasi/Kementerian Kebudayaan)

Bagian paling menarik dari pameran ini adalah sepuluh pasang topeng tradisional Indonesia dan Korea yang memiliki kemiripan dalam makna, karakter, maupun nilai budaya. Salah satu pasangannya: topeng Miyal Halmi dari Korea dan topeng Tua dari Bali — dua topeng dari dua ujung Asia yang berbeda, tapi sama-sama menggambarkan manusia pada usia senja. Bayangkan: tanpa pernah saling bertemu, dua kebudayaan sampai pada cara yang mirip untuk menggambarkan tua — keriput, mata yang menatap jauh, dan wibawa yang tidak perlu berteriak.

Sederhananya, topeng itu bukan sekadar penutup wajah. Dalam tradisi, topeng menyimpan nilai spiritual, mitologi, dan identitas masyarakatnya: siapa yang dihormati, apa yang ditakuti, dan bagaimana manusia memaknai tahapan hidupnya. Itulah yang coba diungkap pameran ini — bahwa di balik bentuk dan teknik yang berbeda, ada pengalaman manusia yang sama.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon foto bersama usai peresmian Pameran Topeng Tradisional Kolaborasi Korea-Indonesia bertajuk “Dua Wajah, Satu Jiwa” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, 26 Oktober 2026. (Foto: Dokumentasi/Kementerian Kebudayaan)

Pameran ini disajikan dalam dua bagian: ruang pamer fisik, tempat pengunjung melihat langsung koleksi topeng dan mempelajari karakteristik, makna, serta nilai budayanya; dan ruang imersif, yang menghadirkan pengalaman audiovisual untuk menjelajahi tradisi topeng lewat visualisasi yang menarik. Menurut laman resmi KCCI yang dikutip Mabur.co, pameran berlangsung hingga 31 Januari 2027. Konten imersifnya tersedia gratis pada sesi-sesi tertentu, meski pengunjung tetap perlu memiliki tiket masuk reguler Museum Nasional. Penyelenggara juga menyiapkan program pendukung, antara lain lokakarya tari tradisional dan Weekend Experience — kegiatan budaya setiap akhir pekan.

Buat kamu yang merasa museum itu jauh dan membosankan, pameran ini mungkin pintu masuk yang pas: tidak perlu jadi ahli budaya untuk menikmatinya. Cukup datang, tatap satu topeng, dan tanyakan satu hal — wajah siapa ini, dan kenapa ia dibuat seperti itu? Jawabannya, sering kali, adalah jawaban tentang kita juga. (redaksi C8)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Human

Dalam diskusi “Darurat Perundungan di Sekolah” di Senayan, Senin, 26 Oktober 2026, Menkomdigi Meutya Hafid menyebut 45 persen anak pernah mengalami perundungan siber, sementara hanya 39,9 persen orang tua yang merasa cukup mampu mendampingi anak di internet. Ini penting karena perundungan di dunia maya tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi — ia bisa masuk ke kamar anak lewat gawai, dan pendampingan orang tua menjadi garis pertahanan pertama yang ternyata masih rapuh.

Human

Rabu, 28 Oktober 2026, Kementerian Sosial meresmikan 100 gedung Sekolah Rakyat di Makassar — sekolah gratis berasrama untuk anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Ini penting karena program ini tidak menyaring anak lewat nilai ujian, melainkan lewat kondisi ekonomi keluarganya — dan setelah satu tahun berjalan, peresmian ini menjadi ujian berikutnya: apakah gedung baru dibarengi pengasuhan yang aman untuk anak-anak yang tinggal di dalamnya.

Human

Menyambut Hari Sumpah Pemuda, bakti sosial dan donor darah di Aula Kantor Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur, Sabtu, 24 Oktober 2026, dihadiri 240 orang pendonor bersama PMI. Ini penting karena di tengah perayaan yang sering berhenti di upacara, mereka memilih bentuk persatuan yang paling nyata: mendonorkan darah tanpa pernah bertanya siapa yang akan menerimanya.

Human

Kabar baik dari Kemenkes: kasus ISPA harian di wilayah karhutla turun dari belasan ribu menjadi sekitar 3.000, dan wilayah dengan kualitas udara kategori merah-hitam menyusut dari 50 ke 22 kabupaten/kota. Kabar buruknya: total sudah 333 ribu kasus, 75 ribu di antaranya menimpa balita — dan di Sumatera trennya masih naik. Ini cerita tentang mereka yang menghirup asapnya setiap hari, dan tentang “rumah oksigen” yang disiapkan negara.