Ringkasan tulisan: Kabar baik dari Kemenkes: kasus ISPA harian di wilayah karhutla turun dari belasan ribu menjadi sekitar 3.000, dan wilayah dengan kualitas udara kategori merah-hitam menyusut dari 50 ke 22 kabupaten/kota. Kabar buruknya: total sudah 333 ribu kasus, 75 ribu di antaranya menimpa balita — dan di Sumatera trennya masih naik. Ini cerita tentang mereka yang menghirup asapnya setiap hari, dan tentang “rumah oksigen” yang disiapkan negara.
Channel8.co.id, Jakarta, ada kabar baik dan kabar buruk dari Kementerian Kesehatan soal kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabar baiknya: situasinya membaik. Kabar buruknya: harganya sudah terlanjur dibayar — oleh paru-paru ratusan ribu warga.
Kamis (22/10), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan perkembangan terbaru dalam konferensi pers. Kasus infeksi saluran pernapasan akut — ISPA — di wilayah terdampak yang tadinya mencapai 10 ribu sampai 15 ribu per hari, kini turun ke sekitar 3.000 kasus per hari. Jumlah kabupaten/kota dengan kualitas udara kategori merah dan hitam juga menyusut: dari 50 wilayah di awal September menjadi 22 wilayah.
ISPA itu apa, sih? Sederhananya: infeksi di saluran napas — hidung, tenggorokan, sampai paru-paru — dengan gejala batuk, pilek, sesak, dan demam. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 — partikel super kecil yang bisa lolos jauh ke dalam paru-paru — plus karbon monoksida dan zat-zat lain yang memicu ISPA, asma, bahkan iritasi mata dan kulit.
Tapi jangan dulu lega. Secara kumulatif, Kemenkes mencatat sekitar 333.470 kasus ISPA hingga pekan ini di tujuh provinsi terdampak yang mencakup 81 kabupaten/kota. Dari jumlah itu, 75.172 kasus menimpa anak usia 0–5 tahun. Balita — kelompok yang paru-parunya masih berkembang dan paling rentan. Perlu dicatat jujur: angka ini adalah akumulasi kasus di wilayah terdampak, bukan berarti setiap kasus sudah dipastikan disebabkan asap. Tapi skalanya tetap mencengangkan.
Peta perbaikannya juga belum merata. Di Kalimantan — Barat, Tengah, Selatan — kualitas udara membaik. Tapi di Sumatera, trennya belum turun merata; Riau bahkan mengalami kenaikan. “Kalau yang Sumatera masih landai dan masih agak sedikit naik,” kata Budi.
Negara merespons dengan mengerahkan logistik kesehatan besar-besaran. Kemenkes menyalurkan 1,6 juta masker — ditargetkan rampung pekan depan — dan menyiapkan sekitar 3,7 juta masker N95 dan masker bedah. Ada juga 477 “rumah oksigen” — fasilitas di puskesmas dan rumah sakit tempat warga dengan gangguan pernapasan bisa mendapatkan udara bersih dan bantuan oksigen — tersebar di Kalimantan Tengah (295), Kalimantan Selatan (127), Kalimantan Barat (35), Jambi (5), Riau (4), dan Sumatera Selatan (3). Sebanyak 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit disiagakan, plus lebih dari 2.600 tenaga kesehatan — dokter, perawat, hingga epidemiolog — dikerahkan.
Di tengah itu, Presiden Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras kepada perusahaan — termasuk asing — yang diduga terlibat dalam kebakaran: izin bisa dicabut dan konsesinya dialihkan ke generasi muda Indonesia.
Buat kita yang jauh dari titik api, berita ini mungkin terasa jauh. Tapi bayangkan menjadi orang tua di Palangka Raya atau Pekanbaru: anak batuk tak kunjung sembuh, sekolah diliburkan, dan masker menjadi seragam harian. Asap boleh menipis — kewaspadaan jangan ikut menipis. (redaksi C8)
Views: 0






