Oleh : Bakarudin AK
Channel8.co.id – MENTERI PERTANIAN Andi Amran Sulaiman kembali menyatakan ketersediaan stok beras nasional mencapai 4,7 juta ton. Stok tersebut merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia dan merupakan hasil panen petani, sehingga tidak memerlukan beras import. Informasi menggembirakan. Sepanjang beberapa bulan terakhir, harga beras di pasar memang cukup stabil. Pada kesempatan lain, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan data Cadangan beras yang tersimpan di gudang Perum Bulog tersebut dipersiapkan sebagai bantalan utama menghadapi potensi kemarau panjang tahun ini. Pemerintah memproyeksikan pasokan ini cukup untuk menjaga stabilitas konsumsi masyarakat di tengah ancaman kekeringan.
Selain cadangan di gudang Bulog, pemerintah mengidentifikasi tambahan pasokan sebesar 12 juta ton pada sektor konsumsi dan restoran. Terdapat pula potensi produksi dari padi siap panen atau standing crop yang diperkirakan mencapai 11 juta ton di berbagai wilayah Indonesia. Secara akumulatif, total ketersediaan pangan tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan nasional hingga 10 bulan mendatang. Penghitungan ini melampaui durasi rata-rata fenomena El Nino yang umumnya berlangsung selama enam bulan, sehingga pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik.
Indonesia memang pernah mencapai swasembada beras pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1984. Saat itu, produksi beras di Indonesia mencapai angka sekitar 27 juta ton, dengan konsumsi beras nasional sebanyak 25 juta ton. Pencapaian ini sebagai tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan nasional, sekaligus bukti bahwa komitmen politik yang kuat dapat diterjemahkan menjadi hasil nyata dalam waktu singkat. Pencapaian tersebut membuahkan hasil penghargaan tertinggi di bidang pangan dari FAO (Food and Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan dan Pertanian, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memimpin upaya internasional untuk mengatasi kelaparan, meningkatkan ketahanan pangan, serta meningkatkan gizi. Penghargaan diterima Presiden Soeharto di forum FAO di Roma pada 1985.
Keberhasilan swasembada beras pada saat itu dicapai dengan penerapan teknologi pertanian modern, penggunaan bibit unggul, pupuk kimia, dan pestisida secara masif. Adanya program Bimbingan Masal (Bimas). Yakni, intensifikasi pertanian melalui program BIMAS, INMAS (Intensifikasi Masal), dan INSUS (Intensifikasi Khusus) untuk meningkatkan hasil per hektar. Selain itu, dilakukan pembangunan irigasi besar-besaran, peran aktif BULOG dalam stabilitas harga, serta fokus pada sektor pertanian dalam Pelita I hingga IV.
Stabilitas swasembada beras dan upaya swasembada produksi pertanian, seperti jagung, gula, kedelai, dan swasembada untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, memang harus dilakukan secara konsisten. Tidak sekedar menggelontor program secara masif, tapi juga melindungi para pelaku usaha, petani dan peternak, melalui kebijakan penyerapan hasil panen dengan harga yang bisa menguntungkan. Dalam perjalanannya, berkali-kali terjadi, para petani dan peternak mengalami kerugian pada saat panen raya, akibat berlimpahnya stok pangan di pasaran, sehingga harga menjadi anjlog. Dalam konteks ini, pemerintah harus selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Para spekulan harga harga disingkirkan. Selain itu, jangan sampai para petani dan peternak menjadi korban sistem ijon atau korban rentenir, yang mengakibatkan terjerat hutang.
Indonesia adalah negara kepulauan dan sebagai negara tropis tidak dapat terlepas dari kondisi cuaca yang terjadi di wilayah lain di dunia. Untuk itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengingatkan pentingnya melakukan mitigasi perubahan iklim yang bisa terjadi. Meski stok melimpah, langkah antisipasi tetap dijalankan guna meminimalkan gangguan distribusi jika terjadi penurunan produksi akibat cuaca ekstrem. Penguatan cadangan pangan menjadi strategi utama pemerintah agar intervensi pasar dapat dilakukan dengan cepat saat diperlukan. Pemerintah daerah untuk tetap waspada terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan. Fenomena Gozhila El Nino berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan yang dapat memengaruhi masa tanam serta produktivitas pertanian nasional.
Kekhawatiran datangnya El Nino Godzila ditepis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sepanjang 2026. Dikatakan tidak ada indikasi kemunculan fenomena ekstrem yang kerap dijuluki ‘El Nino Godzilla’. Ditegaskan hingga semester pertama tahun ini kondisi iklim global masih relatif stabil. Sampai pertengahan 2026, kondisi El Nino-Southern Oscillation atau ENSO masih berada di fase netral. Dampak El Nino di Indonesia umumnya berupa penurunan curah hujan, tetapi itu sangat tergantung kondisi suhu perairan. Jika suhu laut di wilayah Indonesia relatif dingin, dampak El Nino bisa terasa signifikan dalam bentuk kekeringan. Sebaliknya, jika perairan tetap hangat, dampaknya cenderung lebih ringan.
Pada saat ini perhatian tengah tercurah kepada konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang telah mempengaruhi kebutuhan energi di dunia. Pemerintah pun telah menaikkan harga BBM dan Gas Non Subsidi secara signifikan. Menteri Keuangan Purbawa Yudhi Sadewa pun sudah mengakui pengaruh besar kenaikan harga minyak dunia terhadap kondisi keuangan pemerintah. Defisit APBN semakin melebar, yang berpengaruh kepada pembiayaan pembangunan nasional. Untuk itulah, penting juga mewaspadai kondisi stok pangan akibat perubahan iklim.
Tidak ada kata lain mitigasi untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam harus selalu dilakukan. Bukankah bencana alam sering datang tiba-tiba? Faktor-faktor perilaku pelaku usaha, masyarakat, dan kebijakan yang tidak patuh pada ketentuan yang berlaku, bisa menjadi pemicu terjadinya bencana alam; bisa berupa banjir, kebakaran, longsor, dan kerusakan lingkungan yang membawa malapetaka, menyebabkan penderitaan rakyat dan penyelesaian yang tidak mudah bagi pemerintah di daerah dan pusat. Untuk itulah, keberhasilan swasembada di bidang pangan, harus disertai kesadaran tinggi terhadap kecintaan terhadap lingkungan hidup. Korporasi pertambangan, perkebunan, dan industri-industri, tidak bisa lagi melakukan “akal-akalan” untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa berpikir memiliki dampak negatif terhadap apa yang dilakukan. Sudah saatnya semua harus memiliki pemahaman, bahwa Indonesia memiliki generasi, yang akan meneruskan perjuangan mencapai masyarakat sejahtera, adil dan makmur. Jangan sampai mereka mewarisi kerusakan alam yang sudah dilakukan generasi-generasi sebelumnya. (BAKARUDIN AK)
Catatan Penulis :

Penulis dan Pengamat di bidang sosial, biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============





