Human

Tiga Prajurit TNI AD Gugur, Helikopter Mi-17 Jatuh di Kalteng

×

Tiga Prajurit TNI AD Gugur, Helikopter Mi-17 Jatuh di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Tangkapan instagram balikpapances

Ringkasan: Tiga prajurit gugur, lima selamat dan dirawat; jenazah satu prajurit, Serda Heri Prasetyo, belum berhasil dievakuasi dari badan helikopter yang tenggelam.

Channel8.co.id, Seruyan, — Di balik angka-angka asap karhutla yang kita baca setiap hari, ada orang-orang yang terbang ke tengahnya. Rabu pagi (4/11/2026), delapan prajurit TNI Angkatan Darat naik ke sebuah helikopter Mi-17V5 untuk misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.

Helikopter itu tidak kembali seperti rencana. Ia jatuh di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan — dan tiga dari delapan kru di dalamnya gugur dalam tugas.

Misi Rabu Pagi: Dari Kuala Pembuang ke Sungai Perlu

Kronologinya, menurut keterangan Dinas Penerangan TNI AD (Dispenad) yang dikutip media, begini. Helikopter Mi-17V5 milik Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad) lepas landas dari Kuala Pembuang pukul 09.55 WIB menuju Telaga Pulang, untuk melaksanakan misi pemadaman karhutla di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Kronologi misi helikopter Mi-17 dan nasib delapan krunya. Infografis: Channel8

Sekitar pukul 11.18 WIB, saat helikopter tengah mengambil air untuk operasi water bombing — menjatuhkan air dari udara ke titik api — kecelakaan itu terjadi dan helikopter jatuh ke sungai. Penyebab kecelakaannya masih dalam proses penyelidikan, menurut Dispenad.

Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Tengah, Kombes Budi Rachmat, menyebut helikopter mengalami gangguan teknis saat melaksanakan pengambilan air untuk mendukung operasi pemadaman. Itu penjelasan polisi; kesimpulan resminya tetap menunggu penyelidikan.

Delapan Kru, Tiga Gugur, Lima Selamat

Dari delapan kru di dalam helikopter, tiga orang dinyatakan gugur: Mayor CPN Dudi Firmansyah, Lettu CPN Nurhafiz Akbar, dan Serda Heri Prasetyo. Jenazah Dudi dan Nurhafiz telah dievakuasi ke RSUD Kuala Pembuang, dan pada Kamis (5/11/2026) keduanya diterbangkan ke Semarang dengan pesawat Cassa 212 TNI AD melalui Bandara Kuala Pembuang — dilepas Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran dan Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda, yang menyampaikan turut berduka cita.

Lima kru lainnya berhasil diselamatkan dan menjalani perawatan di RSUD Kuala Pembuang: Kapten CPN Febri, Letda CPN Fercis, Pratu Gilang, Serka Kadiya, dan Kapten CPN Suganda.

Jenazah Serda Heri belum berhasil dievakuasi — menurut KSAD Jenderal Tandyo Budi Revita, ia diduga masih terjepit di dalam badan helikopter yang tenggelam; tim gabungan masih mengupayakan evakuasi sebelum mengamankan kotak hitam untuk penyelidikan.

Gubernur Agustiar Sabran bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin dan Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan bergerak menuju lokasi kecelakaan dan menemui korban selamat di RSUD Kuala Pembuang.

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Iman Sukri, mendesak Mabes TNI AD menggelar investigasi komprehensif atas insiden itu. “Kami turut berduka cita atas gugurnya dua prajurit Penerbad,” katanya.

Kenapa Cerita Ini Penting Buat Kita

Mungkin kamu bertanya: kenapa kecelakaan satu helikopter perlu jadi artikel Human? Karena ia memberi wajah pada angka yang selama ini kita baca dari jauh.

Kemenkes mencatat 401.586 kasus ISPA yang dikaitkan dengan asap karhutla di tujuh provinsi — angka yang kami tulis di edisi Kamis. Di balik angka sebesar itu ada operasi pemadaman yang berjalan setiap hari, dan ada orang-orang yang terbang rendah di atas api dan air untuk melakukannya.

Tiga prajurit yang gugur Rabu kemarin adalah bagian dari operasi itu. Mereka bukan angka. Mereka berangkat pagi dari Kuala Pembuang untuk tugas yang sebagian besar kita hanya tahu dari berita — dan tidak pulang.

Kalau kamu membaca artikel ini sambil menghirup udara yang bersih, ingatlah bahwa di tempat lain, udara itu sedang diperjuangkan — kadang dengan harga yang sangat mahal. (redaksi C8)

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Human

Konferensi Republik di Maumere menutup rangkaian 30–31 Oktober dengan pernyataan “Republik Diuji di Tanah Ini”, yang menagih negara hadir lewat layanan dasar, bukan sekadar simbol. Pesan dari Flores dan Lembata ini penting karena mengukur republik dari pengalaman warga yang paling jauh dari pusat.